
Kembali ke dapur.
“Sayang, Kamu bantuin Hubby ya” Ucap Zain manja pada Cahaya
“Tapikan Sarah pingginnnya masakan Hubby, apa Hubby mau ntar jika Sarah tau Cahaya bantuin dianya Ngambek... gimana? Hayo...”
“Tapikan dianya ngak tau Sayang”
“Hubby, Ayahnya anak-anak. Cahaya kasih tau ya jika seorang ibu yang tengah mengandung itu sangat sensitif, walaupun Sarah tidak melihat jika Cahaya bantuin Hubby untuk memasak tapi Sarah nanti pasti akan tau jadi lebih baik Cahaya mengawasi Hubbya aja”
“Baiklah Sayang, ini demi ponakan Hubby”
“Nah itu tau...”
Karena bahan-bahan masakan sudah disiapkan oleh para maid Zain sudah mulai untuk mengelolah bahan-bahannya.
Cahaya yang bertugas mengawasinya dari samping sambil tesenyum
“Beruntungnya yang Sarah minta tidak terlalu ribet” Ucap Zain
“Alhamdulillah Oh ya By, kamu makin tampan loh dengan stelan clemek itu” Ucap Cahaya
“Iya dong Sayang, suaminya siapa dulu” Jawab Zain dengan bangga
“Iya Suaminya Cahaya dan Ayahnya anak-anak yang tampan” Jawab Cahaya
Berbeda dengan Zain dan Cahaya yang sedang bermesraan didapur, Riki yang berada di markas setelah mendapat kabar jika Sarah jatuh pingsan langsung bergegas kembali ke mension
“Vani, Jack kalian lanjutkan pekerjaanya, dan jangan lupa di hari H harus aman dari berbagai macam Aku harus kembali ke mension karena Sarah jatuh pingsan” Ucap Riki
“Bos, bagaimana kabar nona Sarahnya?” Vani langsung bertanya
“Alhamdulillah nya tidak apa-apa, Cuma sekarang lagi ada sesuatu yang harsu di selidiki penyebabnya”
“Baik bos, nanti jika ada seuatu perintah langsung kabari”
“Hmmm”
__ADS_1
Riki langsung prgi meninggalkan markas dan Riki tidak lupa jga memberi kabar pada calon istri jika dia sudah perjalanan kembali ke mension.
Riki, belum menceritakan siapa sebenarnya dia pada Tiara, tapi kedua kakak Tiara yang notabennya temanya mengetahui siapa dia, Riki ingin menyampaikan dan menjelaskan semuanya ketika Tiara sudah sah menjadi istrinya nanti.
Kembali ke mension.
Di dapur mension, Zain akhirnya menyelesaikan masaknya.
“Alhamdulillah kelar juga. Oh ya jus strawberinya juga” Ucap Zain yang sudah menyiapkan masakannya dan meletakkan di nampan untuk di bawa ke kamar Sarah oleh maid
“Alhamdulillah, Hubby sering-sering ya masak dikemudian hari” Ucap Cahaya
“Aman Sayang, jika untuk kamu dan anak-anak pasti hubby lakukan”
“Iya Cahaya yakin itu, tapi Cahaya tidak tega melihat hubby berada didapur”
“Kamu yang terbaik sayang, Ya sudah yok ke depan, hubby juga mau membicarakan sesuatu dengan Dimas dan Riki di ruang kerja”
“Ya sudah deh, Bi tolong makanannya lansung di antar ya” Ucap Cahaya pada maid
“Terimkasih bi”
“Sama-sama nyonya”
Cahaya dan Zain meninggalkan dapur, sedangkan di raung tamu, Riki sudah berkumpul bersama di sana sambil melihat kembar yang tengah bermain di depan oma dan nenek mereka.
Sedangkan Anam dan Hasan berbincang biasa sambil sesekali melirik ke arah cucu-cucu mereka.
“Riki, bagaimana dengan sistem keamanannya sudah aman?” Anam melirik ke arah putra bungsunya
“Alhamdulillah sudah di kerahkan keamanan yang terbaik Bi, dan juga dari setiap marlkas juga sudah berada di Indonesia dan juga sudah di tempatkan di berbagai titik, ada yang bertugas di jalur udara, darat dan laut” Jelas Riki
“Bagus, dengan identitas kalian, Abi yakin banyak yang iri akan kalian, maka itu musuh kalian itu ada di mana-mana, apalgi sekarang Sarah dalam keadaan hamil dan kembar juga masih kecil utamakan keamanan mereka dan juga keluarga besan”
“Pasti Bi, Abi tenang saja ini semua sudah Bos atur”
“Bagus, Abi yakin akan kemampuan kalian”
__ADS_1
“Terimakasih Bi, oh ya jangan lupa usut siapa yang bikin Sarah pingsan”
“Iya Bi, ini Riki, Bos dan Dimas mau membicarakan hal ini”
“Ya sudah Abi serahkan pada kalian, tapi ingat Abi tidak mau menantu Abi dan Cucu Abi dalam kandungannya terdampak”
“Baik Bi”
Sedangkan dikamar Dimas dan Sarah, maid baru saja mengantar makanan dan minuman untuk Sarah
Dimas dengan telaten memanjakan istrinya dengan menyuapi makan serta minumnya.
“Chagi, Sarah bisa mamakn Sendiri” Ucap Sarah
“Sayangm Chagi hanya ingin memanjakan ibu dari anak Chagi ngak boleh ya?”
“Boleh sih, tapi Chagi..”
“Sayang, kamu hanya boleh menerima tidak boleh menolak oke”
“Baiklah...” Ucap Sarah pasrah.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya semua masakan yang Zain masak habis tanpa tersisa, dan Sarah tidak merasakan yang namanya mual.
“Alhamdulillah sayang habis, dan kamu tidak mual seperti biasanya”
“Ia Alhamdulillah, mungkin karena ini keinginan dari anak kita minta pada unclenya jadi tidak mual”
“Mungkin ia sayang, ya sudah kamu istirahat ya, Chagi mau ngantar piring kotor ini ke dapur sekalian mau mengerjakan beberapa pekerjaan bersama bos dan riki”
“Ia Chagi”
“Istirahat y sayangnya papa, jangan buat mamanya susah ya” Ucap Dimas sambil berbisik di perut Sarah yang masih rata
Melihat apa yang di lakukan suaminya, Sarah hanya bisa tersenyum.
Setelah berbicara pada anaknya, Dimas langsung mencium puncak kepala Sarah sebelum meninggalkan Sarh di kamar untuk istirah. Dimas juga tidak lupa membawa handpone Sarah yang tadi sudah retak karena genggamannya.
__ADS_1