
"Kenapa kau tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya, Inez?"
Inez menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya "Apa lagi yang perlu dijelaskan, Tuan Wiliam..? aku kira sudah cukup sandiwara mu itu, tidak usah main drama lagi, aku sudah lelah, biarkan aku hidup dengan tenang."
Inez benar-benar melangkah kan kakinya dengan cepat, meninggalkan Wiliam yang terpaku melihat kepergiannya. Taksi online yang tadi ia pesan sudah menunggunya tak jauh dari halte.
Mobil berjalan setelah Inez masuk kedalam taksi. Entahlah perasan Inez apakah senang atau tidak mendengar pengakuan Wiliam. Menyatakan cinta begitu tiba-tiba, Airmata Inez meleleh merasakan kepedihan yang pernah Wiliam torehkan, ingatan itu tidak akan pernah ia lupakan, disaat ia mencintai pria tampan beraura dingin itu. Dengan mudahnya Wiliam hempaskan dan hina dengan bentakan dan kata menyakitkan. Inez berasa bodoh mencintai seorang pria yang tidak pernah menganggap nya ada. Dia merasa minder dan bodoh karena penampilannya yang kuno dan banyak lemak ditubuhnya.
Bahkan Rangga kekasih yang ia anggap setia, ternyata berkhianat di belakangnya, berpacaran dengan sahabat inez. Semua pengorbanan Inez selama dua tahun tak ada artinya di mata sang kekasih. Dan alasan Rangga berselingkuh karena Inez tidak bisa menjaga penampilan. Alasan yang mengada-ada bukan?"
Namun kini setelah ia berubah menjadi cantik, semua laki-laki mengejar dan menginginkan nya, bahkan Rangga dengan berbagai cara Ingin kembali pada Inez. Mereka hanya melihat Inez sekarang, tapi tidak melihat perjuangannya. Dia bukan hanya menurunkan lemak dengan cara sedot lemak, namun olahraga dan fitnes ia lakukan setelah pulang dari kantor, makanya tubuhnya terlihat seksi dan slim. Mengurangi makan malam dan diet ketat. Wajah yang katanya operasi itu tidaklah benar. Aslinya Inez berwajah cantik, Namun kurang perawatan dan tidak percaya diri, cantiknya tertutupi pipinya yang gembul. Setelah wajahnya ia tarik benang, dan perawatan ke salon setiap dua minggu sekali. Menambah kinclong wajah dan penampilan Inez terlihat elegan dan berkelas.
"Lalu apa yang salah dengan dirinya? semua orang juga bisa melakukan semua itu. Hanya orang-orang julid yang iri dengan prestasi dan penampilan nya.
Taksi sudah berhenti di depan gapura. Inez turun setelah membayar taksi. ia melangkahkan kakinya masuk kedalam gang kecil menuju rumah Lupita.
Setelah membuka pintu, Inez merebahkan tubuhnya diatas sofa. "Lelah!" gumamnya pelan. ia bukan hanya lelah hati, namun pikirannya ikut terbawa suasana tegang. Inez memejamkan mata dan terlelap.
Entah sudah berapa lama ia tertidur di Sofa. Ia membelalakkan matanya kala mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Ya ampun ini sudah jam berapa?" Inez melihat jam dinding yang menggantung. "Jam setengah enam? ia masih mengumpulkan sisa kesadaran nya setelah bangun tidur.
Tok! tok! tok!
"Tumben ada tamu? siapa yang datang. Wiliam kah? hanya dia dan Tuan Georgie yang tahu rumah ini. untuk apa dia kemari? bukakan apa nggak ya..?" Inez terus berfikir
"Mbak Inez ada tamu!" teriak tetangga sebelah rumah, mungkin suara ketukan nya mengganggu tetangga. Inez yang malas akhirnya membukakan pintu.
"Ceklek! ceklek!
KREKK...
"Sore sayang...."
"Kau...??? bola mata Inez membulat sempurna.
"Darimana kau tahu tempat tinggal ku!'
"Apa begini cara tuan rumah terhadap tamu yang datang."
"Karena tamu seperti mu tidak pernah ku undang!" tangan Inez hampir menutup pintu, Namun tangan kekar Pria itu menahannya.
"Biarkan aku masuk! jangan sampai tetangga melihat kau kasar pada tamu."
"KAU...!!" mata Inez melotot, dengan terpaksa Inez melebarkan pintunya dan membiarkan Pria berengsek itu masuk.
Pria itu duduk di sofa tanpa di suruh.
"Dari mana kau tahu rumah ku, Rangga!" tanya Inez sambil melipat kedua tangan didada.
"Apa itu penting? sebaiknya duduk lah, kita bicarakan baik-baik."
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?"
"Banyak hal...ku harap kau mau mendengarkan nya.."
Pada akhirnya Inez duduk di sofa tunggal sebelah kanan. "Setelah kau selesai bicara, secepatnya pulang lah, aku tidak ingin jadi gubahan tetangga, aku tinggal disini sendri." ucap inez dingin.
Rangga mendesah penuh "Apa seorang tamu datang tidak di suguhi apa-apa, walau itu hanya secangkir kopi?" sindiran Rangga membuat Inez berdecih. Akhirnya ia berdiri dan berjalan kearah dapur.
Rangga tersenyum melihat Inez datang dengan secangkir kopi dan menaruh didepan nya. Aroma wangi kopi hitam menyeruak di hidung Rangga. Itu adalah kebiasaan Inez menyuguhkan secangkir kopi hitam kesukaan Rangga, saat pria maskulin itu datang ke kontrakannya dulu, bahkan mengerjakan tugas kuliah bersama, Inez selalu perhatian dan kopi buatannya selalu menjadi candu buat Rangga.
"Rasanya pas seperti buatan mu dulu, tidak ada yang berubah." Rangga berucap setelah meyerumput kopi panas yang Inez suguhkan.
"Semua kopi rasanya sama tidak ada yang berbeda. jangan lebay Mas..." cetus Inez.
"Baiklah, aku datang kemari Ingin bicarakan sesuatu. Aku harap kau mau mendengarkan dan memberi aku kesempatan."
Seketika wajah Inez merah padam, ia menoleh dan menelisik wajah mantannya itu, pria yang sudah menorehkan luka teramat dalam.
"Apa maksud mu kesempatan."
"Ayah ku, sedang masa kritis. Setelah dia tahu kita berpisah dua tahun lalu..."
"Ralat mas, bukan berpisah. Tapi kau yang membuang ku seperti sampah!" ceteluk Inez.
"Aku minta maaf inez.. Ma'afkan aku, apapun akan aku lakukan asal kau mau memaafkan aku.."
Inez membuang wajahnya kedepan.
Seketika wajah Inez sedikit mendung. ia tahu betapa Ayahnya Rangga sangat merestui hubungannya dan juga menyayangi dirinya. Bahkan pengobatan operasi jantungnya hasil dari kerja keras Inez saat kuliah menyambi kerja paruh waktu. Tapi dasar anaknya berengsek dan tidak pernah melihat ketulusannya.
"Akan aku usahakan menemui Ayahmu. Dimana rumah sakitnya."
"Terima kasih Inez, kau masih sudi menemui Ayahku. akan aku kirim kan alamatnya."
"Aku melakukan hanya untuk Ayahmu, karena Ayahmu masih menganggap ku manusia bukan sampah!" sindir Inez sangat menohok.
Rangga yang tertunduk mengangkat wajahnya dan menatap dalam wajah Inez "Apa kau masih belum bisa memaafkan ku Nez? Dan ayahku masih berharap kita bisa menjalin kembali hubungan yang telah terputus."
Inez tersenyum sinis "Aku sudah memaafkan mu sebelum kau meminta maaf padaku, bukankah sebagai manusia yang baik, harus bisa memaafkan. walau begitu sakit luka yang kau torehkan."
Rangga menarik nafas dalam-dalam dan di hempaskan perlahan, sedikit ragu untuk mengutarakan kembali "Hem.. kau belum Jawab pertanyaan ku. Apa kita masih bisa menjalin hubungan kembali, aku bersumpah akan setia padamu dan secepatnya kita menikah. Kini aku sadar kau sangat berarti dan beda dari wanita lain, ketulusan hanya ada padamu."
"Maaf Rangga, Aku memaafkan mu bukan berarti harus kembali menjalin hubungan lagi. biarkan takdir Allah yang menentukan."
Hening....
Terdengar suara azan magrib berkumandang.
"Sudah magrib Mas, aku mau bersih-bersih dan sholat."
"Baiklah, aku pulang dulu, ku harap kau mau menemui Ayahku, sudah aku kirim kan alamat dan ruangan rawat inap nya.
__ADS_1
Inez hanya mengangguk dan menutup pintu setelah Rangga menghilang dari pandangan.
Seperti biasa Inez menikmati nasi goreng buatannya sebelum berangkat kerja. Meraih tas dan tugas pekerjaannya yang tertunda.
"Bismillah... semoga hari ini di lancarkan dan aku harus kuat bila mereka bully lagi." Inez memberi semangat pada diri sendiri.
Motor scupy kesayangan nya melaju dengan kecepatan normal. Hanya 45 menit, motor masuk kedalam gedung perkantoran Vandeles.
Inez melangkah dengan pasti menuju ruangannya. Saat didepan pintu ia membuka handle dan masuk kedalam tanpa menoleh pada siapapun. Masih ada waktu 15 menit lagi jam kerja di mulai. Inez menyalakan komputer dan memasukkan data. Ia mulai berkutat tanpa peduli pada mereka yang terlihat diam, tidak adalagi suara sindiran atau hinaan yang biasa ia dengar. Aneh, semua diam dan fokus pada kerjaan masing-masing.
"Apa asisten Wiliam yang membuat mereka bungkam?" bukankah kemaren dia menelpon seseorang di depanku, untuk mencari si propokator? Ahh... kemaren aku hampir lupa bertanya pada Rangga tentang penyebaran Vidio yang viral di sosmed."
Sebuah pintu ruangan tergeser. Masuk Ibu Hesti kepala bidang Desain, dengan raut wajah cemas. "Silakan semua keluar! kalian di tunggu Asisten Wiliam di Aula."
Seketika semua saling bersitatap dan terlihat wajah mereka muram. Satu persatu meninggalkan ruangan termasuk Inez yang terlihat bingung.
"Apa yang akan Tuan Wiliam rencanakan pada mereka...?" gumam Inez dalam hati.
💜
💜
💜
@Masih Bersambung....
__ADS_1