
"Barusan pulang Kak?" tanya Reyna keluar dari kamar mandi saat ia dengar pintu kamarnya terbuka
"Iya, maaf aku pulang malam. Barusan aku ke kamar Dewa tapi sudah tidur"
"Iya tak apa" Reyna membantu melepas dasi dan kemeja
"Sudah makan?"
Bimo mengangguk dan melangkah menuju kamar mandi.
Menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil, ia lirik Reyna yang tengah mengoleskan body lotion ditiap jengkal tubuhnya.
"Rey, aku ada oleh-oleh" tunjuk Bimo pada sekantong plastik diatas nakas
"Test pack?? banyak banget Kak!" Reyna mengambil segepok test pack dari berbagai macam merk
"Besok pagi kamu coba semua ya, siapa tahu ada yang jadi dua garis"
"Iya... " Reyna menjawab sekenanya
"Kok kamu lesu gitu"
"Habisnya aku nggak ngerasa hamil"
"Tapi kamu kan sudah lewat datang bulan" Bimo menunjuk kalender
"Ehmmm... iya ya telat dua minggu"
"Bikin lagi yuk malam ini, siapa tahu nanti jadi kembar" Bimo nyengir-nyengir senang
.
.
.
Pagi hari saat bangun tidur Reyna mencoba tiga test pack sekaligus, sesuai prediksinya semua negatif.
"Gimana?" Bimo menunggu dengan mata berbinar diluar pintu kamar mandi
"Negatif" sahut Reyna membuyarkan binar mata suaminya
"Coba lagi! Semua kalau perlu. Kan kamu telat masa nggak hamil" frustasi tak karuan
"Telat menstruasi bukan berarti hamil Kak"
"Trus kenapa?"
"Ih bawel deh. Ntar malam ikut periksa aja yuk ke dokter kandungan"
.
.
.
"Ibu Reyna" panggil suster di poli kandungan rumah sakit
Reyna masuk ke bilik konsul diekori oleh Bimo
"Malam Bu, ada keluhan apa?"
"Ini Dok, istri saya telat 2 minggu tapi kok tidak hamil" Bimo bicara lantang membuat ibu dokter tersenyum geli
Reyna hanya merengut gemas mencubit perut Bimo, ini orang heboh amat yak.
"Naik Ibu, kami periksa dulu"
Alat USG itu berputar-putar di perut bawahnya
"Ehmm.. kandungannya bagus Ibu, tidak ada tanda-tanda mioma. Saya kasih resep saja ya"
"Jadi gimana Dok, istri saya hamil tidak?"
"Ish.. " Reyna mendelik
"Bapak... lebih semangat ya Bapak. Berusaha lagi anda belum beruntung kali ini" Ibu dokter menjawab geli
"Trus kenapa Dok, apa ada masalah dengan istri saya? "
"Ehm gimana ya Pak, tubuh wanita itu misteri. Hormon tubuhnya dipengaruhi banyak hal. Sebelumnya maaf apakah Ibu sedang kondisi banyak pikiran?"
Bimo menatap Reyna "Ehm... enggak Dok" maaf saya bohong Dok
"Oh, bagaimana dengan berat badan. Apakah dua bulan terakhir mengalami kenaikan signifikan?"
"Ehm, iya mungkin Dok. Baju saya agak sempit akhir-akhir ini"
"Kalau begitu kemungkinan bisa dari situ Bapak Ibu. Kenaikan berat badan bisa berpengaruh ke hormon juga jadi membuat kacau siklus menstruasinya. Ehmm.. ini saya resepkan vitamin E dosis tinggi ya ibu untuk memicu ovulasinya"
.
.
.
"Rey.. " Bimo memeluk tubuh istrinya yang tertidur memunggunginya "Apa kamu stress cuma dirumah saja?"
"Enggak Kak"
__ADS_1
"Rey, hadap sini dong. Aku mau bicara"
Reyna memutar badannya "Enggak Kak, aku cuma kegendutan aja kok" ia meraup muka suaminya itu "Kak Bimo nggak usah khawatir"
"Ehm.. aku takut kamu tak bahagia"
Aku juga takut buat kamu lebih tak bahagia pekik Reyna dalam hati
"Aku bahagia kok. Mbak Niken malah bilang hidup aku tuh perfect, tinggal bagaimana saja menjalaninya"
Reyna mengecup bibir Bimo "Aku punya suami ganteng dan bertanggung jawab. Punya anak selucu Dewa. Gendut itu tandanya aku nyaman dan bahagia Kak"
Gimana nggak gendut kerjaku cuma rebahan makan dan direbahkan hihihihi
"Tapi waktu itu sekali kamu langsung dung, kenapa kali ini tidak"
"Kak.. anak itu kan rejeki. Mungkin kita belum dipercaya rejeki yang satu itu. Sabar ya.. besok aku mau olahraga biar nggak tambah gendut. Okay"
"Malam ini pemanasan dulu mau nggak?" seringai mesum muncul di bibir Bimo
"Iya sini.... " Reyna membuka piama dressnya dan menghempaskan kebawah lantai. Malam ini ia akan obati kekecewaan Bimo.
.
.
.
Sambil menunggu Bimo pulang bekerja Reyna berniat untuk jogging di kompleks. Napasnya tersengal saat berhasil mengitari kompleks 3 putaran. Terlebih putaran terakhir saat melihat mobil Bimo sudah memasuki gerbang kompleks, ia berlari mengikuti mobil dari belakang tanpa disadari oleh Bimo.
"Kamu dari mana Rey?" terheran melihat istrinya melangkah loyo mendekatinya
"Hahh... jogg.. hahh giingg. hahh"
"Ngapain!?" mengabsen tubuh Reyna dari ujung kepala ke ujung kaki
"Bhii hah arrr hahh kkuuu hahh russs"
"Masuk.. " perintah Bimo galak
Duh suami oh suami kenapa jadi galak gitu yak, bikin ciuttt
"Besok lagi nggak usah jogging, pake treadmill saja dirumah"
"Bosan Kak kalau dirumah terus" Reyna merajuk
"Oh jadi bener kamu bosan aku suruh cuma dirumah" Bimo berkacak pinggang
Adow salah ngomong nih
"Bukan, bukan gitu" Reyna menjajari langkah Bimo yang menuju dapur
"Aku nggak suka badan kamu dilihatin orang-orang" telunjuk Bimo lurus mengarah tepat ke wajah Reyna
"Ya kan aku olahraga Kak, nggak lagi pamer badan. Emang kamu suruh aku lari pake kostum badut. Ngelawak kali"
"Pokoknya aku nggak suka!" Bimo meninggalkan Reyna dan naik dengan memendam marahnya menuju kamar
Alex dan Dewa yang sedari tadi diruang tengah hanya terdiam melihat perdebatan keduanya.
"Mama.. ayah marah?" tanyanya takut
"Enggak Dewa, ayah cuma lagi capek" Reyna mengelus pucuk rambut anaknya
"Reyna, turuti saja maunya, jangan kamu bantah. Anak itu tidak suka didebat" Alex menepuk bahunya
"Iya Om" Reyna membuang napas kasar
---
"Kak... aku masuk ya" Reyna mengetuk pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam
ceklek
Pria itu kembali ke bilik kaca mengguyur lagi sebagian badannya yang berbusa dan
belum sempurna terbasuh.
Reyna melangkah masuk, membiarkan air mengguyur kaos Vneck dan legging sportnya, mengambil spons dan menggosok punggung Bimo.
"Maaf.. "
"Buka bajumu.. " perintah Bimo
Reyna menurut saja, menyisakan BRA dan kain segitiga dibawah tubuhnya.
"Rey, laki-laki itu matanya tembus pandang. Mau kamu pakai baju badutpun kalau mereka nafsu tetap saja lihat kamu seperti telanjang" Bimo menghentakkan kait BRA lalu meloloskan benda itu dari tubuh Reyna, meremas dua gundukan itu kasar "Seperti ini mereka membayangkannya, mau lebih??? " tangan Bimo terjulur menarik paksa kain tersisa ditubuh Reyna
"Tidak Kak" Reyna mundur "Iya aku paham, aku salah"
Bimo memukul dinding keramik "Shittt!! Aku benci saat aku dibakar cemburu. Aku selalu saja menyakitimu Rey"
Bimo menutup wajahnya dengan dua telapaknya "Aku ingat wakti aku... "
Reyna menubruknya dari belakang, memeluk erat pinggang kekar itu "Sssttt... sudah. Itu masa lalu"
Ingatan keduanya kembali waktu tamparan Reyna kuat melayang menghempas wajah Bimo malam itu.
Bimo membalikkan badan dan menunjuk dada Reyna "Sakit pasti Rey, perih disini? hatimu pasti terluka"
__ADS_1
.
.
.
Langkah Bimo terhenti di dua tangga terakhir, dilihatnya Reyna sedang berlari santai diatas treadmill, menghadap ke jendela besar menatap nanar rimbunnya tanaman disana.
Mendekat memastikan apakah ada wireless headset terpasang ditelinganya hingga tak mendengar langkah beratnya.
Reyna tersentak saat melihat Bimo sudah berada disampingnya "Eh Kak, kok sudah rapi"
"Melamun?" tanya Bimo sambil mematikan treadmill
"Enggak.. " Reyna menggeleng sambil tersenyum "Maaf keasikan jadi nggak tahu Kak Bimo sudah bangun. Sarapan sekarang?"
"Kopi dulu, sambil tunggu Dewa siap" Bimo melangkah keluar dan menuju samping rumah
.
.
.
Reyna terbangun dari tidur siang saat mendengar suara berisik disamping rumah. Bergegas ia turun dan menuju arah suara.
"Ada apa Mbok Nah?" tanya Reyna saat berpapasan dengan wanita paruh baya itu yang membawa masuk nampan kosong
"Ada proyek Mbak katanya"
Mendekat kesalah satu orang bergaya seperti mandor "Proyek apa Pak?"
"Eh Mbak, diminta Pak Bimo buat paving blocked keliling rumah"
Reyna menautkan alisnya lalu masuk kedalam rumah, masa bodoh.
.
.
.
Deru mobil Bimo memasuki pelataran rumah Alex, Reyna yang tengah berjibaku menyiapkan makan malam segera menghentikan aktivitasnya. Mengambil segelas air mineral dan menyiapkannya di mini bar, dapur adalah tempat yang dituju Bimo selepas pulang bekerja.
"Maammaaa..... " Dewa menghambur ke badannya yang tengah melepas celemek "Ayah beli sepeda, ayo lihat"
Ah Bimo memang tak hentinya memanjakan Dewa batinnya
"Mana?" Reyna melongok ke teras
"Sedang di coba ayah keliling rumah" Dewa menanti dengan sabar
Jadi ini maksudnya Bimo membuat paving blocked, eh apa tadi Dewa bilang dicoba. Memang Bimo bisa naiki sepeda anak-anak.
"Surprise.... " teriak Bimo riang menghentikan sepeda lipat berwarna hitam metalik kedepan Reyna
"Buat aku?" Reyna menunjuk dirinya
"Iya sayang..... " Bimo mengecup pipi
"Dewa naik Yah.. "
"Eh biar Mama coba dulu"
"Nggak mau, Dewa dulu" bocah kecil itu naik duduk menyamping di badan sepeda
"Sebentar tapi ya, habis ini biar Mama pakai"
Reyna menepuk nepuk dua tangannya senang saat melihat dua jagoannya muncul
"Mulai sekarang sepeda atau jogging keliling rumah saja ya" Bimo memberikan sepeda kepada Reyna "Coba.. "
Tak perlu diperintah dua kali Reyna sudah naik ke atas sepeda dan mengayuhnya semangat. Tangan Bimo melambai memintanya berhenti setelah dua putaran
"Aku tinggal mandi dulu, semangat naik sepedanya. Nanti malam naiki suamimu" Bimo menepuk bokong Reyna gemas
.
.
.
Suami istri itu nampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Saat makan malam Dewa merajuk meminta dibelikan sepeda, jika tidak Dewa mengancam akan mogok sekolah.
"Kamu sih Kak, harusnya kamu beliin Dewa sepeda dulu. Jadi rempong kan kita" Reyna memandangi situs jual beli online memilih beberapa gambar sepeda anak-anak.
"Iya, tinggal pilih saja yang bisa kirim kerumah. Besok aku ada meeting seharian, nggak bisa ke toko sepeda" jawabnya enteng
"Kak Bimo sudah nemu belum?" Reyna bertanya tanpa menoleh
"Sudah.. mau lihat?"
"Mana?" Reyna melongokkan wajahnya menatap layar ponsel Bimo
Lagi dan lagi suaminya itu kembali mengerjainya, alih-alih gambar sepeda justru artikel ber-tag line "bersepeda meningkatkan gairah seksual"
"Coba deh Rey, buat ngebuktiin berita ini hoaks apa fakta"
Ayuk kayuh kayuh kayuh sampai lemas......
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!