Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
67. Menahan


__ADS_3

Bram mencuri pandang ke arah Reyna lewat spion belakang. Wanita itu hanya berpaling saat mata mereka bertatapan, matanya nanar menatap jalanan. Sepanjang jalan Reyna tak bicara apapun dan Bram hanya meladeni celoteh Dewa yang duduk disampingnya.


Sesampainya di rumah Reyna langsung melesak memasuki kamarnya, Bram menggendong Dewa masuk ke kamar untuk menidurkan lelaki kecil yang berkali-kali menguap. Tak makan waktu lama Dewa sudah tertidur lelap.


Bram menekan handle pintu kamar Reyna, gelap, hanya lampu tidur yang dinyalakan. Reyna bersandar di depan jendela kamar menatap luar dengan tatapan kosong.


Bram mendekati wanitanya itu, menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. Bram duduk bersimpuh di depan Reyna dan memegang erat telapak tangan Reyna.


"Lepaskan saja biar kamu lega. Aku ada disini kalau kau butuh teman bicara"


Reyna menghela napas panjang


"Aku hanya sekali tidur dengannya. Segampang itu dia menganggap aku juga tidur denganmu. Seperti itukah pria menganggap rendah wanita" Reyna terisak pelan "Sejalang itukah aku dimatamu juga Mas?"


"Reyna... " Bram menggeleng


"Aku baru sadar aku salah Mas. Harusnya aku tak perlu menganggap dia ada"

__ADS_1


"Rey... "


Reyna menatap mata sayu pria didepannya yang tak lepas memandangnya dengan senyum.


"Kamu sedang kecewa. Wajar jika kau berpikir seperti itu. Dia memang salah, keterlaluan! jika tak ada Dewa sudah pasti mukanya kubuat babak belur tadi" geram Bram


Bram berdiri dan mengambil duduk disamping Reyna memeluk bahu wanita


"Jangan pernah kamu sesalkan semua ini. Tanpa dia Dewa tak ada, tanpa Dewa kita tak pernah ada cerita"


Reyna menyandarkan kepalanya ke bahu Bram. Pria yang selalu meneduhkan saat ia marah, tempatnya berlabuh saat ia tersesat. Pria yang mencuri hatinya perlahan-lahan namun pasti. Yang kini baru ia sadari bahwa rasa sayang telah tumbuh bukan lagi karena Dewa.


"Mas... "


Bram menoleh dan menatap takjub pemandangan didepannya. Demi dewi fortuna yang menghampirinya membuat bagian bawah tubuhnya seketika menengang.


Reyna melepaskan baju dan menyisakan pelapis dadanya berwarna hitam yang hanya menutupi separo bagian dari dua gundukan indah. Wanita itu terlihat sensual dikeremangan dengan rambut coklat gelombang yang terurai bertumpu dengan kedua lututnya diatas ranjang.

__ADS_1


"Mas Bram mau??? " tanyanya malu-malu.


Bram berdiri kaku, memejamkan mata sesaat mengumpulkan sisa-sisa keimanannya yang selalu tercecer entah kemana saat mereka hanya berdua. Melangkah perlahan mendekati Reyna dan berbisik pelan ditelinga wanita itu "Mau.. tapi tidak sekarang Reyna".


Dikecupnya pipi Reyna dengan lembut, tangannya meraih selimut diranjang dan menangkupkan ke tubuh polos Reyna "Sudah malam nanti digerebek warga" candanya membuat Reyna tersipu malu.


.


.


.


Bram memukul setir mobilnya, bayangan lekuk tubuh Reyna menari-nari dipelupuk matanya.


Meski lekuk itu tak sesempurna seperti di film film dewasa yang pernah ia lihat tapi baginya pribadi Reyna lah yang menyempurnakan semua itu.


Bram tersiksa sepanjang malam menahan keinginan untuk tidak menjamah tubuh itu, menahan rasa ngilu dibagian bawah tubuhnya yang sekian lama tak tersalurkan hasratnya.

__ADS_1


Demi Tuhan dia menginginkannya sangat! Otak mesumnya membayangkan bagaimana dia melucuti tiap helai benang yang menutupi tubuh Reyna, mencecap setiap jengkal tubuh wanita itu. Memasuki liang surgawi dunia dan membawa wanita itu ke puncak kenikmatan bersama.


Tapi tidak sekarang! Reyna sedang kecewa dan dia tak ingin mengambil kesempatan diwaktu yang salah. Bukankah wanita mudah terbuai perasaaannya disaat mereka sedang sakit hati. Bram tak ingin Reyna menyesal nantinya.


__ADS_2