
Mension
Setelah sarapan, Sarah dan Dimas serta Zean sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah Sarah terlebih dulu, setelah itu baru mengantar Zean untuk memilih sekolah mana yang lebih cocok untuk nya.
Di ruang tamu di sana ada Zain dan juga lainnya termasuk ada kembar juga di sana.
"Ya sudah ya bos, Cahaya. Aku, Sarah bersama Zean berangkat dulu " Ucap Dimas
"Hmm pergilah, karena hari ini Sabtu Dimas tidak kekantor begitupun dengan Riki dan Zain, Riki harus menyelesaikan persiapan pernikahan nya sedangkan Zain harus kembali ke lokasi KKN Cahaya nanti dan Dimas menemani zean untuk memilih sekolah untuk nya.
Dimas, Sarah dan Zean langsung masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Mension menuju sekolah Sarah.
Begitupun dengan Riki juga menaiki mobil nya meninggalkan Mension.
Sedangkan Zain dan Cahaya serta kembar masih stay di mension hingga siang ini karena Sore nanti baru ada kegiatan di lokasi KKN nya Cahaya.
Kembali dengan Dimas dan Sarah serta Zean di mobil menuju sekolah Sarah.
Sarah duduk di kursi samping Dimas yang mengemudikan mobil, sedangkan Zean duduk di kursi penumpang.
Dari mulai masuk mobil, Dimas tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sarah. Walaupun dia sedang mengemudi mobil mereka namun tetap saja satu tangan nya masih menggenggam erat tangan Sarah.
"Chagi, malu ih ada Zean" Ucap Sarah pelan sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Dimas padanya.
Dimas hanya tersenyum mendengar ucapan dari sang istri, dan tidak melepaskan genggaman tersebut.
Setelah berusaha melepaskan genggaman tersebut tidak terlepas dan malahan semakin erat, Sarah akhirnya pasrah dengan kelakuan sang suami tercinta nya itu.
Sedangkan Zean di kursi belakang tidak memerhatikan pasangan suami istri itu karena dia asik memandangi sekitar lewat jendela mobil.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di sekolah Sarah. Dimas memarkirkan mobilnya seperti biasanya diparkiran sekolah.
Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Genggaman tangan baru terlepas, Sarah dan Dimas turun dari mobil bersama di ikut Zean juga.
"Ya sudah Chagi Sarah masuk dulu ya" ucap Sarah sambil mencium tangan Dimas pamit masuk ke dalam kelas
"Iya Sayang, belajarnya yang rajin biar cepat lulus"
"siappp, memang kenapa jika cepat lulus?"
"IYa biar tidak di bawah umur lagi,"
__ADS_1
"Dasar Chagi tapikan Chagi cinta nya yang di bawa umur "
"Tidak juga, yang penting itu kamu sayang tidak yang lainnya walaupun mereka seusia kamu "
"ya deh, Sarah faham itu, Ya sudah Sarah masuk Assalamu'alaikum" kembali mencium tangan Dimas
"wa'alaikumussalam "
Sebelum Sarah berjalan masuk ke dalam sekolah nya, Sarah tersenyum pada Zean sambil mengelus kepala Zean dengan Sayang, hal tersebut membuat Dimas sedikit cemberut.
Sarah yang melihat sang Suami cemburu buta hanya bisa tertawa kecil dan meninggalkan Dimas dan Zean.
Setelah Sarah benar-benar tidak terlihat lagi di parkiran sekolah tersebut, Dimas dan Zean kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah Sarah.
Di perjalanan menuju sekolah pertama yang akan di kunjungi Dimas dan Zean.
Sekolah pertama yang sangat terkenal di Yogyakarta yaitu sekolah berbasis internasional yang mana di sana ada TK, SD SMP serta SMA nya.
Jarak sekolah tersebut dengan sekolah Sarah tidak terlalu jauh hanya memakan waktu 10 menit saja.
Sesampai di depan sekolah, Dimas membuka kaca mobil nya tepat di depan sekuriti sekolah tersebut.
"Selamat datang Tuan ada yang bisa Saya bantu?" Ucap Sang sekuriti dengan ramah
"Bisa Tuan, sebentar ya saya bukakan gerbangnya dulu " Ucap sekuriti tersebut
"Terimakasih "
Setelah beberapa saat kemudian gerbang tinggi boarding school tersebut pun di buka.
Dimas langsung menghidupkan mobil nya kembali dan memasuki kawasan sekolah tersebut.
Karena saat ini jam-nya belajar belajar hal tersebut membuat kawasan sekolah tampak sepi namun dengan kebisingan hanya ramai oleh mobil-mobil yang terparkir yang mana biasanya anak-anak SMA yang membawa mobil sendiri dan ada juga mobil-mobil guru yang terparkir khusus untuk staff pengajar di sana.
Setelah mobil diparkirkan, Dimas dan Zean turun dari mobil bersama.
Sedangkan sang sekuriti setelah mobil Dimas melewati gerbang, sekuriti pun kembali menutup gerbang kembali dan dia menghampiri Dimas dan Zean yang sudah keluar dari mobil mereka.
"Mari tuan,Saya antar ke ruangan kepala sekolah nya" Ucap sekuriti
"Terimakasih pak"
__ADS_1
"Sama-sama, ini anaknya tampan ya tuan seperti anda" Ucap sekuriti tersebut melihat Zean yang begitu rupawan
Dimas yang mendengar ucapan dari sang sekuriti hanya tersenyum sebelum menjelaskan.
"Bukan anak Saya pak, dia adik saya" Ucap Dimas menjelaskan
"Ehh Maaf Tuan, saya kira anak Tuan"
"Memang nya sudah cocok ya pak saya memiliki anak sebesar ini?" Tanya Dimas karena usia Zean itu hampir 11 tahun dan jika pun dia anak Dimas yang berusia 28 tahun berarti Zean lahir Dimas berumur 18 Tahun dong kurang lebih...
"Cocok aja Tuan, tapi jika memang Anda sudah memiliki anak ya cocok nya jika anak Anda umur 5-6 tahunan mungkin " Ucap sekuriti tersebut sambil tersenyum
"Ada-ada aja nih bapak, Bapak kenal saya?" Ucap Dimas
"Mmm, wajah Tuan itu tidak asing dan banyak terlihat di berita televisi tapi saya lupa nama Anda "
"Nah gini aja, jika bapak tau nama Saya, saya kasih hadiah " Ucap Dimas dengan tersenyum senang, karena sang sekuriti tersebut membuat hati Dimas senang di bilang sudah cocok untuk menjadi ayah.
"Boleh lihat google nggak Tuan?"
"Silahkan, Saya kasih waktu sampai saya selesai bicara dengan kepala sekolah di sini gimana?"
"Beneran Tuan?"
"Benaran dong pak,"
"Terimakasih Tuan, oh ya Tuan sudah sampai di depan ruangan beliau" Ucap sekuriti tersebut setelah mereka sampai di depan sebuah ruangan yang di sana tertera di depan nya kepala sekolah.
Sekuriti tersebut membantu Dimas untuk mengetuk pintu tersebut
"tok tok..." Suara pintu di ketuk.
Sedangkan di dalam pintu tersebut terdengar suara menyuruh untuk mereka masuk.
"Terimakasih pak, sekarang bapak bisa kembali ke tempat bapak, nanti saya tanya harus bisa jawab " Ucap Dimas sedikit bercanda.
"Baik Tuan," Ucap sekuriti sebelum meninggalkan Dimas dan Zean.
Setelah meninggalkan Dimas dan Zean, Sekuriti tersebut langsung mencari tahu tentang identitas dari Dimas dengan bantuan foto yang dia ambil diam-diam setelah Dimas menyuruh nya untuk mencari tahu identitas nya.
Sedangkan Dimas setelah kepergian sekuriti tersebut hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena tau jika sang sekuriti tadi mengambil gambar nya dengan diam-diam.
__ADS_1
Karena itu membuat Dimas tidak habis pikir dengan ide dari sekuriti tersebut