
Suasana Mension sangatlah ramai karena esok hari akan datang hari bahagianya Riki dan Tiara, tapi sebelum itu di bandara international yogyakarta, Steven dan Erik baru saja pesawat mereka landing.
“Bos, apa kamu tidak menyadari jika keadaan suasana bandara ini sangat ramai?” Erik melihat sekelilingnya yang memaang sangat ramai
“Iya, Karena banyak orang asing yang berdatangan untuk mengikuti acara Riki” Steven menjawab sambil melihat ke arah sekelilingnya
Seperti yang Erik dan Steven lihat jika kondisi Bandara sangatlah ramai dan juga mereka melihat banyak dari yag berpakaian serba hitam yang menjadi pengaman extra yang Zain serta Dimas dan Riki letakkan di sana
“Bos, Apa bos tidak curiga dengan identitas dari Tuan Zain dan lainnya?”
“Maksud kamu apa Rik” Steven menjawab dengan sedikit heran
“Iya Bos, kan yang kita ketahui itu Tuan Zain dan lainnya itu hanya pembisnis no 1 tapi ketika melihat pengamanan yang ada di bandara ini seperti berbeda gitu melebihi dari pengamanan pembisnis saja” Erik menjelaskan
“Sudahlah ngak usah terlalu dipikirkan jika memang ada identias lain dari mereka tetap saja kita tidak bisa mengusik mereka, hanya dengan identias mereka yang terkenal dengan bisnis mereka saja sudah tidak bisa apalagi ada identitas lainnya”
“Iya Bos, ya sudah bos mari ke mobil” Erik langsung mengarahkan Steven ke mobil yang memang dari tadi sudah menunggu mereka untuk membawa mereka ke hotel”
Setelah dari bandara, kembali lagi ke mension lebih tepatnya ke kamar calon pengantin.
Riki yang sedang berbaring hendak memejamkan mata, Namun mata ny atak bisa memajamkan mata.
Setelah beberapa saat tidak bisa memajmkan mata, Riki akhirnya memutuskan untuk ke ruang olahraga.
__ADS_1
Sesampai di raug olahraga, Riki langsung berolahraga, namun bebrapa saat kemudian, Dimas yang baru saja dari dapur karena mengambil minuman untuk sang istri di tengah malam.
“Riki” Ucap Dimas
Riki yang merass namanya di sebut langsung melihat ke arah suara
“Dim, ada apa?” Ucap Riki yang melihat Dimas berad di pintu raung olahraga
“Ngak apa-apa hanya saja tadi Aku dari dapur terus melihat ruangan ini lampunya menyala jadi aku kesini dan ternyata ada kamu disini”
“Owalah, dulu kamu sebelum menikah juga ngka bisa tidur ngak?” Riki langsung duduk di kursi olahraga dan diikuti oleh Dimas
“Iya, itu sudah biasa yang dirasakan calon pengantin” Jawab Dimas tersenyum
“Oh gitu, tapi Dim. Aku merasa sesuatu akan terjadi tapi tidak tau itu apa”Ucap Riki yang mengeluarkan apa yang menjadi kegelisahan yang dirasakannya
“Iya Dim, hanya saja masih ada rasa sesuatu gitu yang sedikit sesak di dada, Cuma aku ngak tau itu apa” Ucap Riki
“Lebih baik kamu tenang kan diri dengan shalat sunnah dan minta semuanya di lancarakan” Ucap Dimas
“Kamu benar Dim, ya sudah yuk kembali ke atas”
“Hmmm”
__ADS_1
Dimas dan Riki langsung meninggalkan ruang olahraga, Dimas kembali ke kamarnya sedangkan Riki juga kembali ke kamarnnya.
Dimas yang baru saja masuk kedalam kamar, langsung mendapat tatapan tajam dari Sarah
“Chagi ngambil airnya ke mana?” Ucap Sarah
“Maaf sayang, soalnya tadi Chagi ngombrol dulu sama Riki yang lagi resah, biasa calon pengantin” Jawab Dimas ambil membawa gelas yang berisi air putih
“Memangnya bang Riki kenapa?”
“Ngak ada, dianya ngak bisa tidur jadinya dia berolahraga”
“Owalah ya sudah sini airnya”
“Ini sayang, maaf ya lama”
“Iya Chagi, tidak apa-apa “
Berbeda dengan Dimas yang sempat di tatap tajam oleh sang istri kareana lama mengambil airnya, Riki yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, langsung membersihkan diri dan setelah itu Riki langsung menunaikan shalat witir.
Setelah selesai Shalat, Riki baru merasa sedikit kenyaman dan ketengan dalam hatinya setelah berpasrah diri pada sag pencipta untuk apa yang akan terjadi di masa depan.
Setelah selesai mengahadap sang pencipta dan berkeluh kesah, Riki langsung ke temapat tidur dan memjamkan matanya.
__ADS_1
Subuh harinya, Di kamar Zain dan Cahaya seperti biasanya, kembar terbangun dan menjadi pengingat untuk kedua orang tuanya.
Zain dan Cahaya tersenyum ketika melihat tingkah kembar di subuh hari dengan senyuman khas mereka.