
Ruang makan
Zean dan Brian serta Riki sudah berada di ruang makan menunggu yang lainnya datang.
Sedangkan di kamar Sarah dan Dimas, Sarah baru saja menyelesaikan tugasnya sekolah nya sedangkan Dimas juga baru saja menyelesaikan shalat maqrib nya.
Sarah yang melihat Dimas yang sudah menyelesaikan shalat dan merapikan pakaian shalat dan sajadah, Sarah mendekatinya.
"Chagi makan yuk, seperti nya yang lainnya udah nungguin" Ucap Sarah sambil memeluk Dimas dari belakang.
"Hmmm" Jawab Dimas sangat singkat
"Chagi marah ya sama Sarah?"
"Nggak"
"Jika tidak marah kenapa wajahnya merenggut gitu"
"Chagi cuma bete, Chagi lagi kepengen eh kamu nya libur" Ucap Dimas
"Chagi Sayang, kan hanya seminggu sabar ya"
"Ya deh"
"Ya sudah kita ke ruang makan ya"
"Hmm"
Sedangkan di ruang makan
Zain dan Cahaya baru saja memasuki ruang makan, Zain yang mendorong troler kembar.
Zain langsung duduk di kursi nya dan troler kembar di letakkan di antara Cahaya dan Zain berada.
"Bagaimana dengan penyelidikan nya?" tanya Zain pada Riki membicarakan perihal beberapa penghianat di salah satu Markas dan juga prihal musuh yg baru saja muncul lagi.
"Belum menemukan keberadaan nya Bos, tapi Bos tentang saja identitas dari seluruh keluarga nya sudah di amankan tinggal memancing ikan menangkap umpan " jelas Riki
"Bagus "
Setelah beberapa saat kemudian datanglah Dimas dan Sarah, Dimas dengan wajah yang masih sedikit merengrut.
__ADS_1
Riki dan Zain melihat tingkah dari seorang Dimas langsung bertanya-tanya dalam hati. Ada apa ini anak?.
Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang mirip seperti anak kecil yang ingin es krim tapi tidak mendapat izin dari orang tua nya karena batuk dan lain sebagainya.
Dimas dan Sarah sudah duduk di kursi makan mereka seperti biasanya.
Setelah semuanya hadir di meja makan, Cahaya juga sudah menyiapkan makan pendamping ASI untuk kembar untuk pertama kalinya.
Zain melihat ke arah Cahaya yang sudah siap untuk menyuapi ketiga buah hati mereka.
"Sayang anak-anak sudah mau makan?" Tanya Zain pada Cahaya
"Iya By, karena mereka sudah di perbolehkan untuk makan selain dari ASI" Jelas Cahaya
"Wah beneran sayang?"
"Beneran dong By, makin ngak kerasa ya mereka sudah besar dan dua bulan lagi akan setahun"
"Iya Sayang, ya sudah kamu suapi mereka biar Hubby abadikan momen bersejarah ini"
"Oke Ayah " Ucap Cahaya sambil tersenyum menatap sang Suami.
Zain tersenyum mendengar panggilan untuk nya, karena mereka masih belajar untuk memanggil dengan panggilan tersebut.
Setelah dari Zahid Cahaya bergantian menyuapi putra keduanya setelah itu ke putri bungsunya.
"Alhamdulillah" Ucap Cahaya setelah ketiga buah hati sudah mendapatkan suapan dari nya, setelah itu Cahaya langsung memberikan pada Tina dan Tiwi Serta satu maid lagi untuk mengambil alih untuk menyuapi ketiga buah hati nya untuk makan dan minum tentunya.
setelah itu Cahaya dan lainnya langsung memulai makan bersama.
...****************...
Setelah selesai makan, Cahaya langsung membawa kembar untuk beristirahat di kamar karena mereka sudah mulai mengantuk karena sudah waktunya mereka tidur juga.
Sedangkan Zain, Dimas dan Riki mereka tidak kembali ke kamar mereka masing-masing tetapi mereka menuju ruang kerja.
Sedangkan Brian dan Zean sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.
Di ruang kerja.
Zain duduk di kursi kerjanya sedangkan Dimas dan Riki duduk di kursi depan nya, Dimas masih saja sedikit merenggut.
__ADS_1
Zain sedikit risih dengan raut wajah Dimas seperti itu dan langsung bertanya.
"Dim, kamu kenapa dari tadi kok mukanya merenggut aja?" Tanya Zain
"Bos mengerti lah jika suami bete karena apa" ucap Dimas membuat Zain tertawa terbahak-bahak yang sangat jarang itu terjadi.
Riki yang tidak mengerti arah pembicaraan yang di maksud Dimas hanya bisa melongo tanpa mengatakan apapun.
"Ya Allah Dimas, kan hanya seminggu biasanya, segini aja mu udah merenggut belum aja jika nanti Sarah melahirkan yang mana harus puasa 40-60 hari karena nifas " Ucap Zain yang membuat Riki akhirnya tau dan menggeleng kepalanya karena bingung kenapa hal tersebut membuat Dimas begitu bete, apa pernikahan senikmat itu pikir Riki
"Habis nya bos, tadi sore kan beli baju dinas eh taunya setelah mandi haid kan sedih ingin lihat langsung Sarah memakainya seperti apa, oh ya begitu lama ya setelah melahirkan?"
"Iya, apalagi kamu harus sabar menunggu dan juga harus sabar di waktu istri mu haid karena para perempuan sangat sensitif ketika lagi haid ataupun mengandung jadi jangan buat Sarah marah karena hal sepele ini mau tidak dapat jatah karena kamu merenggut aja mukanya?" Ucap Zain membuat Dimas berpikir keras.
Namun tiba-tiba Dimas langsung berdiri dari duduknya dan bergegas keluar dari ruang kerja, Namun sebelum itu dia mengucapkan terimakasih pada Zain.
" Terimakasih Bos atas informasi dan sarannya" Ucap Dimas sebelum meninggalkan ruang kerja.
Zain hanya tersenyum melihat tingkah Dimas yang sangat lucu menurutnya.
Dimas yang sudah keluar dari ruang kerja langsung berlari menuju lantai dua dan ke kamarnya.
tanpa mengetuk pintu kamar, Dimas langsung masuk.
Sarah yang di dalam kamar sedang berbaring sambil berselancar di internet langsung terkejut melihat pintu terbuka tiba-tiba.
"Chagi, ada apa?" Tanya Sarah
Dimas tidak menjawab melainkan langsung naik ke atas kasur dan memeluk Sarah.
"Sayang, maaf ya Chagi merenggut tadi, mungkin kamu marah dengan sikap Chagi yang kekanakan seperti itu " ucap Dimas
Sarah tersenyum mendengar ucapan dari Dimas, Sarah mengelus kepala Dimas dengan sayang yang berada di depan dadanya saat ini.
"Sarah ngerti kok Chagi, jadi jangan di pikirkan ya, Sarah janji setelah selesai haid Chagi bisa menikmati servis lagi" Ucap Sarah.
"Terimakasih Sayang"
"Sama-sama, ya sudah lebih baik Chagi siap-siap untuk shalat isya karena sudah adzan tu"
"Baiklah, tapi setelah itu peluk lagi ya"
__ADS_1
"Siapp"
Akhirnya Dimas melepas pelukannya pada Sarah untuk menunaikan ibadah shalat isya.