Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
35. Hamil


__ADS_3

Bimo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia lirik gadis ehhh wanita disebelahnya. Reyna mengurai rambut gelombangnya yang sedari tadi dikepang menyamping, mematut-matutkan dicermin atas penumpang.


"Kalau gini nggak kelihatan kan Kak?" Reyna menghadapkan badannya ke Bimo


Bimo hanya mengangguk asal tanpa melihat


Semenjak mereka meninggalkan hotel Reyna tak habis-habisnya mengomelinya karena telah meninggalkan jejak kelaki-lakiannya dileher membuatnya bingung bagaimana menutupinya.


Reyna disibukkan menata rambutnya untuk menutupi, tak mungkin ia kuncir bebas ke atas seperti hari-hari biasanya.


Bimo tak memperdulikannya, rumor kedekatan mereka memang sudah santer terdengar. Baginya jejak kelakiannya itu adalah penanda tak ada yang boleh mendekati wanitanya itu. Egois! Posesif! hah dia sudah 90% mirip Satria.


Mata Bimo malah asik tertuju pada 3 kancing blouse Reyna yang berada tepat di atas bagian menonjol. Ahh otak kotornya kembali hadir, beginikah nikmat bercinta dengan anak perawan, Bimo masih bisa mengingat sensasi di batang kelakiannya saat memasuki liang sempit yang menggigit, jerit kesakitan yang memilukan justru makin meledakkan hasrat.


Laju mobilnya terhenti karena lampu merah, diusapnya punggung tangan Reyna dan digenggamnya erat.


"Mau makan apa tuan putri?"


"Fast food saja Kak"


"Nggak sehat"


"Lapar"


"Lapar atau kau incar es krimnya"


Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya Reyna meringis seperti anak kecil ketauhan berbohong ehmmm anak kecil, dia lirik perut datar Reyna. Mungkinkah benih yang ia sebar semalam akan menumbuhkan benih cinta mereka.

__ADS_1


Reyna merengut saat mobil Bimo melewati semua fast food resto, Bimo bersikukuh untuk mencari menu lainnya. Bimo memarkirkan mobilnya di dekat lapak lontong opor pinggir jalan, merayu Reyna turun dengan iming-iming akan berlanjut ke kedai es krim sesudahnya.


Reyna makan dengan tak berselera, dia kurang suka makanan bersantan terlebih dipagi hari, perutnya akan mual jika terisi makanan berat. Berbeda dengan Bimo yang makan dengan lahabnya.


Sesuai janjinya Bimo mengantarkan Reyna kekedai es krim, tempat dimana mereka berdua bertemu waktu itu.


Bimo menikmati kopinya sambil melihat Reyna yang makan es krim dengan riangnya, ponsel di saku bajunya berdering.


"Iya Sat..eeemm sudah , barusan.. di coffe shop biasanya anterin Reyna"


*#¥@¥×,#&€#(+,,@^£#× bicara pria diseberang sana


"Okay kutunggu"


Bimo menyerahkan kontak mobilnya kepada Reyna


.


.


.


Reyna membelalak "Kak Bimo jangan bilang Mas Satria kan kalau kita..." ahh Rey menutup mulutnya saat tersadar.


"Hish kau ini, bisa dikubur hidup-hidup aku!" canda Bimo


"Kak..."

__ADS_1


"Emm.."


"Kalau aku hamil bagaimana?" bisik Rey pelan


Bimo menegakkan duduknya, hemm ya akhirnya pertanyaan itu muncul, digenggamnya jemari Reyna


"Reyna, aku beranjak besar tanpa sempat merasakan kasih sayang seorang ayah, kau pikir aku akan tega membiarkan calon anakku nantinya hidup tanpa ayah?"


Reyna memandang pria itu, dari cerita yang Reyna tahu dari Bimo. Ayahnya telah berpulang sejak dia masih kecil dan besar dengan mendiang Ibunya. Dia selalu iri dengan teman-temannya yang bisa merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orangtua.


.


.


.


"Ehemmm..." deheman Satria membuyarkan romansa dua sejoli itu.


Reyna segera menarik jemarinya dari tangan Bimo, lalu sibuk merapikan rambutnya .


Satria menarik bangku di meja sebelahnya dan duduk diantara mereka.


"Ganggu ya" lirik Satria penuh selidik


Reyna menunduk tak berani melihat Satria, ia pun buru-buru menghabiskan es krimnya kemudian beranjak permisi meninggalkan keduanya.


"Kamu kenapa bro, tampangmu lecek kaya cucian belum disetrika?" Bimo meledek Satria yang duduk gontai setelah mengambil pesanan kopinya.

__ADS_1


"Niken hamil!" sahutnya pelan


__ADS_2