
Reyna terpekur menatap lembaran hasil laboratorium ditangannya, masih teriang jelas ditelinganya ucapan dokter yang waktu itu membaca hasilnya, terlambat!. Apakah Bram juga menyadari hal ini saat iya bersikukuh membatalkan rencana berobat ke Singapura karena merasa semua akan percuma.
Tiga hari sudah Reyna merenung, ia tak menghubungi Bram sama sekali sejak itu. Tak nafsu makan tak cukup tidur, bagaikan ABG patah hati yang merindukan mantan kembali. Rengekan si kecil Dewa hanya ia timpali tipis "Papa Iyo sakit".
.
.
.
Malam ini pesawat Bimo akan landing di kotanya, ia mengambil cuti satu hari agar bisa bertemu Dewa lebih lama.
"Kamu sakit Reyna? " pertanyaan pertama yang ia lontarkan saat melihat kondisi Reyna sekarang
Reyna menggeleng
"Papap Iyo atittt.. " Dewa berteriak menghambur ke pelukan Bimo
Bimo melirik menyelidik berharap ada kata yang terucap dari bibir Reyna, tapi nihil, wanita itu berjalan memasuki rumah dan berdiam diri di depan sofa ruang tengah.
.
.
.
Esok hari Reyna mendatangi butik hendak menemui Linda atau Bianca.
Hanya Bianca yang dapat ia temui, Linda belum juga kembali dari rumah sakit, hampir sebulan perempuan itu harus berjaga setiap malam.
"Tante belum balik Bi? "
__ADS_1
Bianca menggeleng, wajah wanita itu tak jauh lebih kusut darinya.
"Aku sudah bilang Mama memperkerjakan orang untuk jaga malam. Kasihan Mama kalau tiap malam harus menginap di rumah sakit. Suamiku juga pontang panting mengurus outlet sendiri. Sedangkan aku, harus fokus menghandle butik selama Mama tidak ditempat dan juga menjaga kehamilannku"
"Kalau Mas Bram sudah mau kutemui? Biar aku saja yang jaga malam di rumah sakit"
"Lalu Dewa?? " sergah Bianca
Reyna tertunduk lesu..
"Mama sudah bicara ke Mas Bram tapi.. "
"Tapi apa hah? " Reyna mendongak
"Kamu mau janji tidak akan menangis didepan Mas Bram?"
"Janjiii! " Reyna berteriak senang "Biar malam ini aku yang jaga malam, Dewa bisa tidur dengan Kak... " Reyna buru-buru menutup mulutnya.
"Kenapa Rey? ""
"Ehm, kau ingat waktu malam-malam aku bertengkar dengan Mas Bram dirumah tante? "
Dahi Bianca berkerut tapi kemudian mengangguk-angguk.
"Aku bertemu dengan ayahnya Dewa waktu itu tanpa memberitahu Mas Bram, makanya dia marah besar"
"Hah! Sudah kuduga dari awal, benar kan kalau Satria designer itu benar mantan suamimu! Tapi sampai sekarang bukankah masih ada kerjasama dengan perusahaannya, artinya hubungan kalian baik-baik saja kan"
Mata Bianca membelalak
"Ah kamu tidak memberitahu Satria soal Dewa??"
__ADS_1
Reyna menghela napas panjang, menyiapkan keberanian untuk melanjutkan kata-katanya
"Satria hanya penghubung untuk aku bertemu dengan ayah Dewa yang sebenarnya"
Bianca menatap Reyna penuh tanda tanya
"Maksudmu Satria bukan ayah kandung Dewa? "
Reyna mengangguk pelan
"Oh God! Oh Shit Reyna! Kamu.. arghhh! "
"Mau bilang aku ****** pun tak apa.. tak usah sungkan" Reyna mencibir "Yang jelas saat ini ia orang yang bisa kuandalkan menjaga Dewa agar aku bisa bertemu dengan Mas Bram"
"Please Bi... Do you believe of miracle? I'm really sure that he needs me at this moment! " merayu Bianca jauh lebih mudah daripada merayu Linda
"Tell me about him first! " Bianca mendelik jengkel
.
.
.
Keduanya menghabiskan waktu di cafe dekat kantor, Bianca manggut-manggut mendengar semua cerita dari Reyna.
"Amit-amit, jangan sampe deh Mas Gandhi tahu! " Reyna bergidik ngeri
Bianca melihat Reyna penuh arti, rasanya memang tak adil membiarkan Reyna seperti ini. Bukankah dia juga bagian dari hidup Bram, kepingan hati yang membuat Om.nya menemukan hidupnya kembali, kepingan hati yang mungkin bisa membuatnya luluh lantak saat melihatnya menangis tersedu.
Bianca menelepon Linda untuk meminta Reyna agar bertemu Bram malam ini. Linda hanya mengiyakan dan mengabarkan jika ia mendapat lampu hijau dari Bram.
__ADS_1