
Di kediaman Hasan
Setelah penyerahan sertifikat pusat perbelanjaan tersebut, Akhirnya mereka semua sudah meninggalkan kediaman Hasan, hanya kini tinggal keluarga saja.
"Zain kalian benar mau pulang ke Jogja besok?" Tanya Hasan
"Iya Yah, karena Cahaya juga sudah harus kembali kuliah dan Zain juga harus kembali ke perusahaan," Jawab Zain
"Baiklah jika seperti itu. Ayah dan Ibu hanya berharap kalian sering lah ke Jambi. Ayah dan ibu pasti merindukan cucu-cucu kami"
"Insyaallah Yah jika kami ada libur. kami akan menyempatkan untuk pulang ke Jambi"
"Baiklah jika seperti itu"
Setelah beberapa percakapan tadi keluarga Anam kembali ke rumah Subki, sedangkan Zain dan Cahaya juga sudah masuk ke dalam kamar mereka. Begitupun dengan Dimas dan Sarah karena memang sudah larut malam.
Di kamar Sarah dan Dimas
"Chagi, Maaf ya Sarah belum bisa jadi istri seutuhnya untuk Chagi. Karena Sarah masih takut" Ucap Sarah pada Dimas dengan rasa bersalah
"Tidak apa-apa Sayang, Kita pacaran aja dulu. Toh yang penting sekarang kita sudah sah"
"Terimakasih Chagi sudah mau bersabar menunggu Sarah siap"
"Sama sama Sayang, tapi jika Abang sudah tak bisa menahan diri lagi nantinya. Abang harap kamu sudah siap untuk menjadi istri Abang seutuhnya"
"Iya Sarah janji"
Dimas tersenyum senang dan memeluk Sarah dengan erat.
Sedangkan di kamar Cahaya dan Zain
"Hubby, Terimakasih banyak ya sudah sangat baik pada keluarga Cahaya, apalagi sampai menyerahkan pusat perbelanjaan yang baru di bangun itu untuk keluarga Cahaya"
"Sama-sama Sayang. Hubby merasa sangat senang bisa membantu keluarga"
"Oh ya by. Apa Cahaya boleh bertanya tentang kak Dimas dan kak Riki?"
"Tanyalah Sayang, Hubby pasti menjawab nya"
"Apa kalian bertiga beneran tidak pernah berpisah?"
"Mmm benar sayang, kami itu sangat dekat dan saling membantu satu sama lain walaupun kami tidak memiliki ikatan darah. Namun kami sudah merasa saling ketergantungan. jadi sulit untuk berpisah, walaupun sebenarnya ingin salah satu dari kami ada yang membantu Abi di negara A"
"Oh gitu, Cahaya juga merasa kasihan dengan Abi mungkin ia merasa kesepian di negara A Jadi nya Abi minta di antara kalian yang ikut bersama nya"
"Hubby juga merasa kan Sayang, Tapi jika kita pindah ke negara A saat ini tidak baik untuk anak-anak kita yang masih kecil. apalagi di kondisi pergaulan bebas nya di sana. Hubby ingin anak-anak kita nanti ketika sudah dewasa baru mereka bisa memilih mau tinggal di mana. Namun hubby berharap Abi dan Umi nantinya akan kita bawa ke Indonesia saja, dan bisnis di negara A akan di kelolah oleh Salah satu dari anak-anak kami nanti nya. Ntah itu dari putra-putri kita atau dari Dimas dan Riki" Jelas Zain
"Iya By. Cahaya juga berharap Abi dan Umi bisa tinggal bersama kita saja"
"Ya sudah lah Sayang. untuk urusan itu masih bisa kita bicarakan lagi nanti nya. Sudah malam, nanti kembar bangun kita belum ada istirahat"
"Iya by, selamat malam Hubby"
__ADS_1
"Selamat malam Sayang"
Akhirnya Zain dan Cahaya memutuskan untuk tidur karena mereka harus tidur walaupun sebentar. Karena biasanya kembar akan terbangun di sepertiga malam menjelang dan Subuh.
*********
Tepat pukul 3 malam, kembar benar-benar terbangun. Cahaya yang mendengar tangisan anak nya langsung bangun dan menghampiri mereka ternyata mereka haus. Cahaya dengan sigap langsung memberikan ASI kepada ketiga buah hati nya satu persatu.
Setelah merasa kenyang mereka kembali terlelap dalam tidur nya. Cahaya tidak kembali tidur melainkan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam
Zain yang merasa kehilangan sesuatu dari pelukan nya langsung membukakan matanya. Zain tersenyum ketika melihat Cahaya tengah berdiri shalat malam.
Zain bangun dari tidur nya dan duduk sebentar sebelum ia berdiri dari kasurnya. Ia melihat ke arah istri tercinta nya sambil tersenyum bahagia.
Setelah merasa cukup memandang Cahaya, Zain akhirnya memutuskan untuk menunaikan shalat malam juga.
Setelah selesai shalat malam, Zain dan Cahaya tidak kembali tidur mereka berdua menghabiskan waktu bersama sambil tadarusan Alquran sebelum waktu Subuh masuk.
Setelah Waktu Subuh masuk, Zain berdiri dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi ke masjid.
Sedangkan di kamar Sarah dan Dimas
Sarah merasakan sedikit nyeri di perut nya yang mana membuat nya meringis.
Pasangan pengantin baru tersebut sudah bangun dari tidur mereka, Dimas pun juga sudah bersiap untuk berangkat ke masjid dengan kain sarung serta baju kokoh di tambah dengan kopiah di kepala nya menghampiri Sarah yang memegang perutnya
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dimas panik
"Biasanya jika sakit gini minum obat apa Sayang?"
"Tidak perlu minum obat apa apa biasanya juga akan hilang sendiri sakit nya ntar. Chagi berangkat lah ke masjid, Sarah bisa tahan kok. Dan nanti juga hilang jika minum air hangat"
"Benarkah tidak apa-apa?"
"Iya beneran"
"Iya sudah Sayang, Abang berangkat ke masjid dulu ya"
"Iya"
Akhirnya Dimas keluar dari kamar nya dan ternyata Zain dan yang lainnya sudah menunggu nya di depan pintu rumah
"Lama amat Dim, kamu habis ngapain?"tanya Zain
"Itu Sarah sakit perut, katanya mau datang bulan"
"Oh gitu, kirain kamu habis ngapain. Terus gimana Sarah?"
"Katanya itu sudah biasa ntar juga tidak sakit lagi setelah minum air hangat katanya"
"Ya sudah jika Sarah sudah bilang gitu. Yok berangkat"
"Hmm"
__ADS_1
Mereka akhirnya berangkat ke masjid bersama.
Sedangkan di kamar Sarah, Setelah merasa mendingan, Sarah ke kamar mandi untuk memastikan bahwa ia beneran tamu bulanan atau apa. Dan ternyata benar Sarah sedang mendapat tamu bulanan nya.
Setelah memastikan, Sarah keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mengambil air hangat di dispenser.
*******.
Tepat pukul 7:00 pagi
Setelah selesai sarapan, Kediaman Hasan sudah di ramaikan oleh keluarga Anam juga karena mereka akan berangkat ke bandara tepat pukul 8:00 pagi. Namun sebelum itu Anam dan yang lainnya harus berpamitan pada Hasan serta lainnya.
Ilham juga sudah siap serta barang bawaan nya yang akan di bawa ke negara A.
Karena Ilham sangat menyukai tempoyak, dan di negara A tidak ada, Jadi Ilham memutuskan untuk membawa nya ke sana. Untuk melepas rindu ketika merindukan Indonesia terutama keluarga.
Anam mengendong Zahid sebelum berangkat sedangkan Ziyad berada dalam gendongan Nisa dan Syafira di gendong Tika.
"Cepat besar ya sayang, Oma Opa tunggu kalian di negara A" Ucap Nisa pada Cucu nya
Cahaya dan yang lainnya hanya tersenyum mendengar ucapan dari Nisa tersebut yang menurut mereka itu sangat mengharukan.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka semua berpamitan dan berangkat ke bandara.
Zain, Riki serta Dimas yang mengantar keberangkatan Anam dan yang lainnya sampai ke mobil di desa seberang.
Sesampai di desa seberang
"Belajar yang giat ya jika butuh sesuatu kamu hubungi Abang" Ucap Zain pada Ilham serta Tika
"Baik Bang, Ilham janji tidak akan mengecewakan Abang dan keluarga" Ucap Ilham
Zain tersenyum mendengar ucapan dari Ilham
"Tika juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Abang, dan keluarga bangga" Ucap Tika
"Ya sudah, untuk Tika kamu ingat jangan salah dalam bergaul di sana. Karena di sana bukanlah seperti di Indonesia" Ucap Dimas menasehati adik perempuan nya itu
"Baik Bang" Jawab Tika
"Ya sudah masuklah mobil, sudah mau jam 8 " Ucap Zain pada Tika dan Ilham
Kini Dimas, Riki dan Zain mendekati kedua orang tua nya dan memeluk mereka
"Umi dan Abi jaga kesehatan ya" Ucap Zain pada kedua orang tua nya
"Hmm, kalian juga jangan pernah mengurangi kewaspadaan kalian. Apa lagi jika proyek besar di Rusia nanti kalian dapati. Abi yakin dari pihak lawan tidak akan diam saja" Ucap Anam
"Baik Bi" Jawab Zain, Dimas dan Riki bersamaan.
Setelah mengucapkan itu, Anam dan Nisa masuk ke dalam mobil. Setelah beberapa saat kemudian mobil mereka akhirnya meninggal Ketiga kakak beradik itu.
Zain dan yang lainnya akhirnya memutuskan kembali ke desa pulau dan pulang ke rumah karena mereka juga harus menyiapkan keberangkatan kembali ke Jogja sore nanti.
__ADS_1