Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
106. Takut (2)


__ADS_3

Satu bulan berlalu tanpa bertemu, Bimo dan Reyna benar-benar larut dalam kesibukan masing-masing.


Entah karena Reyna terlalu memikirkan ucapan Bianca atau memang benar Bimo seakan menjauh dan tak seagresif sebelumnya. Ditambah pertemuan terakhir mereka meninggalkan kekecewaan Bimo terhadapnya.


Sore ini Reyna menyempatkan waktu berziarah ke makam Bram, ada rindu yang menyergap disudut hatinya. Perlahan diusapnya batu nisan yang ia guyur dengan air mawar, jemari Reyna sibuk menata kelopak bunga mawar.


"Mas Bram, apa kabar? Maaf Reyna baru sempat kesini. Reyna sibuk sejak Bianca cuti"


"Reyna kangen Mas Bram, lama tak tengok Reyna lewat mimpi"


"Dewa sudah besar sekarang ehm tepatnya sok besar sih, sudah lancar berhitung dan menulis huruf loh. Dia inginkan adik cantik, dan katanya... "


Tersekat Reyna menelan ludahnya "Mas Bram.. apakah aku salah jika mulai membuka hati lagi? Jika dulu Dewa adalah alasanku untuk mempertahankanmu dan memilihmu, apa aku salah jika aku memutuskan untuk melanjutkan hidupku dengan Kak Bimo sebagai ayah kandung Dewa?"


Termangu masih menatap taburan bunga didepannya, tak terasa bulir bening menghangat dipelupuk mata dan terjatuh menetes "Maaf... maaf jika menurutmu ini terlalu cepat"


.


.


.


Tuttt... tuttt....


Reyna membanting ponselnya kasar ke ranjang, sudah sehari eh dua hari salah tepatnya tiga hari ini sama sekali tak ada pesan atau telepon Bimo.

__ADS_1


Pria itu mengacuhkan semua pesan darinya, bahkan sia-sia saja ketika Reyna berusaha menghubunginya malam ini.


Reyna merindu semua perhatian Bimo, pesan yang hanya berisi simbol hati, panggilan ditengah-tengah kesibukannya hanya untuk sekedar mengingatkan makan.


"Dewa kangen ayah Bimo?" tanya Reyna kepada bocah kecil yang sedang asik menggambar


"Tangen... " anak kecil itu mengangguk


"Yuk video call" Reyna meraih ponselnya lagi


"Nggak au.. " Dewa menggeleng


"Loh kokkk.. katanya kangen.. ayok telepon ayah"


Ishhhh... gemas rasanya. Reyna gengsi jika harus berusaha menelepon Bimo lagi, padahal hatinya sedang dilanda rindu berat. Alih-alih membujuk Dewa untuk alasan ia menelepon justru jagoannya menolak.


Reyna tak bisa jua tertidur, badannya berguling kesana kesini tidak jelas. Berkali-kali ia membuka kontak Bimo dilaman whats app, status online tertera disana tapi kenapa tak juga menghubunginya.


Bibir bawahnya ia gigit, cemas mulai menelusup. Ingatannya kembali pada saat Bram mulai menghilang dan ternyata... Arrgh segera ia gelengkan kepala kuat-kuat. Tak mungkin! Bimo pasti hanya sedang marah padanya.


.


.


.

__ADS_1


Tempat ini luas bagai tak berujung, rerumputan dengan pepohonan rindang. Sinar mentari terang tapi tak menyilaukan juga tak terasa menyengat di kulit.


Aku berjalan di sepanjang jalan setapak, sejauh mata memandang hanya hijau terhampar dan apa itu? Terlihat nampak seorang pria berdir di salah satu pohon rindang.


Langkahku terayun menuju kearahnya, makin dekat senyum disudut bibirku merekah. Sungguh aku ingin segera sampai dan mendekapnya.


Pria itu menggeleng pelan memintaku berhenti melangkah saat jarak ini hanya sekian langkah, dia menatapku dengan binar mata bahagia dan tersenyum sangat lepas.


Suaraku tersekat tak keluar sama sekali saat aku berusaha memanggilnya. Pria itu berbalik dan melangkah menjauhiku. Sekuat tenaga aku berusaha berteriak untuk memanggilnya.


----


"Mas Bram... Mas Bramm.. " mata itu terbelalak lebar karena terkejut saat pekikan itu terdengar nyaring ditelinga.


Dada Reyna naik turun, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi kening turun ke pelipis nya.


Mimpi... dia hanya bermimpi...


Pukul 3, arghh kenapa dia harus bermimpi di dini hari seperti ini. Perlahan ia turun dan menyalakan lampu, ditenggaknya sisa air minum digelas yang ia letakkan di nakas.


tutttt... tutttt... tutttt.. tuttt..... tutttt... tutttt....tuttt...


"Halo... " suara serak terdengar disana setelah sekian nada panggil


"Kakk... " pekik Reyna tertahan disusul tangisnya pecah kemudian.

__ADS_1


__ADS_2