
Linda tak mengijinkan Reyna untuk mengambil cuti 2 minggu sebelum HPLnya, beliau memaksa Reyna untuk beristirahat 1 bulan sebelumnya.
Bukan Reyna namanya jika betah berdiam diri, ada-ada saja tingkahnya untuk melepas bosan. Dari mulai ikut senam hamil, jalan-jalan keliling kompleks pagi dan sore ini....
"Ampun Rey.... kamu ngapain?? " teriak Bianca melihat bokong besar Reyna dalam posisi menungging
"Ngepel.. " jawabnya santai
"Kamu kaya inem di serial TV, episode inem lagi bunting" Bianca tertawa menohok
Langkahnya santai menuju belakang rumah dan mengambil gagang pel
"Pakai ini, don't be like difficult people"
"Hah?" Reyna mendongak tak mengerti bahasa planet apa yang Bianca ucap
"Jangan kaya orang susah" sodornya gagang pel itu padanya
"Sengaja kaya orang susah..biar bayinya cepat lahir" selorohnya
Minggu kedua dimasa cutinya Reyna merasa mulas di pagi hari buta, bercak pink dia temukan membekas di celana dalamnya. Dia berusaha untuk tidak panik, dipaksakannya untuk kembali tidur mengingat ini masih terlalu pagi untuk membangunkan mama Linda maupun Bianca.
Pukul 6 pagi Reyna melangkah perlahan ketika mulas makin sering ia rasakan, dia ketuk pintu kamar Bianca yang berada dilantai atas.
"Apa Rey?" Bianca mengucek matanya malas
"Aku mulas" Reyna memegang perutnya sambil meringis
"Ehm ya sana pakai kamar mandi aku.. toilet bawah rusak?" Bianca berbalik hendak bergelung lagi ke ranjang
"Bi... " mengaduh pelan "Sepertinya anak aku mau lahir"
Bianca yang panik membangunkan mama Linda untuk segera bergegas ke rumah sakit. Tak seperti Bianca, mama Linda terlihat lebih tenang.
Menjelang sore menjelang Reyna belum juga mengalami pembukaan sempurna, keringat dingin membasahi bajunya, mulas dan sensasi sakit menjalar di sepanjang tulang belakang ketika kontraksi menyerang.
__ADS_1
Seperti yang dia dengar dari perawat dan penjelasan mama Linda bayinya hanya berputar-putar saja seperti kesulitan mencari jalan keluar.
Penat dia rasakan,sakit luar biasa saat obat pacu dimasukkan tahap demi tahap ke badannya, sudah 3 kali suntikan pacu diberikan tapi seakan tidak berpengaruh pada pergerakan bayinya.
"Sakit?? " Linda mengelus punggungnya
Matanya hanya terpejam, menahan sakit yang menjalar disepanjang tulang belakang tiap kali kontraksi datang
Pukul 9 malam, mama Linda mulai mencemaskan kondisi Reyna yang mulai melemah. Perawat menghubungi dokter dan menyampaikan padanya bahwa operasi adalah langkah terakhir.
"Reyna masih muat kok tante.. " ucapnya sambil tersengal "Reyna mau rasakan lahiran normal biar jadi ibu sejati"
"Reyna, normal atau operasi sama saja taruhannya nyawa. Tubuhmu mulai melemah pikirkan juga kondisi bayi dikandunganmu"
Bulir bening itu turun perlahan disudut matanya, terpaksa ia sanggupi untuk melakukan bedah caesar.
Sendiri ia rasakan ketakutan saat didorong memasuki ruang operasi. Denting pisau dan alat kesehatan disiapkan, berjuta semangat ia kumpulkan, tak lupa terselip doa ditiap kata.
Setengah jam berlalu dia dengar tangis itu tangis malaikatnya,tangis makhluk yang membuatnya bertahan sekuat karang.
"Suster.. saya mau lihat.. " pintanya disela kegiatan dokter suster dibawah sana. Perutnya terasa ditarik kekanan kekiri seirama dengan gerakan jarum menautkan kembali 7 lapis kulit perutnya.
Malaikat kecil itu menangis dengan kuatnya, dilihatnya, dicium sepuasnya sebelum suster membawanya pergi.
"Ibu.. malam ini usahakan tidur nyenyak ya, obat bius masih bekerja. Besok pagi jangan banyak bergerak dulu ya. Ikuti panduan kami" saran suster saat ia sampai di ruang inap.
Belum juga Reyna membuka mata di esok harinya. Ia rasakan sensasi sakit di perut bawahnya, kaku ia rasakan disekujur tubuhnya. Ia pejamkan mata menahan semua nyeri yang menyerang.
Perlahan ia buka mata melihat Mas Gandhi sedang tersenyum, apa aku mimpi
"Jangan banyak bergerak dulu.. " ucap pria didepannya pelan
"Mas..
Belum juga Reyna sempat menanyakan perihal pria itu bisa tahu keberadaannya, Linda masuk membawa bayi Reyna.
__ADS_1
"Anakmu haus Rey" Linda menyerahkan bayi itu kepada Gandhi selagi dia membantu Reyna memposisikan agar posisinya nyaman untuk menyusui.
Reyna melirik Mas Gandhi yang menimang bayinya, menciumi pipinya gemas.
"Tante yang menelepon kakakmu, tante takut terjadi sesuatu terhadapmu semalam. Bagaimanapun kamu adalah tanggung jawab tante sekarang" jelas wanita itu setelah Gandhi berlalu pergi.
Reyna mendesah pelan,setumpuk kegalauan menyeruak dipikirannya. Reyna mencoba menggeser posisinya ketika bayinya bergerak agresif mencari sumber ASI. Perut bawahnya terasa hampir robek hanya karena geliat sedikit.
Tante Linda mengambil bayi Reyna setelah bayi itu tertidur nyenyak kekenyangan.
"Sudah saatnya kalian bicara, tante ke ruang bayi dulu ya" pamit wanita itu.
Gandhi masuk kembali ke kamar rawat., ditatapnya Reyna dengan penuh sejuta pertanyaan dibenaknya
"Kenapa Rey?"
Reyna menatap mata Gandhi menantangnya dengan sisa kekuatannya
"Jangan pisahkan aku dengan anakku Mas"
Gandhi menggeleng kuat
"Tidak akan, kenapa kau biarkan dirimu menderita menanggung beban sendiri, sebodoh itukah?"
"Aku takut" Reyna menjawab takut "Aku takut Mas Gandhi tak membiarkanku merawat anakku karena...." Reyna tak menyelesaikan perkataannya
"Dia lahir darimu, darahmu mengalir disana artinya dia juga bagian dariku keluarga kita. Pulang Reyna..."
"Nggak Mas, kali ini biarlah Rey memutuskan. Aku ingin belajar mandiri dan bertanggung jawab, lagipula aku sudah berpenghasilan. Mas Gandhi jangan khawatir"
Gandhi berdiri menghembuskan napas beratnya, dia membaca pesan yang masuk ke ponselnya
"May ingin masuk kesini sejak semalam tapi Adam tidak diperbolehkan masuk. Aris masih diluar kota. Maaf aku tak bisa lama-lama menemanimu disini, kasihan Bapak sendiri dirumah. Aku janji akan rajin menengok keponakannku"
"Terimakasih Mas" Reyna merentangakan tangan yang disambut dengan pelukan hangat
__ADS_1
"Siapa nama jagoanmu?" bisiknya
"Dewangga..." sahut Reyna sambil tersenyum