
Hari Minggu pagi Reyna terbangun dengan panik, dia baru teringat janji temu dengan teman-temannya kantor. Bergegas dia memandikan Dewa dan mengemas beberapa keperluan lalu tancap gas menuju rumah Linda.
Sesampainya disana dijumpainya Bram keluar dari kamar dan berpakaian rapi
"Loh kesini nggak bilang-bilang Rey?"
"Mas Bram mau pergi?"
Bram mengangguk "Kerjaan"
"Hari minggu begini?? Kemana?"
"Ketemu designernya lagi, khusus aku minta ia datang untuk final project. Dua minggu lagi Bianca kan menikah dan dia segera pindah kesini jadi outlet harus segera buka Rey"
"Tapi Mas.."
"Apa kata orang nanti menantu Linda menganggur tak punya kerjaan" Bram menyentil hidungnya dan mengecup pipi Reyna sebagai rayuan
"Ya sudah aku dan Dewa pulang" Reyna berniat membatalkan janji temunya
"Kamu marah??"
"Tidak,,aku lupa ada janji sama anak-anak kantor membesuk teman sakit, usia Dewa tidak boleh masuk ke rumah sakit. Tadinya aku mau titip sama Mas sebentar"
Bram mendekat dan menggendong Dewa
"Biar Dewa ikut aku, yuk sekalian aku antar"
"Nggak usah nanti mengganggu. Belum lagi tempatnya nggak sehat buat Dewa" Reyna sudah membayangkan tempat kafe yang penuh asap mengepul
"It's okay Rey, aku akan pindah tempat saja yang ada play ground. Tak jadi soal"
Reyna mengangguk senang dia berjanji akan segera pulang setelah urusannya selesai .
.
.
.
"Maaf Pak Bram saya agak terlambat,lumayan macet jalannya" sapa pria yang terburu memasuki salah satu fast food resto
"Oh tidak masalah Pak. Maaf saya ubah lokasi pertemuan, saya harus bawa jagoan saya kesini. Mamanya ada urusan mendadak" ucap Bram sambil menunjuk Dewa yang duduk disebelahnya.
"Ohh.. tak masalah. Saya paham karena punya anak seusianya. Halo adik kecil.." pria itu termangu sesaat oleh wajah anak kecil didepannya, dia seperti tak asing.
__ADS_1
.
.
.
Reyna datang 2 jam kemudian, ia peluk Bram dari belakang untuk menganggetkan pria yang sedang berdiri memandangi Dewa yang bermain perosotan.
"Meetingnya sudah selesai Mas?" tanya Reyna karena meja Bram kosong tak ada orang.
"Belum..sebentar lagi, orangnya sedang ke toilet. kamu sama Dewa tunggu disini saja, kita pulang bareng"
"Ehmm,, aku ajak Dewa toko mainan sebelah saja ya"
.
.
.
Bram melambaikan tangan pada Reyna dan Dewa setelah mobil koleganya berlalu meninggalkannya. Senyum puas menghiasi bibirnya.
"3 minggu lagi launching produk Rey, akhirnya aku bisa lega, setidaknya pekan depan aku bisa tidur seharian"
"Ahhh..aku datang sebagai undangan saja Rey. Linda akan menahanku lebih lama di gedung nanti. Aku mau buru-buru istirahat saja di hotel" sungut Bram
"Aiiihh..bilang tante Linda sendiri ah, biar kena omel. Lagian siapa juga yang nikah malah Mas yang ngebet buru-buru ke hotel" protes Reyna
"Aku cuma tidak nyaman dengan suasana pernikahan" Bram berkata pelan
Suasana menjadi kaku
"Tapi tidak dengan malam pertamanya kok" Bram buru-buru mencairkan situasi
Reyna memutar bola matanya jengah kenapa semua makhluk pria tak jauh dari urusan ranjang.
.
.
.
Hari pernikahan Bianca tiba, ijab kabul berjalan lancar di pagi hari, pihak keluarga beristirahat dihotel hari untuk mempersiapkan resepsi dimalam harinya.
Reyna memeluk Bianca erat, dia nampak mempesona dengan gaun resepsinya. 3 jam lamanya Reyna menemani Bianca dirias untuk menjadi ratu sehari. Kali ini giliran dia menyempurnakan penampilannya.
__ADS_1
Perlahan Reyna berjalan ke kamarnya menjemput 2 prianya untuk bersiap turun. Bram terpana saat Reyna membuka pintu kamar, rambut panjang gelombang Reyna diikat rapi menyamping dengan beberapa hiasan bunga.
Meskipun sudah turun mesin, tubuhnya terbilang cukup sintal menggoda. Kebaya merah maroon yang serasi merah bibirnya memperlihatkan sedikit bagian belahan tubuh atasnya. Jarit lilit moden membentuk lekuk tubuh bagian belakang Reyna yang menjadi daya tarik wanita itu.
"Yuk Mas, gendong Dewa ya" ajakan Reyna membuyarkan Bram
Bram menggandeng tangan Reyna erat, matanya lekat menatap wanita disebelahnya
"Jangan jauh-jauh dariku nanti"
"Ehh kenapa.." Reyna mendongak menatap Bram, tangannya sibuk menata jarit lilit yang sedikit mengganggu jalannya belum lagi dia tak terbiasa dengan high heels
"Aku tak akan rela kalau ada yang naksir calon istriku nanti" jujur Bram
"Iya iyaa...aku akan gandeng lengan Mas semalaman...Takut kesleo kalau jalan sendirian" Reyna tergelak
Bram mencondongkan wajahnya hendak mencium pipi Reyna saat mereka bertiga memasuki lift, tapi dihalau oleh telunjuk Reyna
"Nggak boleh!" sahutnya sengit
"Cuma pipi" rayu Bram
"Nggak percaya"
"Janji ya nanti boleh? yuk buruan saja Rey, habis menyapa tamu dan keluarga kita ke kamar lagi"
Reyna menjejakkan kakinya
"Siapa yang nikah siapa yang ngebet masuk kamar. Lagian kita kan nggak sekamar"
"Halah..siapa juga yang akan peduli kita sekamar nanti" rayuan Bram tak juga berhenti
Reyna teringat kepada peristiwa saat benih Dewa ditanamkan ke rahimnya,reservasi 2 kamar dari perusahaanya hanya formalitas saat dia dan Bimo bermalam dikamar yang sama. Reyna cepat-cepat menggelengkan kepala menghalau pikiranya.
.
.
.
Ketiganya memilih duduk di dekat pintu keluar gedung setelah dirasa cukup menyapa kerabat dan tamu dekat. Banyak yang mendoakan mereka segera menyusul menjadi pasangan pengantin.
Reyna memijit-mijit kakinya yang pegal, sedangkan Bram masih sibuk mengekori Dewa yang lari kesana kemari dan sesekali bergoyang mengikuti alunan musik.
Setelungkup rasa bahagia mengalir lembut ke relung hatinya, dia menatap cincin di jemari manis kirinya. Mungkin sudah saatnya ia membuka lembaran baru dalam hidupnya.
__ADS_1