Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
113. Rencana (2)


__ADS_3

Saatnya berpamitan setelah semua hal dirasa sudah cukup jelas. Reyna memeluk Hermawan dan May bergantian, tak lupa dikecupnya gemas Adam yang kini beranjak besar.


"Bye Mas Adam, kita ketemu lagi ya.. " Dewa melambai senang ke arah Adam.


"Minggu depan jangan lupa Rey, kita bertemu di rumah Om Alex" Mbak May mengingatkan


Bimo menyalami satu persatu, dan melangkah menuju kursi kemudi.


"Sampai jumpa lagi calon adik ipar.. " tiba-tiba Gandhi memeluk Bimo menepuk punggungnya dan


buuugghhh....


Tubuh Bimo terhuyung dan jatuh terduduk karena tak siap menerima bogem dadakan yang menghujam perut


"Mas.... " Reyna berlari dan menarik Gandhi kuat lalu mendorongnya menjauh


"Kak Bimo nggak kenapa-kenapa kan?" Reyna membantu Bimo berdiri dan memapahnya ke kursi kemudi.


"Hehe,, aku sudah gatal mau memukulnya sejak tadi" Gandhi berkacak pinggang


"Tak apa Nak Gandhi, Bimo memang pantas. Lanjutkan saja jika Reyna mengijinkan" Alex tertawa


.


.


.


"Masih sakit Kak?" Reyna mengelus lengan Bimo


"Enggak, enak malah kalau dielus-elus gini terus"


"Dewa.. mau mampir makan es krim?" tengok Reyna kebelakang


"Mau Mama.... " Dewa berteriak kesenangan


"Mampir bentar ya Kak, sekalian aku ada perlu" Reyna mengedipkan matanya


Mobil Bimo terparkir disalah satu sudut kedai es krim jadul yang juga menjual minuman tradisional. Dewa segera memilih es krim yang ia inginkan


"Om Alex dan Kak Bimo tunggu sini sebentar ya, Reyna mau ajak Dewa"


"Mau kemana? Aku ikut! " Bimo menahan langkah Reyna


"Kak Bimo temani Om Alex, aku mau menyapa kerabat sekalian mengundang ke pernikahan kita"


"Your Ex?" Bimo bertanya penuh selidik


"Surprise" Reyna mengecup pipi Bimo dan berlalu


---


Tak lama kemudian Reyna telah sampai di rumah megah dengan dua pilar besar menghiasi teras.


"Umah siapa Ma?"


"Rumah neneknya Rara" Reyna tersenyum simpul dan berjalan menuju pintu rumah yang sedikit terbuka


"Permisi..... "

__ADS_1


Derap langkah terdengar dari dalam, sepasang mata itu menatapnya tak berkedip sekian lama.


"Ibu... " Reyna menyalami dan mencium punggung tangannya dan berdiri mematung sesaat "Boleh saya masuk?"


"Ah ya ya.. Nak Rey ayo masuk" wanita itu mempersilahkan Reyna masuk dan melirik anak kecil yang mengekor dibelakangnya


"Bapak ada Bu?"


"Ehmm.. bapak sedang pergi"


"Yaahh, tak apalah. Ibu saja sudah cukup" terlihat wajah Reyna yang kecewa "Oh ya, Dewa ayo salim"


Bu Wiji mengacak pelan rambut Dewa dan kembali menatap Reyna


"Ibu ambilkan minum dulu ya"


"Nggak usah Bu, Reyna cuma ada perlu sebentar kok. Bapak Ibu sehat?"


Bu Wiji mengangguk "Nak Rey sudah memaafkan Satria... " perempuan itu menunduk


"Ibu... " Reyna bangkit dan berpindah duduk disebelah perempuan dan mengelus punggungnya. Mata bu Wiji menatap Dewa yang terdiam menikmati es krim "Sepertinya kamu sudah bahagia sekarang Reyna, dia putramu kan?"


"Iya dia putra saya" Reyna tersenyum


"Baguslah kalau kau sudah menikah lagi"


"Belum lagi Ibu.. "


"Oh!" Bu Wiji terkejut sekaligus bingung. Menatap mata dan meremas lengan Reyna "Jadi dia cucuku?" matanya wanita itu berbinar sesaat lalu kembali sayu melihat gelengan dari Reyna


"Kalau cucu Ibu cantik" Reyna mengambil ponsel dan memperlihatkan foto Rara "Humaira.. panggilannya Rara" Reyna menahan napas berdebar menanti reaksi berikutnya


"Jadi Nak Rey pernah bertemu Satria? Bagaimana kabarnya Nak Rey? Ibu kangen" wanita itu tersengal disela tangisnya "Ibu sudah coba mencari Satria dirumahnya dulu tapi sudah dijual. Nomor Bapak dan Ibu sepertinya juga diblokir jadi kami tidak bisa menghubunginya"


"Bapak masih marah? " pelan Reyna bertanya


"Entah.. Bapak hanya diam tiap Ibu tanya"


"Ibu mau ketemu Rara?" Reyna menyentuh punggung wanita itu


"Mau! Nak Rey mau bantu?"


"Syaratnya satu" Reyna tersenyum " Ibu datang sama Bapak ya?"


Bu Wiji menggigit bibir bawahnya "Ibu nggak yakin Nak Rey"


"Reyna pinjam ponsel Ibu boleh?"


Pertama Reyna menyimpan nomor ponsel Bu Wiji selanjutnya mengirimkan foto Rara dan menyimpannya pada galeri untuk diperlihatkan kepada Pak Wiji.


"Saya yakin tidak ada kakek dan nenek yang bisa menolak cucunya" Reyna bangkit dan berpamit "Saatnya Ibu berjuang ya, Reyna bantu doa dan saya tunggu kabar baiknya segera"


.


.


.


Semalam Reyna menginap dikediaman Alex, Minggu pagi ini menjadi awal hari yang sibuk. Alex menyodorkan beberapa gambar kamar anak dan menyuruh Dewa memilih disaat makan pagi.

__ADS_1


Ruang kerja dilantai atas yang berada diantara 2 kamar utama akan disulap menjadi kamar Dewa lalu dipindahkan ke salah satu kamar tamu lantai bawah.


Lanjut mereka membuat daftar tamu undangan, tak banyak yang akan diundang. Keluarga dua belah pihak ,tetangga dekat, relasi dan rekan kerja Alex dan Bimo, tak lupa Reyna mencantumkan sederet nama rekan kerjanya.


Reyna menggeliat, punggungnya pegal hampir setengah hari bergelut dengan layar laptop. Kaki yang semula bersila kini ia selonjorkan ke bawah meja dan bersandar di kaki sofa.


"Capek? " Bimo mendekat dan mengambil duduk disofa tepat dibelakang tubuh Reyna dan mulai memijat pelan bahunya


"Ehem... " Reyna memutar lehernya dan menaruh kepalanya di paha Bimo, memejamkan mata menikmati pijatan yang makin lama berpindah ke tempat-tempat yang tidak seharusnya


"Kak.. " tegur Reyna tanpa membuka mata


"Hemm... "


"Jangan usil"


Tangan itu berhenti menggerayangi dan kembali memijat bahu, kecupan kecil mendarat dibibir Reyna dan memaksanya membuka mata. Bimo melengkungkan punggungnya demi mencium bibir Reyna dibawah sana. Decapan, ******* dan gigitan kecil di bibir menghiasi ciuman panas ala spiderman itu.


Nada dering diponsel Reyna menghentikan keduanya, lain halnya Bimo yang nampak sebal. Reyna justru berjingkat senang saat melihat nama dilayar ponselnya dan berlalu menjauh pergi.


"Iya Ibu...Semoga saya mendapat kabar baik "


"Nak Rey.. Ah iya, akhirnya Bapak setuju. Kira-kira kapan Nak Rey akan mengatur pertemuan kami?"


"Satu bulan lagi ya Bu"


"Lama sekali" desah kecewa terdengar ditelinga Reyna


Reyna tertawa kecil "Saya harus cari moment yang tepat. Sebulan lagi saya menikah Ibu, Bapak dan Ibu harus datang ya karena Mas Satria juga akan hadir"


"Oh... "


"Begitu dulu Ibu, tunggu undangan dari saya"


"Ya Nak Rey, terimakasih sebelumnya"


"Sama-sama Ibu, salam buat bapak ya"


---


"Siapa? Kok aku dengar nama Satria disebut-sebut" tanya Bimo heran


"Calon tamu undangan special" Reyna menepuk nepukan ponselnya ditangan "Sini deh" Reyna menarik Bimo duduk diteras depan


"Kak.. selama ini Mas Satria pernah bicara soal orang tuanya?"


"Ehmm.. tak pernah bicara setelah dia memilih menikahi Niken. Kau tau sendirilah alasannya" tiba-tiba Bimo menyentak tangan Reyna "Jangan bilang kau undang kedua orangtuanya di acara kita??"


"Aku hanya berniat, urusan datang atau tidak itu keputusan beliau kan"


Reyna berdiri dan duduk dipangkuan Bimo mengelus kepala pria itu dengan lembut


"Tanpa Mas Satria kita tak akan bertemu, jika kebahagian kita lengkap sebentar. Tak ada salahnya kan tidak kita bantu Mas Satria bahagia juga. Kedua orangtua Mas Satria sudah setuju untuk bertemu bahkan selama ini mereka berusaha untuk mencari loh"


Bimo menatap Reyna dan memeluk pinggangnya "Kamu akan beritahu Satria juga?"


Reyna memukul bahu Bimo pelan "Ah tentu saja tidak, ini kan kejutan"


"Rey.. bukankah keluargamu membenci Satria setelah kalian bercerai? Tapi tak mungkin kan dia tak datang"

__ADS_1


Reyna mengecup pipi Bimo gemas "Itu urusanku dengan sang maha galak tuan Gandhi, Kak Bimo tak perlu khawatir"


__ADS_2