Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
150. Salah (1)


__ADS_3

Ponsel Bimo berdering tak henti saat Reyna menyiapkan seperangkat baju kerja suaminya. Tak seperti biasanya yang hanya acuh atau meneriaki suaminya agar lekas keluar dari kamar mandi. Reyna mendekat dan melihat layar ponsel, tertera deretan angka disana. Dahinya berkerut, ponsel itu mati sesaat lalu berdering lagi.


Huh! perasaannya tak enak, siapa lagi pasti si perempuan ular. Tangannya terulur dan menggeser tombol hijau, menempelkan telinga tanpa menjawab.


"Bim" sahutan pendek dan lirih dari seorang perempuan di ujung sana


Reyna mendengus "Tolong, jangan ganggu suami saya" sahutnya ringan


Kemudian mengakhiri panggilan itu, kepalanya berdenyut. Perempuan ular akan tetap menghubungi suaminya dengan cara apapun.


"Kenapa Rey?" Bimo keluar dari kamar mandi dan melangkah mendekatinya


"Dicari" Reyna menyodorkan ponsel milik suaminya


"Siapa?"


"Siapa lagi kau pikir" Reyna menghentakkan kakinya kesal


"Perempuan itu tetap akan berusaha menghubungimu Kak" lanjutnya


Bimo melempar kesal ponselnya, ia sangat menghindari keributan sekecil apapun di pagi hari. Mood istrinya pasti akan buruk hingga malam nanti.


"Dan aku akan berusaha bagaimanapun untuk menghindarinya, paham!" jawab Bimo dengan penuh penekanan


"Kenapa kau harus menemuinya waktu itu" Reyna mengambil handuk dari tangan Bimo dan membantu menggosokkan punggung sementara pria itu mengenakan celananya


"Seperti itulah wanita, jika kau beri hati. Kami kaum yang bermain perasaan" lanjutnya


"Reyna, bisakah kau tak membahasnya?" Bimo membalikkan badan dan memandang istrinya


"Bukankah Kak Bimo bilang ia sudah bersuami, apa mereka ada masalah dan perempuan itu kembali ke tanah air?"


"Aku tak tahu Rey"


"Lantas apa yang kalian bicarakan di kafe waktu itu??"


Bimo mengambil kemejanya, menautkan alis berusaha mengingat-ingat


"Cuma memberikan ucapan selamat ulang tahun. Lalu minta maaf untuk masa lalu karena memporak porandakan hatiku waktu itu"


"Hanya itu?"


"Iya. Selebihnya hanya menanyakan bagaimana hidupku sekarang. Aku jawab hidupku bahagia, aku punya karir, punya keluarga, istri yang cantik dan sebentar lagi anakku dua"


Bimo mengusap-usapkan telapak tangannya di perut Reyna sementara istrinya sibuk menautkan kancing kemejanya

__ADS_1


"That's all??" Reyna memicingkan matanya


"It was taken 15 minutes only. I left once I realized I did a huge mistake to met her"


Bimo menghela napas "I'm so sorry... " memeluk tubuh istrinya dan menggoyang goyangkan


"Benar kata Om Alex. Kak Bimo memang ceroboh" Reyna mendorong dada suaminya, berjalan menenteng handuk basah ke kamar mandi


"Rey.. mana dasiku" teriak Bimo beberapa saat kemudian


"Di tempat biasa" sahut Reyna dari kamar mandi


"Nggak ada"


Reyna melongokkan kepalanya melihat Bimo hanya berdiri dan berkacak pinggang. Dasar laki-laki, kalau mencari barang itu pakai mata bukannya pakai mulut. Belum juga berusaha sudah menyerah.


"Nih... " Reyna menyodorkan selembar kain tergulung rapi, pria itu hanya cengar cengir


"Jangan coba-coba punya simpanan jika mengingat barang sesederhana saja kau lupa!" ancam Reyna sambil mengetatkan ikatan dasi dileher suaminya


"Iya iya... " Bimo mengendurkan ikatan dilehernya sambil menelan ludahnya kelat.


Hah kenapa hidupnya penuh ancaman seperti ini sejak Lidya datang. Dasar sial! Sabar sabar dua bulan lagi juga sudah cao bella


"Seharian ini pasti dia berusaha menghubungimu, bisa jadi nekat menemuimu lagi di kantor" bisik Rey sambil menuruni tangga, ia takut Om Alex mencuri dengar


"Jangan kabur ke Mas Satria lagi, seperti anak kecil saja"


"Bisa antarkan aku makan siang? Biar aku tidak keluar kemana-mana" pinta Bimo


"Baiklah.. nanti aku antar sekalian jemput Dewa sekolah ya, biar tidak bolak balik"


.


.


.


Dengan riang Reyna menyiapkan bekal untuk Bimo didapur, melirik benda yang berdetak pelan didinding.


Nasi putih, ca jamur kancing dan upin ipin goreng. Tak lupa jus apel yang ia siapkan di shaker. Done!


Melenggang lalu melajukan mobilnya menuju sekolah anaknya. Berdua melanjutkan perjalanan menuju kantor Bimo, anak itu nampak riang karena pertama kalinya diajak ketempat kerja ayahnya


Lobi kantor nampak sepi, Reyna berjalan ke meja resepsionis sambil menggandeng Dewa. Tak lupa ia sapa lebih dahulu bapak security yang masih saja bekerja disana saat dirinya bekerja 6 tahun silam

__ADS_1


"Siang Pak, mau ketemu Pak Bimo"


Petugas security itu tertawa kecil "Nggak sangka ya mbak Reyna, dahulu mau lamar pekerjaan sekarang sudah jadi istrinya"


"Mau titip makan siang Mbak" sapa Reyna ke resepsionis


"Eh, Bu Bimo. Naik sajalah" gadis itu ternyata mengenalinya


"Memang boleh? Nanti kalau ada big bos gimana?"


"Aman.. lagi keluar negeri. Aku telepon Pak Bimo dulu ya"


Tak berselang lama, Reyna sudah memasuki lift naik ke lantai dua. Bimo sudah menunggunya di depan lift sambil tersenyum


"Ayo Dewa, ayah ajak keliling sebentar" dua tangannya terulur menggendong putranya


Bimo berkeliling menunjukkan rekan kerjanya pada Dewa yang tentunya sudah pernah mereka temui dihari pernikahannya


"Dewa nggak minta adik??" itulah pertanyaan yang paling umum


---


"Yuk kuantar turun" Bimo membuka pintu ruang kerjanya setelah dirasa cukup bercengkarama dengan anak istrinya


"Nggak usah, lanjut kerja saja" Reyna melambaikan tangan pada Dewa yang masih takjub memandang ruang kerja ayahnya, memainkan vertical blind berkali kali


"Tak apa, cuma sampai bawah nanti aku naik"


Bimo menggendong Dewa dan menggandeng istrinya menuju lift. Ahh, ingatan Reyna melayang saat pertama kali ia naik lift ini. Memandang pria disebelahnya yang tak ia sangka menjadi suaminya, ayah dari anaknya.


Bimo menoleh kearah Reyna, tersenyum penuh arti, merengkuh tengkuknya dan mencium lembut bibirnya.


"Ayah cium Mamaaa.... " Dewa berteriak histeris


Sehisteris lengkingan wanita saat pintu lift terbuka lebar dan menyaksikan ciuman romantis bak drama korea didepannya


Reyna berdiri mematung melihat wanita yang bergantian menatapnya dan Bimo. Wanita itu menghempaskan tangannya dari genggaman bapak security yang berdiri disampingnya. Berbalik dan berlari keluar lobi, suara hentakan dari high heels nyaring terdengar di ruangan yang lengang.


"Dasar perempuan ular" desis Reyna


"Maaf Pak Bimo, saya sudah usir tapi nekat mau naik lift" ucap bapak security


"Lain kali jangan sampai dia masuk ke lobi, apalagi naik!" pinta Bimo dengan geram


"Aku pulang Kak" Reyna menggandeng Dewa dan berlalu pergi

__ADS_1


Bimo mendesah gusar, malam ini sudah jelas ia tak akan mendapat jatah. Nasibb......


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2