Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
24. Luluh lantak


__ADS_3

Reyna sangat susah memejamkan matanya malam ini, besok Senin sudah menjelang yang artinya dia akan bertemu kembali dengan Bimo, dia gelisah membayangkan apa yang akan terjadi besok.


Reyna beringsut dari ranjang menuju ke dapur berniat membuat susu hangat yang mungkin bisa membantunya segera tidur.


sepi


Sejak pembicaraan kemarin dengan Satria mereka tidak lagi bertegur sapa. Kedua mertuanya sudah pulang dari tadi pagi disusul Satria yang segera berlalu pergi dan sepertinya tidak pulang malam ini.


Reyna menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, Diambilnya ponselnya, membuka aplikasi whats up dan dia ketik nama Bimo disana, hatinya berdesir saat melihat pria tersebut masih online hingga selarut ini.


Reyna melirik jam dindingnya sudah lewat tengah malam, jemarinya mengetik pesan tapi kemudian dia urungkannya. Reyna menarik selimutnya menghitung domba dan kemudian terlelap...


.


.


.


Jauh disana Bimo sedang menatap lekat gambar profilnya, sama halnya dengan Reyna. Bimo juga bertanya-tanya apa yang sedang Reyna perbuat hingga selarut ini. Sejak kemarin Bimo dihantui pertanyaan kenapa Satria dan Reyna merahasiakan pernikahan mereka.


-----


Pagi harinya Reyna terbangun kesiangan,tergesa dia mandi berpakaian, memoles sun's cream sekenanya dan menyisir rambut seadanya. Motornya ia pacu sekencang-kencangnya.


Reyna menghela napas lega ketika berhasil absen 5 menit menjelang jam masuk.


Jantungnya berdegup tak karuan saat mulai mendekat ke meja kerjanya, tak nampak Bimo disana. Dia duduk dengan gontai mengeluarkan laptopnya dan mematung, Bimo tak pernah datang terlambat terkecuali jika mengharuskan bertemu klien di pagi hari. Reyna membuka ponselnya berharap ada pesan masuk dari Bimo mengenai pekerjaan tapi hasilnya nihil.


Reyna mengeluarkan cermin dan sisir hendak merapikan rambut, dilihatnya kantung mata terlihat jelas menghitam dan sun's cream mengering di beberapa pojok wajahnya karena tidak mengoleskannya dengan rata.


Buru-buru ia keluarkan tas make up-nya, mengaplikasikan pelembab, bedak tabur, maskara, eyeliner dan sengaja dia pilih lipstik dengan warna agak menyala.


done


Reyna memandang wajahnya dicermin, menarik sudut bibirnya memaksakan tersenyum. Tak terasa satu jam lamanya Reyna menanti dengan gelisah, dia ambil ponselnya dan menghubungi Bimo.


Tuttt Tuttt


"Halo" jawab pria di ujung sana

__ADS_1


"Kak Bimo dimana?" tanya Rey cemas


"Emmm..."


"Kakkk..."


"Nggak usah teriak-teriak"


Reyna membalikkan badan dan menatap pria yang di carinya berdiri dibelakangnya.


"Nggak lucu" desis Reyna


Bimo menutup laptop Reyna lalu membawanya


"Yuk ikut" ajaknya


"Kemana?"


"Kerja"


Reyna memandang Bimo takut-takut, pria itu hanya diam dibelakang kemudi sejak mereka meninggalkan kantor. Bimo mengajaknya menemui klien di salah satu perusahaan ternama, berdiskusi dengan beberapa perwakilan divisi hingga tak terasa waktu bergulir hampir menjelang makan siang.


Kepala Rey terasa berat karena melewatkan waktu sarapannya, pada akhirnya dia bisa berjalan gontai meninggalkan ruang meeting, Reyna hanya mengekori Bimo menuju lift. Beberapa kali dia pijit keningnya, pening......


"Kamu sakit?"


yesss akhirnya gunung batu es itu mulai mencair


"Lapar Kak" sahutnyaemah


Bimo hanya memandangi Reyna menyuapkan makanan dengan lahabnya. Dia pandangi bibir merekah yang hari ini dipoles dengan warna mencolok.


"Kak.." Reyna memanggilnya takut-takut setelah menyelesaikan makannya.


"Emm.."


"Kak Bimo marah?"


"Soal?" sahut Bimo pura-pura bodoh

__ADS_1


"Soal Aku... Satria.."


Bimo melirik jam tangannya


"Aku tak mau membahas masalah pribadi di jam kerja"


Bimo melenggang pergi menuju area parkir mobil


"Kemana lagi Kak?"


"Pulang"


---


Reyna hanya terdiam memalingkan wajah menatap pemandangan sepanjang jalan, sungguh dia merasa kesal karena diabaikan Bimo. Reyna terlarut dalam diamnya hingga tak menyadari mobil Bimo masuk ke pelataran salah satu rumah. Dia hanya bengong melihat Bimo turun dengan santai membuka pintu masuk rumah itu dan memasukinya.


"Kak, ngapain kita kesini? Kan kita mau balik kekantor"


"Kita?? Kamu maksudmu?" tanya Bimo balik


"Nggak bercanda deh" Reyna menghentakkan kakinya pertanda kesal


"Aku nggak becanda, tadi kan kamu tanya mau kemana, kalau aku mau pulang, nih pulang kerumah" Bimo melepas kaos kakinya dan melemparnya begitu saja.


"Trus aku?" Reyna masih bertanya dengan bodohnya.


Bimo mengedikkan bahunya


"Harusnya tadi bilang kalau mau balik kantor, kan bisa aku turunin didepan naik taksi" jelas Bimo


teeesss..


Air bening disudut mata Reyna membasahi pipinya. Dia hanya berdiri mematung, kekuatannya menguap seketika, sudah tidak dapat ia tahan rasa kesal marah sedih.


Bimo terdiam terpekur, ingin ia peluk tubuh lemah itu..selangkah dia maju kedepan.


"Tolong tutup pintunya kalau kau nanti pulang,kau bisa jalan kaki kedepan jika ingin naik taksi, dekat kok. Aku capek mau tidur" bisiknya lirih


Bimo berbalik melangkah masuk meninggalkan Reyna disana.

__ADS_1


__ADS_2