Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
170. Maaf (1)


__ADS_3

Reyna menimang-nimang ponselnya, mengalihkan pandangan keluar jendela kamarnya. Kembali membuka aplikasi whatsapp diponselnya, memilih satu kontak nama disana.


Pras. Kembali ia gigit-gigit bibir bawahnya, sejenak ragu apakah benar tindakannya untuk menghubungi pria itu.


Sejak semalam ia mulai terusik lagi soal masalahnya dengan Pras. Entah hanya perasaan saja atau memang demikian adanya. Reyna merasa Pras ingin menemuinya.


Pertama saat ia menghindari waktu Alex menitipkan berkas, ia sempat mendengar pria itu menanyakannya. Kedua saat terpergok berciuman ditangga. Pras tidak pernah mau bergabung sarapan selama ini,tapi waktu itu.. mungkinkah?


Ketiga Mbok Nah yang menyampaikan bahwa Pras menanyakan dirinya sewaktu mengantar es doger sedangkan saat itu ia tidur siang.


Sebelum tragedi, Pras biasa saja saat bertandang kerumah. Tak pernah menanyakan dirinya, sekalipun sedang berada dirumah, keduanya hanya saling sapa seperlunya.


Menatap layar ponselnya, mengamati profil pria yang sedang membuatnya gundah. Sosok Pras yang jangkung dan bertubuh kurus, parasnya yang cukup tampan pernah membuat jantungnya berdegup kencang saat sekian tahun lalu jemari mereka sempat bertaut beberapa kali.


Saat menempuh D3 Reyna memang sempat sesumbar tidak akan menjalin romansa sebelum ia menamatkan pendidikannya. Reyna menyadari ia bisa merasakan bangku kuliah hanya karena beasiswa, percintaan buatnya hanya akan membagi konsentrasinya.


Bukan salah Pras jika dia tak mengungkapkan perasaannya, bahkan menyiksa dirinya memendam rasa bahkan hingga ia sudah menjadi istri seseorang untuk kedua kalinya.


"Bodohhhh... " Reyna mengacak rambutnya, memaki dirinya sendiri yang telah menyulut sumbu emosi pria pendiam itu hanya karena kekesalannya pada Bimo.


"Ayolah, kirimlah pesan padaku agar semuanya menjadi lebih mudah" bicaranya pada layar ponsel ditangannya


Dasar Reyna bodoh! Kan kau yang bersalah, kau yang menemuinya kenapa juga harus Pras yang menghubungimu lebih dulu


Menghela napas perlahan, membuang sedikit demi sedikit beban dihatinya. Tiba-tiba perutnya berbunyi, ah ibu hamil butuh amunisi.


Kakinya menuruni anak tangga, rumah nampak sepi. Bahkan teriakan Dewa yang biasa bermain diruang tengah juga tak terdengar.


"Dewa mana Mbak?" tanyanya saat berpapasan dengan pengasuh Dewa


"Ikut Tuan Alex mbak"


"Kemana?"


"Biasa, tadi merengek beli mainan"


Hah! Semakin mendekati hari kelahiran, putranya makin sering berulah dan meminta perhatian seakan iri dengan adiknya yang masih didalam perut

__ADS_1


Tudung saji bulat itu ia angkat, tak satupun makanan menggugah seleranya. Mau masak? Ah malas keburu lapar.


"Mbak, aku pergi sebentar ya cari makanan" pamitnya pada pengasuh Dewa


"Jangan bawa mobil sendiri Mbak, kan dilarang Pak Bimo"


"Dekat kok Mbak, jangan bilang siapa-siapa" Reyna menempelkan telunjuknya di bibir lalu berjalan menuju garasi, mengambil kontak dan berlalu pergi


Memang agak susah berkendara dengan membawa perut besar seperti ini. Tapi rasa lapar menyulutnya untuk membelah jalanan disiang yang terik seperti ini.


Makan apa ya? gumamnya. Tak terasa mobilnya ia lajukan menjauh, ah tak apa sesekali. Matanya sibuk menyusur sepanjang sisi jalan.


Ah! Makan Mie Jakarta saja, bayangan pangsit basah dan daun bawang menari-nari dipelupuk mata. Menekan pedal gas, berbelok, menukik dan whoolla sampailah dia di kedai Mie Naga 99.


"Bungkus Mas" serunya pada salah seorang pelayan


"Antri nggak apa-apa Mbak, pesanan 5 porsi" tunjuknya pada abang ojol dipojok ruang


"Ya, nggak apa-apa" Reyna memilih duduk didepan kedai


Cekrek cekrek iseng mengambil selfie dengan background banner yang memajang menu kedai dan mengirimkannya pada Sisil


Hanya butuh 1 menit gadis ceria itu menghubunginya


"Mbak Rey kok nggak ajak-ajak! " serunya


"Hey, aku kan pengangguran. Mana boleh ajak-ajak wanita karir macam kau" guraunya


Terbahak Sisil diseberang sana "Tungguin aku susulin situ. Bentar lagi kan makan siang"


"Eh" sontak Reyna melihat jam tangannya "Oh iya ya 30menit lagi makan siang"


Reyna melipat bibirnya dan entah angin apa yang mendorongnya berbicara pada akhirnya "Pras ditempat?"


"Ada Mbak, mau Sisil panggilin?"


"Eh nggak-nggak, aku mau traktir kalian bakmi, bawa kesitu. Jangan bilang-bilang Pras ya" pesannya

__ADS_1


"Oke deh Mbak. Tang kiyuuu"


---


Buliran peluh menetes dikeningnya, tubuhnya yang menggendut karena bonus kehamilan dilengkapi cuaca terik seperti ini. Masih juga karena harus menenteng bungkusan plastik besar ditangan.


Beberapa pekerja yang mayoritas lelaki menyapanya saat ia masuk dilantai dasar. Reyna menarik napas panjang, bukan karena landainya tangga menuju lantai dua. Debaran jantungnya seakan tak berhenti bergenderang, kira-kira apa reaksi Pras saat tahu ia menemuinya.


"Mbak Rey..... " pekik Sisil saat kakinya mencapai anak tangga paling atas, pandangannya langsung beralih ke asal suara padahal dia hendak mengintip sesaat ke bilik kaca


"Pas banget.... pas jam makan siang ini" sambut gadis itu mengambil alih kantong plastik dari tangannya dan menggandeng Rey ke mejanya


"Duh... Mbak Rey hamil besar kok malah tambah cantik ya. Pasti anaknya perempuan nih" Sisil mengusap-usap perutnya


"Ia, doakan ya Sil. Ayahnya pengen anak perempuan soalnya"


"USGnya apa, emang masih ngumpet ya mbak dedeknya?"


"Sengaja dirahasiakan biar surprise" Reyna nampak gugup, dia bahkan tak berani membalikkan badan


"Mbak Rey mau makan disini atau.... " ucapan Sisil tercekat, matanya menatap lurus dibalik punggung Reyna "Mbak... " alisnya bergerak-gerak aneh memberi kode yang sudah bisa Reyna tebak


Reyna menoleh, nampak Praa berdiri dibalik meja kerjanya, sepasang mata elang itu menatapnya tajam menembus bilik kaca


"Aku makan diatas temani Pras" Reyna menenteng bungkus plastik yang tersisa 2 bungkusan didalamnya lalu melangkah menuju bilik kaca


Mengetuk-ngetuk seakan meminta persetujuan pemilik ruang untuk memasukinya. Pras hanya terdiam tak lepas menatapnya.


"Makan" ajaknya setelah pintu kaca didepannya terbuka


Pria itu berganti menatap perutnya yang indah membuncit, dress selutut yang ia kenakan tertarik naik memperlihatkan sedikit dari bagian kulit tubuh mulusnya dibawah paha


"Ayok, ibu hamil sudah lapar"


Reyna menutup pintu kaca itu dan berjalan menuju lantai tiga. Menoleh lalu tersenyum setelah memastikan Pras mengikutinya saat berada di tengah tangga.


Li****ke, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2