
"Will, ma'afkan aku.. hiks, aku harus apa sekarang? aku bingung dan dilema." batin Inez lirih.
"Aku akan mengantarkan mu pulang."
"Tidak usah! kau temani saja Ayah dan Ibu mu. aku akan naik taksi."
"Ini sudah malam, jangan menolak."
Inez menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, moodnya sedang tidak baik saat ini, ia masih terus menimbang apakah keputusannya salah? tidak ingin berdebat lagi dengan Rangga ia menurut saja.
Didalam mobil Inez hanya terdiam, pikirannya masih terus kemana-mana.
"Kenapa diam hemm..."
Inez gelengkan kepala, ekspresi nya terlihat murung dan tak bergairah, hanya terdengar helaan nafas pendek beberapa kali.
"kita ke restoran dulu, kau belum makan dari sore tadi, jangan dibiasakan perut lapar nanti sakit magh!"
"Jangan sok tahu kalau nggak tahu!" ucap Inez kesal "Kata siapa belum makan?
"Jelas aku tahu semua tentangmu Inez, kau dari dulu tidak kuat lapar dan selalu banyak ngemil, akupun tidak pernah membatasi mu makan apa saja."
"Itu dulu! Sekarang berbeda! andaikan saja dulu kau lebih perhatian dengan pola makan ku, dan melarang banyak makanan yang masuk kedalam tubuhku, pasti aku tidak gendut dan kau tidak membuang ku ke tong sampah! sindir Inez dan berdecih.
"Sudah donk sayang, kau jangan inget itu lagi, sekarang sudah berbeda, Kapan kau bisa move on?
"Tidak semua hal bisa di lupakan Rangga! kaum perempuan selalu pakai perasaan dan hati, makanya tidak akan bisa melupakan kejadian masa lalu, tidak dengan laki-laki selalu pakai keegoisan tanpa memikirkan perasaan wanitanya!"
"Jadi kau masih belum memaafkan ku?
"Memaafkan sudah, tapi untuk melupakan aku belum bisa! cetus inez.
Rangga menyugar rambutnya frustasi. Dia harus bagaimana lagi untuk meyakinkan hati Inez kalau ia sudah berubah dan sungguh-sungguh berubah.
Tak terasa mobil Rangga sudah berhenti di depan gapura. Saat Inez mau turun, Rangga menarik tangan Inez dan ingin menciumnya, dengan cepat Inez menjauhkan wajahnya. "Tidak perlu!"
"Kenapa? bukankah kau sudah menerima ku?"
Inez mendesah pelan "Sudahlah Ga, aku harus turun ini sudah malam. Terima kasih udah mengantarkan ku!" ucapnya dan turun dari mobil
Rangga hanya menatap nanar kepergian Inez, ia tahu Inez tidak sungguh-sungguh menerima dirinya, terlihat terpaksa demi Ayahnya. "Sampai segitunya kau membenciku Nez, apakah tidak ada tempat lagi di hatimu? aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu kembali."
*
Inez merebahkan tubuhnya diatas kasur setelah mandi dengan air hangat. Ia mengambil gawainya setelah selesai di cash. Melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Wiliam.
"Apa yang harus aku katakan pada Wiliam? sudah pasti ia akan kecewa setelah aku berterus-terang akan meninggalkannya. Huft! Apa yang sudah aku lakukan? tadi aku tidak benar-benar menerima Rangga, aku hanya malu melihat kelakuan dia yang bersimpuh, ada saja orang yang mengambil keuntungan dengan merekam adegan tadi.
"Demi Allah aku bingung? aku harus apa..? tetesan airmata sudah berjatuhan di bantal. Dadanya terasa sesak "Bila sudah begini, aku tidak akan bisa konsentrasi bekerja, apa lebih baik aku tidak memiliki salah satu dari mereka, agar hidup ku tenang, dengan begitu Rangga tidak memaksa aku untuk menikah. Lalu bagaimana dengan nasib Bapak nya Rangga, Kalau tahu aku menolak anaknya?
__ADS_1
"Pusiiiing!!! pusiiiiing!!!..... Inez menjambak rambutnya agar hilang rasa dilema nya. Karena kelelahan akhirnya ia tertidur pulas.
*
Alfonso dan Margaret sudah sampai di depan pintu gerbang mansion milik Harlan. Mobil masuk dan terparkir di pekarangan. Rumah bercat putih itu terlihat mewah berstruktur gaya Eropa dengan pilar-pilar tinggi menjulang.
Mak isah menyambut kedatangan Alfonso dan mempersilakan untuk masuk.
"Silakan Tuan Alfonso." sambut Mak Isah ramah.
"Kenalkan ini Margaret calon istrinya Georgie."
Seketika Mak isah terperanjat kaget, sejak kapan Alfonso menjodohkan Harlan dengan wanita cantik itu, bahkan dirinya pun tidak tahu? sedangkan Harlan sudah menikah dengan Lupita. "Berarti Alfonso belum tahu kalau Harlan sudah menikah? gumamnya dalam hati.
"Kenapa bengong? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alfonso, ia menautkan kedua alis tebalnya.
"Tidak ada Tuan, silakan duduk.
Mak Isah mengulas senyum pada Margaret "Mari silahkan duduk Nona Margaret, senang bertemu dengan anda."
"Terima kasih Bu, saya juga senang bertemu dengan ibu Asuh kak Georgie." balas Margaret tersenyum lebar.
"Kalau begitu saya permisi keatas dulu Tuan, bila ada yang di butuhkan lagi, panggil saya kembali."
"Baiklah..." Oiya dimana Goergie?
"Tuan Goergie tidak pulang ke rumah ini, dia kadang pulang ke villa nya."
Wiliam dan Mak isah saling menatap. Mereka tidak ingin berterus-terang kalau Harlan sudah menikah, sebelum Harlan sendiri yang bilang pada Alfonso dan Margaret.
Wiliam sudah berada didalam kamar, Alfonso berbicara dengan Mak isah di sebuah Gazebo di halaman belakang dekat kolam renang.
"Kalau Tuan Ingin bicara empat mata silakan di sini, tidak ada yang mendengar."
Mereka berdua duduk di dalam Gazebo yang berlantai kan kayu jati berwarna coklat tua.
"Saya bicara sebuah pengakuan. Dan saya tidak tahu apakah Goergie sudah pernah cerita atau belum pada kau Isah." Alfonso menyembut nama pada Mak isah, karena umur mereka terpaut lima tahun. Usia Mak isah 45 tahun, sedang Alfonso 50 tahun.
"Pengakuan Apa Tuan?"
Alfonso mendesah panjang "Aku adalah Ayah biologis Georgie Vandeles."
"Ap-apa...?! mata Mak Isah terbelalak "Bukankah Ayah kandung Georgie tuan Alfredo? kenapa bisa...
"Tentu saja bisa.. karena Engelika adalah kekasih ku yang sudah di rebut kakak' ku Alfredo. Engelika tidak pernah hidup bahagia setelah menikahi kakak ku, dan ia selalu hidup kesepian karena Alfredo sering bertugas keluar kota selama berbulan-bulan. Hingga kami melakukan hubungan terlarang dan Engelika hamil anakku, Namun Alfredo tidak pernah curiga kalau anak dalam kandungan Engelika adalah anak ku."
"Jujur saja tuan saya sangat kaget dan terkejut. karena saya mengenal Nyonya Engelika saat Goergie berusia lima tahun, menggantikan adikku yang pertama kali bekerja di sana sebagai asisten rumah tangga."
"Oiya bagaimana kabar Ratih, sudah lama aku tidak pernah melihatnya."
__ADS_1
"Setelah memutuskan menikah dengan kekasihnya orang Yordania, Ratih tidak pernah pulang ke kampung halamannya, paling sesekali hanya telponan."
"Tuan.. Apa Goergie sudah tahu kalau tuan Ayah biologis nya?"
"Sudah! tapi Georgie tidak pernah mau mengakui aku Ayah kandungnya." Alfonso terkekeh "Sepertinya Goergie masih sangat membenci ku!
"Mungkin, Georgie perlu waktu untuk menerima Tuan Ayahnya."
"Aku berterima kasih kau sudah menjaga anak ku Isah! aku akan berikan apapun yang kau pinta."
"Aku tidak minta apapun tuan, karena aku sudah menganggap Goergie anakku sendiri, aku ada bersamanya dari usia Georgie lima tahun hingga sekarang berusia 31 tahun.
"BYUURRR..
Tiba-tiba ada seseorang masuk kedalam kolam renang.
"Siapa yang berenang malam-malam begini? tanya Alfonso.
Mak isah turun dari gazebo dan berjalan kearah kolam renang.
"DELLA!! pekik Mak Isah. "Kau pasti habis mabok lagi ya? dasar anak tengik, makin hari otak mu semakin sakit.
Mak Isah memanggil Pak Basir untuk menarik tubuh keponakan nya yang mulai oleng keatas.
"Siapa gadis itu?" tanya Alfonso.
"Dia Della keponakan ku!"
Pak Basir mulai menarik Della ketepian. "Cepat naik! perintah Mak isah. setelah Della sudah berada di pinggir kolam ia melihat pria bule yang masih terlihat bugar dan tampan.
"Mas Harlan? kakak ada di sini? menatap Alfonso dengan tatapan senang.
"Dimana Harlan? tanya Mak Isah.
"Ini kan Kak Harlan?! Della beranjak dari duduknya dan memeluk erat tubuh kekar Alfonso. "Kak aku sangat rindu sama kakak! Alfonso yang tersentuh tubuh basah Della menelan salivanya "Glek! di mata Alfonso Della terlihat seksi dan cantik, lekuk tubuhnya terlihat berbentuk dengan baju basah melekat indah.
"Della apa-apaan kau ini! Mak isah menarik tangan Della untuk menjauh dari Alfonso. "Ma'afkan keponakan saya Tuan, dia sering mabok dan pulang malam akhir-akhir ini."
"Tidak apa-apa, biarkan dia mandi dan istirahat."
"Baju Tuan juga basah, lebih baik ganti di kamar Harlan. saya bawa keponakan saya dulu ke kamar." Mak Isah menarik Della menuju kamarnya.
"Gadis itu cantik juga, Kenapa jantung ku jadi berdebar saat ia memelukku tadi. Perasaan apa ini namanya, tidak mungkin aku jatuh cinta lagi kan?." hahahaha... Alfonso terbahak menertawakan dirinya sendiri.
π₯
π₯
π₯
__ADS_1
@Banyak banget komen yang membenci Inez. padahal ini cuma dunia halu.. dan keputusan inez belum final. Kalau ada yang komen udah bosen, males baca, kaya sinetron, konflik terus dan sebagainya... ya udah nggak usah di baca. gitu ajah repotπ€¦ββοΈ daripada mood anda jelek setelah membaca novel iniπ. Tujuan Bunda buat novel buat hiburan semata bukan buat di hujat,, oke BESTie...ππ
@Bersambung.....