
Beberapa bulan berlalu setelah skak mat oleh Bram bahwa ia cemburu akan masa lalunya. Reyna masih belum yakin akan perasaannya pada pria itu meski tak ia pungkiri ia bahagia tiap kali Bram terlihat nyaman bersama Dewa.
Diam-diam ia mengajukan permohonan KPR perumahan kepada pihak perusahaannya yang ternyata butuh waktu beberapa bulan untuk proses seleksi finansial.
.
.
.
Siang ini Reyna tergopoh menuju ruang HR untuk meminta ijin pulang awal saat pengasuhnya mengirimkan pesan kondisi Dewa demam cukup tinggi. Dewa terlihat lemas saat ia temui dirumah, senyumnya hanya sesekali saja namun Reyna belum memutuskan membawanya ke klinik kesehatan.
Malam hari demamnya belum hilang meskipun sudah diberikan penurun panas beberapa kali. Tante Linda dan Bram tidak mengetahui hal tersebut karena mereka pulang cukup larut dan Reyna sudah tertidur di kamar.
Tengah malam Reyna terbangun saat hendak mengganti air kompres, dia mulai cemas karena demam tidak bergeser satu derajatpun.
Reyna memutuskan begadang di ruang tengah saat Dewa mulai merengek karena tak nyaman dengan tubuhnya. Reyna duduk dan melonggarkan kain gendongan dan memberikan ASInya berharap demam akan hilang esoknya. Kantuk mulai menyerangnya, Reyna menyandarkan tengkuknya untuk memejamkan matanya sejenak.
Dini hari Bram terbangun karena panggilan alam menyeret langkahnya ke kamar mandi. Matanya yang lengket seketika memicing ketika melihat lampu ruang tengah menyala.
Dewa tertidur dalam gendongan Reyna dengan mulut yang masih menempel didada Reyna. Lama Bram menatap pemandangan indah didepannya, dada Reyna begitu menggiurkan apalagi untuknya yang menduda sekian lamanya.
Otak mesumnya terhenti saat Dewa tiba-tiba merengek dalam gendongan Reyna dan membangunkan wanita itu. Reyna tersentak saat menyadari Bram berdiri dibelakangnya dan buru-buru menautkan kancing bajunya.
"Maaf..aku tak sengaja melihat. Ehm kenapa kau tidur disini?" tanya Bram
"Dewa demam Mas" Reyna menjawab gelisah
Bram mengulurkan punggung tangannya menempelkan pada dahi Dewa
"Sejak kapan?"
"Tadi siang.."
"Ahh Reyna kenapa kau tak bawa dia ke dokter"
"Biasanya demam juga turun Mas.."
"Ganti bajumu kita ke IGD sekarang, aku ambil kunci mobil dulu"
.
.
.
__ADS_1
Reyna menggendong Dewa dengan panik, sesampainya di IGD Dewa justru buang-buang air cukup parah. Air matanya menetes ketika jagoan kecilnya menjerit waktu jarum infus menembus nadinya.
Tak berapa lama mereka bertiga telah menempati salah satu ruang VIP, Reyna masih saja menangis melihat Dewa yang terbaring lemah.
"Kamu harus kuat Rey, kasihan Dewa" Bram memeluk pundak wanita itu dan tak disangka Reyna menghambur ke pelukannya dan membasahi kaosnya dengan air mata.
"Kalau boleh meminta biar sakitnya Dewa aku semua yang tanggung.. "
"Yakin nggak mau berbagi sakitnya sama aku?" Bram mengelus punggungnya lembut
.
.
.
Tiga hari setelah absennya Reyna dari pekerjaan. Bram rutin menengok Dewa di pagi hari bahkan tidur di rumah sakit saat malam dengan dalih bergantian menjaga Dewa dimalam hari.
Seperti pagi ini Bram kembali datang
"Pagi jagoan..." sapanya dengan mencium pipi Dewa dengan gemas, dia gendong Dewa keluar kamar sementar Reyna mandi.
Dewa tertawa senang digendongan Bram, keduaanya duduk dibangku panjang didepan jendela besar melihat keramaian jalan.
"Kenapa, kamu terganggu aku tidur sini?"
"Ahh bukan begitu..Aku merepotkanmu beberapa hari ini. Kasihan Mas Bram seharian bekerja dan malamnya masih menunggu Dewa"
"Reyna, aku lakukan ini untuk Dewa. Kau tak perlu sungkan" Bram beranjak dari duduknya dan merapikan kemeja kerjanya "Aku berangkat ya"
Sekerumunan perawat magang berbisik-bisik saat Bram melenggang berjalan didepan mereka.
"Ganteng tapi sayang pelit senyum.. " celetukan seorang terdengar ditelinga keduanya.
Reyna menahan tawa dan mencubit lengan Bram
"Kamu tuh Mas diomongin.. "
"Biarin.. "
"Senyum gih, biar ganteng maksimal" goda Reyna
"Nanti kamu cemburu kalau aku banyak yang naksir" Bram melirik Reyna yang melengos malu
.
__ADS_1
.
.
Malam harinya Bram datang dengan Linda. Bram mandi lebih dahulu sebelum mengajak Dewa bermain, anak kecil itu sudah bisa tertawa dan bergerak aktif kembali.
"Maaf Reyna , tante baru sempat jenguk Dewa. Tiga hari tante keluar kota dan baru tadi siang datang"
"Nggak masalah tante, sepertinya besok Dewa sudah boleh pulang kok. Tinggal menunggu hasil check laboratorium dan visit dokter anak"
Tak lama Linda pamit pulang karena tak ingin mengganggu Dewa yang sudah tertidur.
Bram mendekati Reyna yang sedang melihat televisi dan merebahkan badannya ke sofa
"Eh, Mas Bram sudah mau tidur?" Reyna hendak berdiri memberikan ruang di sofa untuk tempat Bram tidur .
Tangannya tertahan dan Bram menyelipkan sepucuk amplop ditelapaknya.
"Ada titipan dari finance"
Reyna membuka amplop itu dan tak berani berkata-kata
"Jika kamu tak nyaman dirumah karena keberadaanku biar aku yang keluar dari rumah" Bram bicara pelan tapi penuh penekanan
Pria itu berdiri mengambil bed cover dari pinggiran sofa,merentangkannya ke lantai dan membaringkan tubuh dengan kedua tangan terlipat dibelakang kepala
"Kamu tidur di sofa, kasian Dewa geraknya terbatas kalau kalian tidur berdua, dia sudah mulai aktif lagi" lanjutnya lalu memejamkan mata
Reyna menggigit bibir bawahnya, dia tatap wajah pria yang nampak sangat kecewa. Reyna beringsut terduduk dibawah disamping Bram.
"Mas Bram marah?" tanyanya sambil menggoyangkan lengan
Mata itu terbuka, merubah posisi menyamping dengan kepala berpangku di satu lengan.
"Apa alasanmu menjauhiku Rey?"
"Bukan begitu, Dewa sudah besar dia butuh.."
"Jawab jujur!"
Reyna menunduk
"Aku hanya butuh ruang untuk memastikan perasaanku Mas. Jangan tanya soal Dewa, sudah jelas dia membutuhkanmu. Tapi aku??" jawabnya lirih
"Oke..aku tak keberatan, semoga aku mendapat kabar baik dengan dengan adanya jarak dan waktu. Tak jadi soal asal aku tetap bisa menemui Dewa kapanpun" pria itu lalu tidur memunggunginya
__ADS_1