
Rumah Reyna yang semula hiruk pikuk karena tragedi telor ceplok seketika sunyi.
Dewa sudah diculik Bimo entah pergi kemana, tinggalah ia seorang diri dengan rumah yang berantakan. Belum lagi dia masih harus menyiapkan tas ransel keperluan Dewa menginap nanti malam.
Reyna melepas penatnya dengan merebahkan tubuhnya ke ranjangnya, masih ada beberapa jam lagi untuk kembali menyambangi rumah sakit.
Badannya lengket berpeluh, sedari pagi ia belum mandi, ia hanya ingin memejamkan mata sejenak, hanya sejenak...
.
.
.
Bimo dan Dewa menyeruak masuk dalam rumah dengan riangnya, mereka baru kembali dari arena permainan. Dewa nampak bahagia mendapat banyak sekali tiket mainan yang didapat dari sana meskipun hanya bisa ditukar dengan sejumlah makanan ringan.
Bimo melenggang masuk keruang tengah hendak mencari Reyna, dia berniat untuk segera berangkat mengingat Dewa sudah memasuki jam tidur siangnya. Anak itu biasanya tertidur sekitar 2 jam, harapannya anaknya akan tertidur selama perjalanan dan terbangun saat sampai dikediaman Alex.
Matanya menangkap tas ransel yang sudah rapi disiapkan, kakinya bergerak menuju dapur namun terhenti saat melihat pintu kamar Reyna terbuka lebar dan mendapati perempuan itu tidur tertelungkup.
Bimo berjalan berjinjit , melongokkan wajahnya. Reyna tertidur tanpa alas kepala, napasnya teratur dengan dengkuran halus menandakan dia tertidur pulas.
__ADS_1
Blouse yang ia kenakan tersibak dan jelas mempertontonkan bagian punggung bawah dan lekuk tubuh bagian belakang yang melandai indah bagaikan perosotan anak TK.
Bagian tubuh Reyna yang sampai detik ini masih menggoda hasratnya, Bimo hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah..
"Yayah.. Ewa antukkk.. " rengekan Dewa di depan pintu kamar membuyarkan angan kotornya. Seketika ia letakkan telunjuk di depan hidung dan buru-buru menuntun anak kecil itu keluar kamar.
"Mama sedang bobo, kita berangkat kerumah Opa sekarang saja ya?" bujuk Bimo
Dewa mengangguk pelan "tapi ewa mau ium mama uyu"
Bimo ragu sesaat tapi ia tak tega melihat mata sayu didepannya yang penuh harap.
"oke.. " jawab Dewa dengan membulatkan matanya senang
Cup.. kecupan lembut Dewa mendarat di pipi Reyna., perempuan itu hanya menggeliat pelan dan kembali tertidur.
Arghhh gemass rasanya bagi Bimo, rasa iri tiba-tiba menyulutnya, membayangkan ia menjadi Dewa semalam saja biar bisa dicium dipeluk sepuasnya oleh Reyna dan sebaliknya. Pastinya Bimo akan berikan bonus lebih daripada sekedar peluk dan cium. ♀️♂️
.
.
__ADS_1
.
Reyna terbangun saat ia rasakan tubuhnya kegerahan seketika membelalak saat melihat jarum pendek jam telah menunjuk angka 5.
Ia menghambur menuju ruang tengah berharap masih bisa bertemu Dewa sebelum pergi
kosong
Langkahnya lebar menuju rumah Bimo, tidak ada mobil yang terparkir disana, lampu teras pun sudah menyala.
Reyna berbalik kembali ke rumah mencari ponselnya, ada secarik kertas tergelatak di bawah ponsel.
Maaf aku tidak pamit, tidurmu terlalu pulas.
Luv you mom
-both-
Reyna mendesah, merutuki dirinya yang tertidur selama itu. Ini pertama kalinya ia jauh dari Dewa, jagoan kecilnya itu paling jauh menginap di rumah Bram..
Ah Bram lagi, otak Reyna seketika menegang teringat prianya yang kini sedang berjuang sendiri. Menurut kabar yang ia dapat dari suami Bianca saat ini Linda sedang berusaha menghubungi semua keluarga barangkali ada diantara mereka yang cocok menjadi pendonor hati. Bahkan Linda mengkontak semua rekan kerja Bram saat di Singapura berharap ada secercah harapan.
__ADS_1