Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
97. Harapan Bimo


__ADS_3

Mata Reyna memicing saat semburat sinar mentari menerpanya di sela-sela rimbunnya pepohonan pinus yang terbentang indah di jendela tanpa penghalang didepannya. Nampak sosok Bimo sedang menikmati kepulan asap yang keluar dari sela bibirnya bersandar disisi pagar bambu.


Reyna membalikkan badannya tak ditemui tubuh mungil Dewa diranjang. Alih alih memanjakan tubuhnya untuk bergelung lagi dalam selimut, ia  terpaksa turun menyeret kakinya malas menuju teras pondokan, terlihat dari jauh Dewa sedang bermain abu bekas api unggun semalam dibawah sana, Reyna memeluk tubuh pria  yang itu dari belakang lalu mengusap-usapkan wajahnya ke punggung bidang itu.


Bimo menoleh ketika menyadari kehadiran Reyna, menghisap dalam rokoknya sebelum menekannya ke asbak didekatnya. Dia berbalik dan meraup wajah Reyna, mencium kedua pipinya dan mendaratkan kecupan lembut bibir wanita itu. Reyna mengelak malu, bibirnya mengecap rasa manis dan gurih dari filter rokok Bimo yang menempel.


.


.


.


Ketiganya duduk di meja makan menikmati  beberapa menu sarapan, Dewa memakan bagiannya dengan lahab.


''Ma,,,kata yayah kita mau iat kinci''


''Kelinci?? oh ya.." Reyna melirik Bimo yang mengangguk-angguk


''Nanti Ewa mau acih akan otel''


''Wortel saja?''


''Ehmmm...'' anak kecil itu menautkan dua alisnya berpikir keras ''Apa agi yah?'' tanyanya pada Bimo


''Kangkung''


''Ya...akung'' tiru Dewa ''apa agi'?'


''Selada''


''Oooo,...hijau hijau yang di oti pongbob'' (roti spongebob) Dewa mengernyit ''Ewa nggak suka itu''


Bimo tergelak ''Aku menang banyak dari kamu Rey, bukan saja wajahnya yang mirip denganku ternyata selera makannya juga sama''


Reyna mendengus, ia baru tersadar kalau Bimo juga tak menyukai sayuran selada ''Tahu nggak Kak, didalam perut saja dia sudah mirip kamu, suka lontong opor''


Bimo kembali terbahak mendengar hal yang baru ia ketahui

__ADS_1


''Mama yang bawa kamu kemana-mana 9 bulan kebagian apa dong Wa...?'' Reyna ikut-ikutan tertawa


''Dewa mau adik kecil?'' tiba-tiba Bimo bertanya hal sensitif itu kepada Dewa


Reyna meletakkan sendok dan mendelik ke arah Bimo


''Ewa unya akak ukan ade ayi, Ewa ada Mas Adam'' jawab Dewa


''Kan lucu kalau punya ada adik bayi, nanti diajak main'' rayu Bimo


''Enggak au...'' Dewa menggeleng


Reyna tersenyum penuh kemenangan


''Dewa nggak mau juga kalau punya adik cantik kaya Rara'' Bimo masih saja membujuk


"Lala???'' mata anak kecil itu berbinar-binar


''Iyaa... Rara cantik anaknya tante Niken'' Bimo melirik ke arah Reyna yang mulai gusar


Sekarang giliran Bimo menyunggingkan senyum puas


.


.


.


Mini farm yang dikunjungi ketiganya masih berada di satu lokasi dengan pondok yang mereka sewa, Reyna bersandar di pagar pembatas beton menghadap sisi tebing yang membentang didepannya sambil merapikan rambutnya yang kusut diterpa angin dengan jemarinya. Bimo memeluknya dari belakang, mengusap-usap perut Reyna dan berbisik manja


''Kamu mau kan Rey mewujudkan keinginan Dewa, punya adik kecil yang cantik''


Reyna memutar kepalanya, memandang Bimo dengan mata sendu


''Kak... kita terlalu cepat membahas hal ini''


''Hemmm..iya iya..'' Bimo memutar tubuh Reyna mengamit pinggangnya dan menariknya erat disamping tubuhnya,

__ADS_1


''Aku cuma membayangkan punya anak perempuan, pasti cantik sepertimu Reyna. Biar adil satu sama'' Bimo tersenyum-senyum.


''Kak, biarkan aku menikmati masa-masa seperti ini dulu'' Reyna mengusap-usap punggung Bimo dan mendongak menatap pria itu dengan penuh perasaan.


Keduanya lalu berjalan menghampiri Dewa yang berlarian mengejar kelincii berusaha menangkap dan memaksa memberinya makan. Tak segan Dewa merangkak naik ke bukit-bukit kecil tempat para kelinci bersarang lalu melorot kebawah, begitu berulang-ulang hingga baju dan celananya kotor karena tanah lembab.


Selepas dari mini farm Reyna meminta Bimo untuk mengantarkan ke sentra tanaman, Reyna berniat membelikan beberapa macam bibit tanaman untuk  taman belakang Om Alex.


.


.


.


Menjelang siang mereka sudah sampai dikediaman Om Alex, Bimo membopong Dewa ke kamar yang tertidur di perjalanan lalu menyusul Reyna yang lebih dahulu ke taman belakang bersama Om Alex. Keduanya nampak berbincang ramah dan sesekali tertawa kecil hingga tidak menyadari kehadiran Bimo disana.


''Terimakasih Reyna, Om suka tanamannya'' Alex menenteng koran yang sejak tadi ia baca diteras depan saat mereka tiba.


''Reyna punya tanaman unik dirumah, nanti Reyna titipkan Kak Bimo ya''


''Ehem..Rey. Kamu masih pegang janjimu kemarin kan?'' Om Alex berbisik didekat telinga Reyna tapi masih cukup jelas terdengar untuk Bimo


''Beres Om,, aman kok'' Reyna mengangkat jempolnya


Tiba-tiba saja Bimo merasa kesal ''Aman Om dijamin aman,,,'' seru Bimo dari belakang


Keduanya menoleh kearah suara Bimo


''Tentu saja aman, karena Om yakin Reyna tak akan ingkar janji. Beda soal jika Om yang minta kamu berjanji'' Alex berujar selugas mungkin


''Om ini nggak sayang keponakan sendiri, padahal Bimo kemarin sudah berniat baik  maumembuatkan cucu perempuan buat Om''


Hish Reyna memutar bola matanya ,lagi-lagi jengah mendengar Bimo yang melantur mengenai anak perempuan


plakkkkk


Pukulan cukup keras mendarat ke kepala Bimo membuat pria itu meringis kesakitan , gulungan kertas koran itu rupanya cukup menyakitkan lebih-lebih jika dipukulkan dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2