
Petang hari menjelang dan si empu rumah sudah merebahkan badannya di sofa tengah. Satria memijit-mijit kepalanya yang pening, pening memikirkan sikap Niken yang masih tidak terima dengan pernikahan pura-puranya. Niken meminta Satria untuk datang kerumahnya tapi Satria menolak dan beralasan dia punya meeting diluar dengan koleganya.
"Ehhhh kakak sepupuku sudah datang" gurau Reyna yang baru saja keluar dari kamarnya ''Makasih loh kejutannya''
"Ehhmmm..kau suka?"
Reyna mengangguk-angguk "Mas, tumben sudah pulang"
"Capek"
"Mau makan dirumah?"
Satria menggangguk "Kalau kau tak capek silahkan"
Reyna pun segera bergegas ke dapur membuka kulkas dan memulai kegiatannya. Satu jam berlalu sayur lodeh, dan orek tempe sudah terhidang.
"Aku bantu apa Rey?" Reyna menoleh kebelakang melihat Satria sudah berdiri disana, mukanya segar tidak sekusut tadi. Satria terlihat lebih muda dengan setelan santainya sekarang ini, cukup dengan celana kardi selutut dan kaos oblong rumahan.
"Bantu makan saja Mas, emang berani goreng lele?" Reyna menunjuk lele mentah yang siap berenang di minyak goreng panas sewajan.
Satria menggeleng cepat, dia memilih duduk di kursi sudut meja makan memainkan ponselnya dan sesekali mencuri pandang ke arah Reyna.
Reyna jelas bukan tipikal wanita idamannya, kulitnya sawo matang rambut bergelombang sebahu dan ukuran tinggi badan yang standart. Berbeda jauh dari Niken yang berkulit putih bersih berambut lurus dan tinggi badan semampai.
Niken berhidung mancung semakin mempertegas kecantikannya dan Reyna cukup dianugrahi dengan parasnya yang manis dan bibirnya tebal sensual meskipun hanya disapu lip balm saja.
Selera berpakaian mereka pun berbeda , Niken lebih suka mempertontonkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tak jauh dari profesinya sebagai pramugari.
Sejatinya Reyna memiliki nilai plus di dua bagian tubuhnya yang menarik mata lelaki hanya saja tertutup dengan gaya pakaian yang casual cenderung santai,
Bagi Satria Niken wanita idaman tapi Reyna adalah istri idaman, cekatan mengurus rumah,mandiri dan yang jelas pintar memasak. Jika Tuhan mengijinkan dua wanita itu bersatu di dalam raga dan jiwa yang sama pastilah Satria akan menjadi laki-laki yang berbahagia.
__ADS_1
namanya juga laki-laki ya readers hawanya kemaruk
"Ngapain liat-liat, jatuh cinta ntar" seloroh Reyna membuyarkan angan-angan Satria
Satria makan dengan lahab, ia berasa makan masakan Ibu setiap kali memakan masakan Rey.
"Habis ini kamu mau ngapain Rey?"
Reyna mengangkat bahunya dan berlalu sambil mengangkat piring-piring kotor untuk dibersihkan.
"Biar aku, kamu sudah repot memasak, mandi saja"
.
.
.
"Rey, aku mau bicara penting" susul Satria dan mengambil tempat di sampingnya
"Yaaa..." Reyna meraih remote dan mematikan televisi.
"Ehmmm, menurutmu kita perlu perjanjian hitam diatas putih?"
"Kenapa...ada masalah?"
"Bukannnn.. biar sama-sama enak saja"
"Kurasa tidak perlu, Mas fokus saja ke usahamu, semoga segera membaik"
"Kau tak keberatan ku anggap sepupu?" Satria bertanya hati-hati.
__ADS_1
"Tidak" Rey menunduk dan memainkan gelas ditangannya melirik ke arah Satria perlahan dan matanya tertuju pada jari manis kanan Satria. Cincin pernikahan mereka ternyata tidak lagi tersemat dijarinya. Seketika Reyna memasukkan tangan kanannya ke saku celananya, dia berjanji untuk melepaskan cincinnya secepatnya.
"Aku sudah menemui Niken dan menjelaskan tentang pernikahan kita"
"Eh, siapa?" Reyna mendongak
"Ehmmm Niken..pacarku" jelas Satria
pacar rasa istri batinnya
ohhh Niken namanya gumam Reyna
"Aku berjanji padanya untuk segera menyelesaikan urusan keuangan di perusahaanku agar kita cepat emmmm..." ucapan Satria menggantung
"Hemm ya aku tahu"
Lama keduanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing
"Kita dosa nggak sih Mas, aku seperti sedang memainkan janji kita dengan Sang Pencipta"
"Entahlah Rey, mungkin tidak jika kembali ke niat awal kita. Kau dengan baktimu dan aku dengan tanggung jawab kepada karyawanku"
Satria berdiri dan menepuk pundak Reyna
"Jalan-jalan pake motor baru yuk" ajaknya mencairkan suasana.
"Aaahhh jalan-jalan saja apa asiknya"
"Aku traktir es krim"
Reyna langsung berjingkat dari duduknya menghambur ke kamar untuk mengambil jaket, tak lupa ia lepas cincinnya dan menyimpannya.
__ADS_1
dasar bocah denger es krim saja senang bukan kepalang