
Reyna menghabiskan waktunya dengan membantu Mbok Nah menyiapkan makan malam. Alih-alih tak bisa istirahat karena Bimo menyusul tidur Dewa ke kamar.
Reyna mencuri pandang ke arah Mbok Nah selama mereka bergulat didapur. Reyna yakin wanita ini pasti bekerja cukup lama disini, rasa keingintauhan soal Bimo dimasa kecil menggelitiknya tiba-tiba.
"Mbok Nah sudah berapa lama kerja dengan Om Alex?" tanya Reyna disela-sela kegiatan mereka.
"Wah sudah lama Mbak, dari Pak Alex menikah... ehm yaa 20tahun"
"Oh ya.. Ehm kalau Kak Bimo sendiri sejak kapan ikut tinggal disini?"
"Dari remaja Mbak, sejak ibunya meninggal. SMP kalau nggak salah. Ya sudah seperti anak sendiri"
"Nakal nggak Mbok kecilnya?" Reyna melirik ke Mbok Nah sambil terus menumis bumbu.
"Apa ya.. Mas Bimo itu ya nakal, sering kena pukul malah sama Pak Alex. Tapi ya gitulah diulang-ulang lagi. Namanya juga anak laki-laki" Mbok Nah menyodorkan sekeranjang bayam segar yang telah disiangi dan dicuci bersih "Mulai nurut sejak mendiang Ibu meninggal, mungkin karena kasihan lihat Bapak sering sedih"
"Memang sudah berapa lama Ibu meninggal?" Reyna menuangkan bayam ke wajan besar mengaduk-aduk lalu mencampur dengan santan.
__ADS_1
"Ya sekitar 6 tahunlah. Sejak itu Mas Bimo jarang pulang malam, nggak kaya sebelumnya suka nggak pulang malah"
"Oh ya??" Reyna melirik Mbok Nah yang beralih memotong-motong tomat dan cabai hijau "Emang kemana Mbok kalau Kak Bimo nggak pulang?" tanyanya penuh selidik.
"Ya itu ke apartementnya Mbak Lid... " wanita paruh baya itu tersentak lalu menoleh ke arah Reyna "Ehmm.. nggak tahu Mbak.. Mbok Nah nggak tahu kemana. Pokoknya Mas Bimo selalu kena marah Bapak kalau malamnya nggak pulang" wanita itu salah tingkah.
Reyna mendengus, jelas jelas dia mendengar Mbok Nah hendak menyebut nama seseorang. Reyna tak cukup tahu soal Bimo yang dikenalnya sangat singkat, Reyna tak pernah mengetahui berapa kali pria itu berhubungan dekat dengan wanita.
"Ehm, pacarnya Kak Bimo banyak Mbok?" Reyna mematikan kompor lalu mengambil tumpukan keranjang bambu dan membersihkan ikan asap didalamnya.
"Lah kok malah nanya simbok. Mbak Reyna harusnya lebih tahu" kali ini Mbok Nah menjawab lebih hati-hati.
Mbok Nah tidak menjawab, ia memilih sibuk membersihkan sampah basah yang berserakan didapur.
"Biar simbok saja.. Mbak Reyna mandi saja" wanita itu mendekat dan mengambil alih sotil yang dipegang Reyna.
"Mbok Nah belum jawab tapi.. " Reyna masih mempertahankan sotil ditangannya.
__ADS_1
"Halah.. ya paling temen-temennya Mas Bimo sekolah. Mas Satria trus Mas Andre.. "
"Yang perempuan Mbok maksudnya" Reyna sedikit gemas.
"Pokoknya Mbak Reyna itu yang paling special buat Mas Bimo" Mbok Nah menyentil lengan Reyna pelan lalu merebut sotil ditangannya.
Reyna mengalah begitu saja, ia melangkahkan kaki ke kamar sambil bersungut-sungut. Arghh kenapa juga dia harus usil bertanya, justru sekarang dia yang diburu rasa penasaran.
Dilihatnya Bimo yang masih tidur nyenyak, satu tangannya menjuntai kebawah sisi ranjang. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk melewatkan kehidupan seorang diri. Jika ada Bram yang sempat mengisi hatinya, bukankah wajar jika ada seseorang juga di hidup Bimo.
Reyna menatap lekat-lekat pria yang tertidur didepannya itu. Bimo justru terlihat kian matang diusianya sekarang terlebih dengan jabatannya sebagai direktur bagian pemasaran menggantikan posisi Om Alex. Bukankah wajar banyak wanita yang mengincar menjadi pendampingnya, pria yang cemerlang dalam karir diusianya yang terbilang masih muda dibandingkan rekan sejawatnya.
Reyna duduk di tepi ranjang, menyentuh alis tebal yang membingkai indah wajah itu. Tak disangka pemiliknya menggeliat dan membuka mata, lalu tersenyum manis.
"Kenapa? Aku ganteng ya?" Bimo beringsut dan meletakkan kepalanya dipangkuan Reyna, menatap Reyna dari bawah.
"Ganteng kalau sudah mandi, ayo bangunkan Dewa lalu mandi. Aku mau mandi dulu" Reyna menggeser kepala Bimo dan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Reyna membiarkan air dingin mengguyur kepala dan tubuhnya, berusaha mengusir jauh-jauh rasa ingin tahunya tentang masa lalu Bimo.