Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
88. Ulang tahun


__ADS_3

Sudah sebulan Bram berpulang tapi Reyna masih sering menitikan air mata jika teringat sekecil apapun yang berhubungan dengan Bram.


Seperti saat ini saat ia membereskan meja kerjanya dan menemukan kartu nama percetakan tempat ia berencana mencetak undangan pernikahannya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia kendalikan, dadanya sesak merasakan sakit yang menghimpit. Hanya serangkaian doa yang bisa ia panjatkan.


.


.


.


Reyna sedang membuka galeri ponsel memandang foto kebersamaan saat bersama Bram ketika ponselnya berbunyi.


"Halo..ada apa Kak" jawabnya


"Halo Rey, minggu depan Dewa ulang tahun kan?"


"Ahhh.. iya Kak"


"Kita kemana?"


"Ehh.." Reyna melirik tanggal yang ia lingkari merah dikalender meja "Weekday Kak"


"Memangnya kenapa?"


"Kak Bimo kan kerja, aku juga"


"Ambil cuti sajalah"


"Emmm... "


"Okay fix, bye Rey"


panggilan itu terputus sebelum Reyna mengiyakan


.


.


.


Disinilah mereka bertiga, dipantai pesisir kota. Bimo menyewa pondokan untuk melepas penat seharian ini, hanya untuk beristirahat bukan menginap karena malam ini Bimo harus bertolak kembali untuk berkerja esoknya.


Matahari terbit menyambut mereka sepanjang perjalanan, sengaja berangkat pagi buta agar mereka cukup beristirahat siang harinya.

__ADS_1


"Yuk Dewa main pasir" Bimo merentangkan tangan, pria itu sudah mengganti celana panjangnya dengan celana kargo selutut.


Dewa yang sedari tadi sudah berganti baju santai berjingkrak kesenangan


"Kamu nggak ganti baju Rey.. " tegur Bimo


"Ehmm, iya bentar.. " Reyna sendiri masih sibuk menyiapkan makanan yang ia pesan dari pihak penyewaan pondok "Nanti bantu bawa ini, sama ini. Ehm itu juga ya Kak"


Bimo hanya mengangguk-angguk pasrah saat pelampung di lingkarkan di lehernya, tangan kanan memegang kotak berisi 3 kotak makanan berat, tangan kiri memegang tas plastik berisi air mineral, ketiaknya masih mengamit tikar.


"Kamu bawa apa dong..?" tanyanya bersungut-sungut


Reyna hanya tergelak "Aku bawa ini.. " tunjuknya menunjuk ke 2 kantong plastik yang hanya berisi makanan ringan "Ini nih yang namanya totalitas buat anak Kak"


"Iya .. iya..asal kalian senang" jawab Bimo enteng ia lirik Dewa yang menenteng ember kecil berisi peralatan bermain pasir.


Bimo berjalan paling belakang, senyumnya tertarik melihat ibu dan anak itu berlari riang menuju bibir pantai. Reyna tampak segar dengan legging selutut dan kaos pantai bernuansa floral, sudahkah wanita bangkit dari keterpurukan.


- - -


"Dewaa... ayo makan dulu... " Reyna melambai dari tempatnya duduk di bawah pohon rindang


Dewa menggeleng meskipun Bimo sudah membujuknya


"Capek Kak?" pria itu hanya meringis "Makan dulu deh nanti gantian aku yang temani Dewa"


Bimo merebahkan badannya ke tikar, celananya basah dari lutut ke paha


"Suapin Rey.. " mintanya manja


Wanita itu hanya menurut saja, membuka salah kotak makanan. Memotong sedikit sedikit semua bagian yang ada dikotak itu dan menyuapkannnya.


"Eewa tzahun inhi sekoyah ya Ley" tanya Bimo dengan mulut penuh


"Heem.. " mata Rey menatap tubuh kecil yang masih asik mengeruk pasir "Aku sudah cari beberapa brosur sekolah, nanti Kak Bimo lihat juga ya"


Bimo menenggak air mineral ditangannya


"Kamu nggak berniat pindah Rey?"


"Pindah? Kemana? Kenapa pindah?" jawab Rey beruntun


"Kita jadi satu kota gitu?" tanya Bimo hati-hati

__ADS_1


Reyna menggigit bibir bawahnya sambil menyuapi Bimo, jelas ini bukan masalah Bimo yang bolak balik hanya untuk bertemu Dewa, ada hal lain yang ingin Bimo sampaikan.


"Aku belum siap meninggalkan kota ini Kak"


Bimo menggenggam tangan Reyna yang terulur padanya "Nggak apa-apa kok Rey, aku ngerti.. " diarahkan tangan itu ke mulutnya sendiri dan menepuk-nepuk perutnya kekenyangan berkat suapan terakhirnya.


"Gantian kamu makan sini aku suapin" tawar Bimo


Reyna menggeleng "Nanti kalau Dewa sudah makan, mana nikmat ibu ibu makan kalau anaknya belum"


"Memang ada rumusnya gitu?" Bimo mencomot potongan melon


"Ya gitu deh Kak kalau jadi emak-emak.."Reyna berdiri dan berjalan menuju Dewa membujuknya untuk menyudahi kegiatannya karena matahari sudah meninggi. Lebih tepatnya mengomeli Dewa dengan gemas karena tak kunjung beranjak


" Ecok Ewa mau sini ama yayah, mama alakkk" sungut bocah kecil itu


"Iya iya, besok sama ayah berdua mama ngemolll" sahut Reyna tak kalah sengit


"Sudahlah Rey, jangan kamu omelin Dewa dihari ulang tahunnya" Bimo menarik tubuh kecil itu dan mendudukannya dipangkuan "Nanti sore main pasir lagi ya, sekarang makan dulu trus bobo"


Begitulah bocahnya ketika sedang tak bersahabat dengannya.


Dulu sebelum ada Bimo, Bram-lah yang selalu menjadi pahlawan buat Dewa, penyelamat dari omelan khas emak-emak.


Ahh hatinya teriris pilu tiap kali teringat sosok itu.


.


.


.


Reyna menggeliat keenakan terbangun dari tidur siangnya, Dewa masih meringkuk nyaman disebelahnya.


Kakinya diseret keluar menuju ruang utama pondokan, nampak Bimo berselonjor kaki dan asik dengan tablet ditangannya.


Pelan Reyna mendekat dari arah belakang, melongok hati-hati ke arah tablet


"Kak Bimo kerja???? " pekiknya tertahan melihat deretan angka di aplikasi excel yang sedang ditatap Bimo hati-hati


Bimo menengok ke belakang "Ehmm, enggak cuma ngecheck data harian" buru-buru ia tutup dan matikan tabletnya.


"Tuh kan.. makanya nggak perlu deh ambil cuti kalau kepikiran kerjaan" Reyno menghempaskan tubuhnya disofa depan Bimo

__ADS_1


"Aku nggak biasa tidur siang Rey, mau nyalain TV takut ganggu kalian" elaknya "Dewa belum bangun? sebentar lagi sunset loh"


__ADS_2