
Keluarga kecil bahagia itu menyusuri lantai marmer mengkilap sepanjang mall siang ini. Memanfaatkan we time di akhir pekan, lepas menonton kartun di salah satu theater, ketiganya melanjutkan makan siang di pojok food court.
"Nanti mampir sana sebentar ya" tunjuk Bimo pada salah satu outlet ibu bayi
"Pamali, belum boleh beli-beli Kak" bisik Reyna
"Cuma lihat-lihat saja kok"
---
"Lihat ini bagus Rey"
"Itu juga"
"Boleh boleh besok dibeli"
Semua asesoris bayi berbau pink tak lepas Bimo komentari
"Ini bagus" Reyna mengambil jump suit berwarna biru bermotif bola rugby
"Anak aku perempuan kok kamu kasih itu. Jangan. ..
nanti tomboy dia"
"Ya sudah yang ini" Reyna menenteng piama berwarna kuning bergambar kuda nil
"Enggak, yang pink! "
"Yaelah Kak, kan belum ketahuan jenis kelaminnya. Ngotot amat mau beli pink"
"Pokoknya pink harga mati"
"Iya iya, besok beli. Yuk pulang ah" ajak Reyna saat menyadari Dewa dan beberapa pegawai outlet menatap mereka yang berdebat tak guna.
.
__ADS_1
.
.
Dewa menempeli Reyna sejak kepulangan mereka dari mall, perut Reyna sudah nampak jelas di usia kehamilannya yang menginjak usia 6 bulan. Dia jauh lebih sering berbincang dengan janinnya terlebih saat perutnya bergerak, menyikut, menendang.
"Dewa kenapa dari tadi mau sama Mama terus?" Reyna mengelus lembut rambut putranya
"Sebentar lagi adik cantik lahir, kata teman Dewa nanti Dewa tak akan diajak main lagi sama Mama" ucapnya sedih
Bimo yang sedang menatap layar televisi menoleh lalu mendekati putranya "Dewa nggak boleh bicara seperti itu. Ayah sama Mama tetap sayang sama Dewa"
"Tapi kata teman-teman Dewa nanti Dewa tak bisa tidur lagi dengan Ayah dengan Mama kalau sudah ada adik cantik"
"Bolehlah boleh, tapi kalau adik nangis malam-malam dan Dewa jadi bangun bagaimana?" tanya Reyna
"Kenapa adik menangis malam hari?"
"Haus minta minum"
"Suruh saja minum yang banyak sebelum tidur"
"Dulu Dewa juga begitu waktu bayi?"
"Iya sayang.. " Reyna menowel gemas dagu anaknya
"Halo adik cantik.. I love you" Dewa mengecup perut Reyna yang seketika bergerak-gerak
"Nah lihat adik sudah tak sabar main sama kakak"
Bimo ikut-ikutan mendekat dan memegang perut istrinya tapi gerakan itu tiba-tiba berhenti
"Hah, kenapa ya dia tak mau bergerak kalau aku yang pegang" Bimo kembali ke tempat duduknya "Nggak adil, padahal aku kan yang bikin" sungutnya seperti anak kecil
Reyna terbahak, omongan Bimo memang benar. Entah anaknya tak mau bergerak sedikitpun saat sang ayah mengajaknya berbicara maupun menggelitik perutnya hingga kegelian Berbeda saat mendengar tertawa atau teriakan Dewa, langsung bereaksi seakan bergerak-gerak kegirangan.
__ADS_1
.
.
.
"Kak.. besok jangan lupa kontrol bulanan"
"Iya, kemarin kamu sudah bilang. Aku ingat kok"
"Ehm.. sudah bisa dilihat jenis kelaminnya"
"Pasti perempuan!"
Nah loh lagi lagi kan...
"Kak, perempuan atau laki-laki sama saja. Kenapa sih kamu sama Dewa mempersoalkan jenis kelamin"
"Ya yakin saja kalau anak aku perempuan"
"Kalau dirahasiakan saja bagaimana? Kalau nanti Dewa tahu adiknya laki-laki pasti dia sedih hayo. Biar kejutan saja besok pas lahir"
"Ehmm... boleh. Siapa takut"
"Kak, nanti kalau nanti lahir laki-laki Dewa pasti sedih. Salah Kak Bimo..dari awal mendoktrin adik bayi cantik"
"Ya nanti bikin lagi" cetus Bimo enteng
"Siapa takut"
"Yakin?"
"Bikinnya enak ini"
"Ah aku suka deh istri aku" Bimo mencium-cium pipi Reyna
__ADS_1
"Bikin bukan berarti musti dijadiin kan" Reyna menjulurkan lidahnya jahil
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!