
Markas.
Zain dan Cahaya sudah berada di depan ruang rawat Dimas, yang mana Riki juga sedang menjaga Dimas.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Zain langsung membuka pintu ruang rawat Dimas.
Crekkk... suara pintu terbuka.
Zain dan Cahaya langsung masuk dan di ikuti oleh Lusi.
"Bos" Ucap Riki.
"Hmm, bagaimana kabar Dimas?" Tanya Zain
"Alhamdulillah sudah lebih baik bos, tadi juga sudah jalan jalan ke luar" Jawab Riki
"Alhamdulillah"
Cahaya mendekat ke arah Dimas yang terbaring di atas kasur tersebut.
"Kak Riki, kok Kak Dimas tidur?" tanya Cahaya.
"Oh itu tadi habis minum obat, karena efek nya"
"Oh gitu, ya sudah deh"
Setelah beberapa percakapan, Zain dan Cahaya masih tetap berada di ruang rawat Dimas, sedangkan Riki keluar bersama Lusi karena Riki ingin bermain dengan si kembar yang berada di ruang pribadi milik Zain.
Setelah kepergian Riki dan Lusi, tiba tiba HP nya Cahaya berdering...
Drttt drtttttt...
"Assalamualaikum yuk" Ucap Sarah dari seberang telepon
"Wa'alaikumussalam"
"Yuk, Abang Dimas baik baik saja kan?" Tanya Sarah to the point.
"Hmmm, baik saja kok"
"Ayuk jangan bohong, karena Sarah punya pirasat yang tidak enak terhadap bang Dimas"
"Bagaimana dengan ujian nya?" Tanya Cahaya untuk mengalihkan percakapan
"Alhamdulillah sudah selesai yuk, bagaimana yuk kabar bang Dimas?" Tanya Sarah lagi.
Cahaya melirik ke arah Zain agar di bantu menjawab pertanyaan dari Sarah tersebut.
Namun Zain hanya diam saja tanpa respon
"Yuk" Panggil Sarah lagi.
"Iya, tapi ingat ya setelah Ayuk kasih tau jangan bilang ke Ayah dan Ibu. " Ucap Cahaya
"Iya yuk, Sarah nggak kasih tau Ayah dan Ibu,"
"Baiklah, kita pindah ke VC aja" Ucap Cahaya
Akhirnya yang awalnya hanya telpon sekarang sudah beralih ke VC.
"Nah, sekarang siap kan, ayuk lihatkan kondisi kak Dimas" Ucap Cahaya sambil mengalihkan camera belakang.
Sarah di sebrang telpon langsung meneteskan air mata melihat orang yang sangat di cintanya terbaring di atas kasur dengan infus di tangan nya.
"Ayuk itu bukan bang Dimas kan?" Tanya Sarah dengan nada gemetar.
__ADS_1
"Itu kak Dimas, tapi kak Dimas hanya tidur sekarang dan kondisi nya juga sudah lebih baik" Ucap Cahaya
"Tapi kenapa bang Dimas bisa seperti itu yuk?"
Pertanyaan dari Sarah membuat Dimas yang terlelap dalam tidur langsung terbangun.
Dimas perlahan membuka matanya karena merasa terganggu karena suara yang tidak asing baginya.
"Bos, Cahaya" Ucap Dimas
Zain melihat ke arah Dimas yang sudah bangun.
"hmm, bagaimana kabar nya?" Tanya Zain
"Alhamdulillah bos sudah lebih baik"
Zain tersenyum mendengar ucapan dari Dimas.
Sedangkan Cahaya masih VC dengan Sarah.
"Yuk itu suara bang Dimas"Ucap Sarah.
"Iya kak Dimas sudah bangun"
"Yuk, Sarah pengen ngomong sama bang Dimas"
"Ya sudah, ni Ayuk kasih HP nya"
"Terimakasih yuk"
"Sama sama"
Cahaya menyerahkan HP nya pada Dimas, setelah itu Cahaya dan Zain langsung keluar dari ruang rawat Dimas. Memberikan waktu mereka berdua berbicara.
"Abang jahat, kenapa tidak bilang jika abang sakit" Ucap Sarah.
"Abang apa yang sakit?"
"Hanya tangan, dan juga sudah lebih baik kok, jadi jangan khawatir lagi ya"
"Bagaimana tidak khawatir, Abang biasanya jika kasih kabar ada VC nya, nah ini hanya wa aja"
"Maaf Sayang, Abang tidak ingin kamu melihat Abang seperti ini"
"Seperti apa?"
"Ya begini cacat karena tembakan itu"
"Abang karena itu Abang harus bicara sama Sarah, biar Sarah tidak khawatir"
"Ya Sayang, sekali lagi maafkan Abang, dan untuk jalan jalan nya di tunda lagi"
"Tidak apa-apa yang penting abang sehat dulu, toh sebentar lagi juga akan bisa jalan jalan. apa lagi sudah halal"
"Terimakasih Sayang kamu sangat mengerti"
"Sama sama bang, tapi apa boleh Sarah yang merawat abang?"
"Abang sangat ingin Sayang, tapi Abang tidak ingin merepotkan mu. Dan Juga bagaimana dengan persiapan untuk acara kita, jika kamu di sini?"
"Benar juga ya, ya sudah Sarah bantu doa aja"
"nah gitu Sayang, Oh ya bagaimana ujiannya?"
"Alhamdulillah bang lancar"
__ADS_1
"Alhamdulillah, Sayang untuk kabar abang seperti ini jangan bilang ke Ayah dan Ibu ya, "
"Ya Bang, Sarah nggak akan kasih tau Ayah dan Ibu"
"Sayang, kamu sangat menggemaskan"
"Ih Abang, Ya Sudah dulu ya, Sarah masih ada yang mau di kerjakan"
"Ya sudah Sayang, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Setelah beberapa percakapan tadi, Dimas dan Sarah sudah.
Karena Dimas Sudah bisa tidur lagi, Dima beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan keluar dari ruang rawat tersebut dan untuk infusnya di bawanya.
Dimas juga sudah mengira jika Zain dan Cahaya pasti membawa kembar, tidak mungkin di tinggal di mension. Jadi Dimas memutuskan untuk ke ruang pribadi milik Zain.
Di ruang pribadi milik Zain
"Hubby, Cahaya sudah sangat lama tidak ke kampus, apa Cahaya sudah bisa kembali ke kampus?"
"Terserah kamu Sayang, hubby tidak melarang tapi bagaimana dengan kembar?"
"Nah itu by, Cahaya tidak tega ninggalin kambar, apalagi kita tidak ada baby sitter"
"Apa mau memperkerjakan mereka?"
"Tapi Cahaya tidak bisa mempercayai orang lain by untuk menjaga kembar"
"Ya sudah Nanti Tina, dan Satu maid yang biasa membantu menjaga Kembar di alihkan menjadi Baby sitter nya kembar Gimana?"
"Boleh by, oh ya Apa bisa Cahaya kuliah Sambil bawa kembar?"
"Boleh Sayang, nanti hubby atur beberapa Mafioso juga yang menjaga kembar ketika kamu di kelas bagaimana?"
"Boleh by, terimakasih banyak Hubby"
"Sama-sama Sayang"
Tiba-tiba ruang pribadi milik Zain di ketuk dari luar. Zain membuka pintu tersebut dan ternyata Dimas yang ada di depan pintu.
"Dim, kenapa di sini?" Tanya Zain
"Ini Bos mau mengembalikan HP Cahaya, dan juga mau ketemu kembar"
"Oh gitu, ya sudah masuk"
"Baik bos"
Dimas akhirnya masu ke dalam ruang pribadi milik Zain tersebut.
"Terimakasih Cahaya" Ucap Dimas sambil menyerahkan HP milik Cahaya
"Sama sama kak, Bagaimana Sarah?".
"Iya gitu Cahaya, tapi sudah tidak apa-apa lagi kok"
"Alhamdulillah"
"Iy"
Dimas mendekat ke arah boks bayi yang sedang dengan tenang di dalamnya.
Karena usia Zi, Za dan Sya masih Satu bulan jadi masih sangat muda dan belum bisa Apa apa, kecuali menangis karena haus dan tidur karena kenyang. Tapi tidak jarang juga Si kembar tersenyum.
__ADS_1
Yang paling muda tersenyum adalah Ziyad. Zahid dan Syafira Sangat langkah dalam tersenyum terkecuali di dalam gendongan Sang Bunda dan sang Ayah.
Walaupun Dimas dan Riki sangat sering mengendong mereka tapi hanya Ziyad yang bisa tertawa dan tersenyum karena nya.