
Selama perjalanan, Sarah dan Dimas shalat Dzuhur nya di dalam pesawat, shalat berjamaah. Setelah selesai shalat Dzuhur, Dimas dan Sarah makan siang dengan menu yang sudah di siapkan oleh Zainab tadi pagi sebelum mereka berangkat.
Dimas sangat bersyukur memiliki istri dan ibu dan ayah mertua yang begitu baik dan sangat taat akan Agama yang membuat nya semakin hari semakin memperbaiki diri dan dekat akan Tuhan nya, Yang dulu nya sebelum Zain bertemu dengan seorang gadis Desa yang membuat nya kembali semangat dekat dengan Allah SWT, begitu juga dengan Dimas dan Riki. Bertemu keluarga Cahaya dan Sarah adalah anugerah terindah yang Allah SWT siapkan untuk mereka.
10 menit sebelum landing 🛬 di Yogyakarta internasional airport, Dimas dan Sarah sudah menyelesaikan makan mereka.
"Ayo Sayang kita turun" Ucap Dimas ketika pesawat benar-benar berhenti dengan sempurna
"Iya Chagi, " Jawab Sarah Sambil tersenyum pada Dimas.
Dimas mengandeng Sarah turun dari pesawat, dan di bawah sudah ada beberapa Mafioso termasuk Riki yang menjemput mereka.
"Selamat datang kembali pengantin baru" Ucap Riki sambil tersenyum pada Dimas dan Sarah
"Ada ada aja bro, oh ya jam berapa berangkat ke japan nya besok?" Tanya Dimas
"Agak siang ngan bro, karena kan pertemuan nya juga masih besok nya lagi"
"Oh oke deh. Ya sudah lebih baik kita pulang ke mension dulu. Kasihan istri ku mau istirahat" Ucap Dimas
"Ya sudah ayo masuk mobil"
"Hmm"
Sarah dan Dimas menaiki mobil bersama dengan Riki, sedangkan barang bawaan mereka di bawa di mobil yang di kendarai oleh para Mafioso yang mengiringi mereka.
Di perjalanan ke mension dari bandara tidak ada percakapan yang terjadi di sana. Sedangkan Sarah tanpa sadar ia tertidur pulas di samping Dimas.
Dimas yang menyadari istri nya tidur langsung memberikan kenyamanan bagi Sarah untuk tidur di dalam pelukan nya.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di depan gerbang mension besar, dengan otomatis gerbang terbuka ketika ada sensor yang menyatakan di perbolehkan masuk nya mereka.
Ketika mobil berhenti sempurna di depan pintu mension, Sarah masih nyaman dengan posisi tidurnya.
Dengan hati-hati Dimas mengendong Sarah membawa nya masuk ke dalam mension.
Sedangkan di dalam mension, Cahaya serta kembar dan Zain sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kak Dim, Sarah kenapa?" Tanya Cahaya sedikit khawatir. Setelah Dimas memasuki pintu mension
"Siitt, tidak apa-apa hanya tidur mungkin kelelahan perjalanan jauh" Jawab Dimas pelan
Mendengar Jawaban dari Dimas, Cahaya akhirnya lega. Sedangkan Dimas langsung membawa Sarah ke kamarnya supaya Sarah istirahat dengan nyaman.
Sesampai di lantai dua, tepatnya di dalam kamar Dimas. Dimas langsung membaringkan tubuh Sarah dengan perlahan supaya tidak menganggu tidur nya.
Setelah Sarah terlihat nyaman dalam tidurnya, Dimas keluar dari kamar dan turun menuju lantai satu untuk bergabung bersama dengan yang lainnya.
Di ruang tamu
__ADS_1
Riki, Zain serta Cahaya dan ketiga buah hati nya di sana.
"Aduh ponakan uncle baru beberapa hari tidak bertemu sudah semakin menggemaskan saja" Ucap Dimas yang baru bergabung di ruang tamu tersebut ketika melihat kembar yang ada di dalam boks mereka
"Iya dong uncle, kan kami anak-anak pintar jadi pertumbuhan kami juga cepat" Jawab Cahaya yang mewakili pertanyaan dari Dimas
Dimas hanya tersenyum mendengar ucapan dari Cahaya.
"Oh ya Rik, Bos ada beberapa lauk yang Ibu titipkan untuk kalian tadi. Apa sudah di bawa ke dapur" Ucap Dimas
"Sudah, lagi di hangatkan sama Tina" Riki yang menjawab
"Oh oke deh, oh ya bos. Apa tidak sebaiknya Aku dan Riki saja yang berangkat ke japan besok?" Ucap Dimas
"Pengen nya gitu Dim, tapi kan kasihan Sarah baru nikah aja udah di tinggal oleh mu. Dan juga kamu tau sendiri proyek ini harus Aku yang urus" Jawab Zain
"Ya sudah jika seperti itu, tapi bos harus hati-hati dan untuk Riki jangan sampai Bos kamu tinggal sendiri ingat itu" Ucap Dimas serius
"Kamu tenang saja Dim, itu sudah pasti" Jawab Riki serius
Cahaya yang bingung dengan apa yang di bicarakan oleh ketiga laki laki tersebut.
"By, emang ada apa by?"Tanya Cahaya dengan kebingungan
Dimas dan Riki langsung melihat ke arah Zain yang sedikit tercengang karena Zain ternyata belum menceritakan hal tersebut pada Cahaya.
"Hmm gini Sayang, sebenarnya clien yang ada di Japan tersebut merupakan seorang perempuan muda yang mana dia sangat terobsesi terhadap ku. Tapi Sayang hubby bersumpah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap nya ini hanya hubungan bisnis" Jelas Zain hati-hati
Sedangkan Zain, Riki dan Dimas sangat cemas dengan apa yang akan terjadi jika Cahaya akan marah terhadap mereka terutama Zain sangat takut jika Sang istri tercinta nya akan marah terhadap nya.
"Sayang, jika kamu tidak mengizinkan Hubby bekerja sama dengan nya. Hubby akan memutus kan kontrak kerja sama nya sekarang . Tapi kamu jangan marah ya Sayang" Ucap Zain membujuk Cahaya yang masih tetap saja diam
Sebenarnya Cahaya tidak marah pada Zain, melainkan sedikit kecewa karena Zain tidak pernah menceritakan hal ini terhadap nya. Tetapi Cahaya tidak boleh marah dengan suaminya yang sudah menjelaskan prihal itu.
Setelah beberapa saat kemudian, Cahaya akhirnya melihat ke arah Zain, Dimas dan Riki bergantian dan akhirnya berhenti menghadap ke arah Zain.
"Apa bisa di putuskan kontar kerja nya by?" Tanya Cahaya pada Zain
"Bisa Sayang, jika memang itu yang kamu inginkan" Jawab Zain cepat
"Biaya pinalti nya berapa by?" Tanya Cahaya, karena Cahaya tau jika membatalkan Kontrak kerja sama sepihak harus bayar uang pinalti yang mana itu mungkin sangat besar jika proyek tersebut besar.
Zain tak langsung menjawab melainkan hanya melirik ke arah Dimas dan Riki bergantian.
"Berapa by?" Tanya Cahaya lagi
" 1.000.000.000 U$D Sayang"Jawab Zain pelan
"Astaqfirullah banyak banget by. Ya sudah lanjutkan saja kerja sama nya. Tapi Hubby harus bisa jaga diri" Ucap Cahaya pelan. Karena Cahaya tidak ingin Suami tercinta nya di ambil oleh orang lain.
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal tersebut, Cahaya langsung menbawa kembar kembali ke kamar nya tanpa melihat ke arah Zain dan yang lainnya.
Melihat Cahaya yang meninggal mereka, Zain langsung berdiri dari duduknya dan mengejar Cahaya ke kamar mereka.
Sedangkan Dimas dan Riki tidak bisa berbuat apa-apa karena ini prihal rumah tangga mereka.
Di kamar
"Sayang, apa pun ke ingin mu akan hubby penuhi, Sayang maafin hubby ya sebelum nya belum menceritakan pada mu. Hubby bukan tidak ingin menceritakan pada mu karena bagi hubby itu tidak penting tapi tidak tau jika ini membuat mu marah. Sayang maafin hubby ya" Ucap Zain sambil memeluk Cahaya dari belakang.
Cahaya merasa tidak enak hati mendengar suara sang suami nya yang sangat di cintainya itu.
Cahaya berbalik badan dan melihat ke arah Zain yang sudah merah mata nya.
"Hubby, Cahaya ingin ini yang terakhir nya terjadi karena Cahaya ingin kita saling berbagi dan saling terbuka. kita sudah menjadi suami istri. Jika seperti ini Cahaya merasa sebagai istri bukan orang yang hubby utamakan untuk berbagi bersama" Ucap Cahaya sambil memeluk Zain
"Iya Sayang, Hubby janji tidak akan ada lain kali. " Ucap Zain cepat.
"Terimakasih by, Cahaya hanya tidak ingin Suami tampan dan shaleh serta Ayah yang baik ini di miliki oleh perempuan lain" Ucap Cahaya
"Sayang, Hubby hanya milik mu dan putra-putri kita seutuhnya" ucap Zain
"Jadi bagaimana by, kerja samanya?"
"Akan di batalkan Sayang. Karena hubby tidak ingin keluarga kecil kita terganggu di karenakan permasalahan ini lagi" Ucap Zain
"Tapi by uang pinalti nya sangat besar"
"Kamu tenang saja Sayang uang tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan mu dan anak-anak kita."
"Terimakasih by sudah mau berkorban untuk keluarga kita"
"sama sama Sayang sudah sepatutnya"
Akhirnya Zain dan Cahaya menyelesaikan sedikit masalah tersebut, Setelah selesai berbicang, Zain keluar kamar meninggalkan Cahaya dan kembar di kamar. Zain kembali ke ruang tamu untuk membicarakan perihal pembatalan proyek tersebut bersama Dimas dan Riki
Setelah beberapa saat kemudian Zain akhirnya sudah sampai di ruang tamu
"Bagaimana bos?" Tanya Dimas dan Riki bersamaan
Sebelum menjawab, Zain duduk di kursi depan mereka dan sedikit menghela nafas panjang di sambung dengan senyuman manis oleh Zain.
"Alhamdulillah" Ucap Dimas dan Riki yang mengerti akan arti dari senyuman manis yang Zain berikan saat ini
"Rik, kamu suruh Chiko (Mafioso yang menjadi kaki tangan Black Lion di Japan) untuk membatalkan Kontrak kerja sama dengan perusahaan tersebut dan untuk uang pinalti nya akan Aku transfer langsung ke rekening perusahaan mereka" Ucap Zain
"Baik Bos, sudah dari lama Aku dan Dimas merencanakan untuk membatalkan Kontrak kerja sama dengan pihak mereka karena ini terbaik untuk keluarga kita, terutama sekarang sudah ada Cahaya dan kembar" Ucap Dimas dan Riki
"Benar, untuk itu lebih cepat di batalkan lebih baik" Jawab Zain
__ADS_1
Riki dan Dimas tersenyum mendengarnya.