Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kehadiran Della.


__ADS_3

Harlan mencium tangan wanita paruh baya itu lembut "Mak, ma'afkan aku, sebenarnya aku sudah memiliki seorang istri, dia wanita baik dan sederhana. Hatinya secantik wajahnya." gumam Harlan dalam hati, tersungging senyuman terbit di bibirnya.


"Ya sudah, kau bersiaplah. jemput Della anak Bibimu, sebentar lagi Della sampai di terminal.


"Iya Mak, aku mandi dulu."


Harlan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Melepas pakaian dengan cepat dan masuk kedalam kamar mandi.


Memilih pakaian cansual karena untuk menjemput Della tak perlu pakaian formal. Sebenarnya Harlan malas untuk menjemput Della, padahal ada dua supir pribadi di rumahnya. Mak tinggal menyuruh mereka yang jemput kan beres. Tapi karena Mak yang meminta langsung dan setengah memaksa. Harlan tidak membantah lagi.


"Harlan sarapan dulu, Mba murni sudah masak pagi-pagi sekali." imbuh Mak Isah, saat melihat Harlan sudah turun kebawah.


"Ko tumben Mba murni yang masak, bukanya Mba murni ikut Pak Ali pulang kampung?


"Mak yang menelpon kemaren untuk balik lagi ke sini, sekarang kondisi Mak kan mulai menurun dan sakit-sakitan."


"Dari awal kan Harlan sudah bilang sama Mak, jangan disuruh pulang Mba murni ke kampung, kita masih memerlukan tenaganya untuk masak didapur dan beres-beres rumah." ujar Harlan seraya menarik kursi makan.


"Bukan Mak tidak ingin dia tinggal disini, tadinya Mak kesal, si murni minta naik gajih terus, tapi kalau Pak Ali suaminya yang tukang kebun nggak neko-neko, dia cukup tau diri."


"Ya sudah Mak tidak apa-apa, kita naikan saja gajih nya yang terpenting ia bekerja dengan sungguh-sungguh dan Mak tidak usah capek-capek mengurus rumah." tangan Harlan masukan nasi goreng telor ceplok kedalam mulutnya


'Kita mau naikin gajih berpa lagi land, gajih si murni sebagai seorang pembantu 4 juta."


"Kasih ajah 5 juta Mak, hitung-hitung bantu anaknya yang sedang kuliah."


"Ya sudah terserah kamu ajalah."


"Ya sudah Mak, aku berangkat dulu ya." Harlan mengambil air putih didepannya dan meneguk nya sampai habis. Mengambil serbet mengelap bibirnya.


"Tuan! suara Wiliam berada di belakang punggung Harlan.


"Mak, aku pamit." mencium punggung tangan Mak isah.


Wiliam mengikuti langkah Harlan sampai teras.


"Will, aku pergi dulu. kau yang menghadiri meeting bersama sekertaris itu. pulangnya aku langsung ke kantor."


"Siap Tuan!


"Oiya Will satu lagi, kau kirim makan siang untuk istriku seperti biasa. Dan kau selidiki Pria yang sering mengajak istriku ngobrol."


"Kurasa Obrolan mereka masalah pekerjaan."


Tiba-tiba Harlan menatap tajam mata Wiliam. kalau sudah seperti itu Will paham, ia tidak akan berani membatah tuannya.


"Ba-ik Tuan, saya akan menjaga Nona."


"Harlan masuk kedalam mobil, Pak Basir mengemudikan mobil, melewati pintu gerbang yang menjulang.


"Uhh! William bernapas lega sambil mengusap dahinya berkeringat.


"Nona Lupita, kau sungguh beruntung mendapatkan cinta Tuan bodoh ku itu! padahal banyak wanita berkelas dan anak pejabat menyukainya. jangankan untuk memilikinya, Tuan mudaku itu sangat sedikit berbicara bila berhadapan dengan wanita, yang sudah pasti cantik dan seksi. Apalagi tidak pernah tuanku memandang wanita lama.Tapi denganmu, aku melihat dari matanya, la sedang jatuh cinta. baru ada teman laki-laki yang sekedar dekat denganmu saja ia sudah mencurigai. William gelengkan kepala seraya berdecak.

__ADS_1


"Nak Wili...? suara Mak isah, membuyarkan lamunannya.


"Iya Mak! ada yang bisa saya bantu?


"Cepatlah kau sarapan pagi dulu, bukankah kau sebentar lagi akan berangkat ke kantor?


"Iya Mak! sepertinya aku tidak makan dulu, karena pagi ini akan ada meeting. Tadi aku suka minum secangkir kopi buatan Mbak murni, kalau begitu saya permisi dulu."


"Baiklah hati-hati di jalan."


William masuk kedalam mobil, meninggalkan kediaman tuan nya.


******"


Mobil Harlan sudah berhenti di sebrang terminal. Pak Basir menawarkan diri untuk menjemput Della kedalam terminal. Dan di setujui oleh Harlan. Masa bos besar disuruh menjemput sampai kedalam terminal yang penuh sesak. Sungguh Pak Basir tak tega dan memang kurang pantas.


"Biar saya saja yang masuk kedalam terminal, Tuan didalam mobil saja."


"Beneran nih Pak, tidak apa-apa kan?


"Tidak apa-apa Tuan, ini sudah tugas saya bekerja ditempat, Tuan."


"Akan saya kirimkan foto nya." Harlan mengeluarkan ponsel dan mengirimkan gambar foto Della.


Pak Basyir keluar dari mobil dan menyebrang menuju terminal.


Didalam mobil Harlan terus memandangi wajah Lupita yang ia curi sedang memasak. wajah aslinya masih terlihat cantik walau tanpa make-up diwajahnya.


"Kenapa setiap hari aku sangat rindu padamu Lupi. Entahlah perasaan apa ini namanya? sedang sikap Lupi padaku masih biasa saja, tidak ada tanda ia memiliki perasaan yang sama dengan ku?


Tok, tok, tok... tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil dari luar, membuyarkan lamunan Harlan. ia segera membuka pintu. Berdiri seorang wanita manis bersama pak Basir.


"Kak Harlan! panggilnya. Membuat Harlan tersentak, dan menatapnya. "Apa kau Della?


"Benar kak, aku Della? apa kakak sudah lupa dengan wajah ku? dulu kita sering main petak umpet bukan? dan ngaji bareng kerumah pak ustadz Yusuf.


"Iya aku ingat semua itu Dell, tidak mungkin kakak lupa. tapi wajah mu sedikit berubah." ujar nya seraya tersenyum. Ayo masuk."


Della masuk kedalam mobil mewah itu. Pak Basir menaruh tas koper dan berbagai macam makanan yang di bawa Della untuk Mak Isah, kedalam bagasi.


Mobil berjalan menuju rumah Harlan.


"Bagaimana kabar Mak, Kak? sudah lama kami berpisah, Empa tahun sudah tidak bertemu Mak tua."


"Alhamdulillah sudah baikan. Mak baru saja pulang dari rumah sakit."


"Iya kak, waktu di rumah sakit Mak tua telpon ibu, katanya Mak sedang sakit. makanya aku disuruh ke Jakarta untuk mengurus Mak tua yang sedang sakit."


"Baguslah, kalau ada kamu, Mak ada temannya dan tidak kesepian lagi."


"Iya Kak! Della begitu senang, ternyata ia bisa diterima di rumah Harlan, tentu saja dengan dorongan Mak isah. Della terus menatap Harlan tanpa berkedip, saat ini Harlan sedang berbicara di telepon.


"Kak Harlan begitu tampan. Sangat berbeda saat di kampung empat tahun yang lalu. Dulu penampilannya sederhana dengan pakaian ala kadarnya, rambut gondrong tak terurus. Tapi sekarang? berbeda 180 derajat. Bukan hanya tampan dengan jambang dan brewok di rahangnya, tapi tubuh kak Harlan sangat wangi. Ya Tuhan kenapa dadaku berdebar cepat begini, dulu melihat kak Harlan biasa saja, kami sering main bersama di kebun dan mengambil singkong untuk di bakar. Usia ku memang terpaut sepuluh tahun, sekarang aku 19 tahun, dan kak Harlan 29 tahun, sejak kecil kita memang di besarkan bersama, Mak Isah adalah kakak dari ibuku."

__ADS_1


"Haii.. kenapa kau senyum-senyum sendiri? apa ada yang aneh dengan ku? tanya Harlan, seraya memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


Della tersentak saat suara khas Harlan bertanya padanya. "Aku hanya mengingat saat dulu kita main di kebon bersama, mencuri singkong milik Paman jaka karena kelaparan."


Kau masih mengingat itu kah? Harlan terkekeh. "kita terpaksa mengambil singkong itu, saat itu kita kesasar bukan? tapi Mak ku sudah minta maaf pada Paman jaka."


Tak terasa mobil mereka sudah sampai di depan pintu gerbang. Setelah satpam membuka pintu. Mobil terparkir dengan sempurna.


"Ayo turun lah! perintah Harlan.


Mak isah sudah berdiri didepan teras sambil melempar senyum pada Della.


"Mak tua..." Della berlari kecil dan langsung peluk Mak isah.


"Della, akhirnya kau datang dengan selamat." mereka mengendurkan pelukannya.


"Mak, ada salam dari ibu. Dan ibu mengirim banyak oleh-oleh untuk Mak."


"Kenapa adikku selalu merepotkan."


"Mba Murni, tolong sediakan makan untuk keponakan ku yang baru datang."


"Iya, Bu.."


"Pak Ali, tolong bawa masuk barang-barang Della."


"Baik Bu.."


Harlan menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia mengganti bajunya dengan pakaian kantor, dan turun kembali ke bawah.


"Mak! aku harus segera berangkat ke kantor sekarang."


"Harlan, kau tidak makan siang dulu, bersama Della."


"Nanti saja Mak, aku sangat buru-buru. masih banyak pekerjaan belum selesai di kantor."


"Ya sudah, pulanglah cepat pada waktunya, agar kita bisa makan malam bersama."


Harlan hanya mengangguk pelan, dan berjalan pergi menuju teras. Mobil Harlan sudah pergi.


"Wah ternyata kak Harlan orang kaya raya dan rumahnya sangat mewah. Tadi saat ia memakai jas kerja, sungguh sangat tampan, Auranya berbeda saat memakai kemeja kotak-kotak tadi." imbuhnya dalam hati.


"Della, ayo Mak tunjukkan kamar mu, kau istirahat dulu baru makan siang."


Della bergelayut manja seraya merangkul Mak isah. "Iya Mak!"


🌸


🌸


🌸


🌸 Bersambung......

__ADS_1


@Jangan semua yang suka atau deket dengan Harlan di bilng Pelakor. skip ajah kalau gak suka! nama juga dunia halu.. santai ajh bacanya, Maaf jangan bikin serba salah penulis jadi mau berkarya terbatas!


__ADS_2