Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
84. Ikhlas


__ADS_3

Reyna hanya mengaduk-aduk bekal makannya yang baru ia makan beberapa suap, matanya kosong menatap layar komputer didepannya, hatinya gundah karena pesannya belum juga mendapat balasan dari Linda.


ting


buru-buru Reyna meraih ponselnya berharap pesan Linda yang masuk


Bimo : sudah makan?


Reyna mendengus kemudian melanjutkan makannya hingga tandas lalu memutuskan menghubungi Bianca


"Bi.. dapat kabar apa? "


"Barusan dapat kabar kondisi Mas Bram membaik, siang ini dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi masih belum sadarkan diri"


Reyna sampai dirumah sakit saat jam istirahat makan siang, nampak Linda yang kelelahan bersandar di sofa ada seorang lagi kakak dari Bram juga yang ikut menjaga.


Wajah keduanya tidak jauh berbeda, ekspresi kelelahan dan cemas terlihat disana.


Reyna mengelus pundak Linda lembut, wanita itu justru terisak menenggelamkan wajahnya ke dalam dua telapak tangannya.


''Harapan hidupnya sangat tipis Reyna, batang otak Bram bisa dibilang sudah tidak lagi berfungsi, saat ini hanya tergantung alat-alat saja yang menyambung nyawanya''


Reyna mendekat ke arah ranjang pasien, dimana tubuh Bram terbujur disana. Berbagai selang kabel dan beragam alat penunjang tertempel di tubuhnya. Reyna mengambil duduk disisi ranjang, menggenggam erat tangan yang terdapat selang infus.


"Mas Bram dengar Reyna?"


Dada Bram naik turun pelan teratur, Reyna goyangkan perlahan.


"Reyna disini, Mas Bram bangun.. " bisiknya ditelinga Bram


Ia pandangi didepannya, wajah yang selalu meneduhkan hatinya setiap kali ia pandang kini pucat pasi bagai tak ada lagi kehidupan disana. Air mata Reyna jatuh bersama dengan sakitnya hati bagai ditusuk sembilu.


Cepat-cepat ia seka dengan punggung tangannya, ia teringat Bram tak boleh melihatnya menangis.


Malam ini Reyna juga tak bisa tidur, belum ada perkembangan lebih lanjut dari rumah sakit.


Satu jam di siang tadi ia lalui hanya memanggil manggil nama Bram mengajaknya bicara tapi tubuh itu tak bergerak sedikitpun.


Panggilan masuk dari Bimo membuyarkan lamunannya

__ADS_1


"Dewa sudah tidur Rey?" sapa pria diseberang sana


"Sudah, Kak Bimo telponnya kemalaman"


"Sorry, Aku barusan sampai rumah. Kamu sudah mau tidur Rey?"


"Belum Kak"


"Mau ditemenin lagi kaya kemarin?"


"Enggak usah, Kak Bimo tidur saja dulu"


"Belum ngantuk"


"Besok Kak Bimo jadi kesini?"


"Iya, ada apa?"


"Ehmm, besok malam mungkin aku menunggu di rumah sakit"


"Tak masalah. Jaga kesehatanmu Rey"


Bimo mengakhiri panggilannya setelah berpesan cukup panjang.


Dewa memeluk dan mencium Reyna saat berpamit menuju rumah sakit.


"Ewa angen papa iyo" anak kecil itu merajuk sedih


"Iya besok kita ketempat papa iyo" bujuk Bimo


"Papa iyo udah cembuh?" anak kecil itu memandang Bimo dengan binar matanya


"Pasti sembuh, Dewa rajin berdoa ya" digendongnya tubuh kecil itu.


"Aku berangkat Kak, titip Dewa"


Bimo menepuk punggung Reyna pelan "Hati-hati"


Reyna membujuk Linda untuk pulang malam itu diantar salah seorang kerabat Bram. Tinggalah ia sendiri dengan tubuh Bram yang masih terbujur tak bergeming.

__ADS_1


Reyna memilih duduk di tepi ranjang dan mengelus punggung tangan Bram, mengajaknya berbicara tentang kenangan indah mereka. Membujuk supaya tubuh itu merespon sedikit saja celotehnya hingga lelah teramat sangat ia rasa hingga tertidur dengan kepala dikaki Bram.


Reyna tersentak bangun saat ia rasakan Bram mengelus lembut kepalanya dan berbisik pelan di telinganya "Sudahlah Reyna, aku sudah lelah. Aku pergi"


Reyna mengerjabkan matanya, menelan ludahnya dengan kelu. Hanya mimpi, mimpi yang seperti kenyataan. Reyna bangun dan mengambil ponselnya, waktu menunjukkan pukul 4 pagi, ponselnya berkedip menandakan membutuhkan pengisian daya.


Dia berdiri membenarkan selimut di kaki Bram yang tersingkap. Jemarinya menyentuh kulit dingin itu, kaki Bram sedingin es, buru-buru ia raba punggung tangan pria itu , masih hangat, napasnya pun masih tertarik perlahan.


Reyna menarik napas lega, mungkin kaki Bram dingin terpapar AC dikamar itu. Reyna melangkah keluar menuju area parkir motor hendak mengambil charger ponselnya.


Langkah Reyna terhenti didepan ICU saat hendak kembali ke kamar. Nampak seorang ibu paruh baya yang menangis dipelukan laki-laki seumurannya


"Sudah Ibu, jangan menangis kasihan Bapak. Ibu ikhlaskan saja biar jalan Bapak dipermudah. Anak-anak semua sudah tidak tega"


---


Reyna melihat suster yang sedang mencatat hasil pemeriksaan rutinnya saat ia kembali menuju ruang perawatan.


Reyna meletakkan ponselnya di nakas setelah ia sambungkan dengan pengisi daya.


"Kondisi pasien sedikit menurun Ibu, nanti biar saya lapor ke suster kepala untuk dilakukan penanganan. Saya permisi"


Reyna mengambil air membasuh wajahnya lalu kembali duduk di sisi ranjang.


Reyna teringat dengan mimpinya, melihat wajah Bram yang bersih berseri berbalut baju serba putih. Belaian di rambutnya sangat terasa nyata, bisikan di telinganyapun sangat jelas ia dengar.


Mungkinkah Mas Bram lelah berjuang dan ingin ia mengikhaskannya.


"Aku juga lelah Mas Bram, aku tak tega melihatmu seperti ini. Tapi aku ingin Mas Bram bangun, demi Dewa demi kita" Reyna menghembuskan napas panjang "Tapi jika Mas Bram memang tak ingin kembali.. aku ikhlas.. " suara Reyna terdengar parau, ia menunduk dalam menahan tangis.


Reyna mendongakkan kepala saat merasakan pergerakan dari pembaringan, kepala Bram menoleh kearahnya dengan mata membuka, kedua bola mata itu berputar nanar. Mulutnya Bram bergerak gerak membuka seakan hendak berkata sesuatu. Air mata jatuh menetes dari kedua matanya.


Reyna berdiri terkaget hingga membuat kursi yang didudukinya terpental kebelakang, tangannya meraih bel pemanggil perawat dan menekannya dengan brutal.


Sesaat kemudian gemuruh derap kaki berlarian di lorong, suster berteriak memanggil rekannya saat melihat tubuh Bram menggelinjang di atas ranjang.


Para perawat berlarian didepan Reyna, menghalau dirinya agar menjauhi ranjang. Jelas Reyna melihat punggung Bram bergerak naik dan terhempas sesaat kemudian. Ranjang pasien itu kemudian didorong cepat menuju ruang tindakan.


Reyna berdiri dan berlari menyusul dengan sisa sisa tenaganya, terakhir ia hanya melihat pintu putih didepannya tertutup rapat demikian juga kelopak matanya yang tak kuasa menahan beban psikologisnya. Semua gelap sesudah itu ,tubuhnya ambruk dilantai berkeramik putih bersih.

__ADS_1


__ADS_2