
Gemericik air shower kalah seru dengan cicitan syahdu keluar dari bibir sensual Reyna, menikmati gelora dipusat tubuhnya. Bimo menghentikan gerakannya membiarkan wanita itu mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga.
"Want it more Rey?" bisik Bimo ditelinganya sambil meremas dua gundukan sintal yang memenuhi telapak tangan.
Reyna mengatur napasnya yang sempat tersengal,memutar kepalanya dan tersenyum memandang Bimo
Sebelah tangannya meraih tengkuk Bimo menggigit bibir itu pelan.
"Once more.. let's get it together"
Dua telapak tangan Reyna menempel di keramik dinding kamar mandi menahan hentakan demi hentakan.
Tak berselang lama dia merasakan getaran kembali dipusat tubuhnya, pekikan kecil lolos dari bibirnya. Cairan hangat terasa mengalir dipaha terasa kontras dengan dinginnya air shower.
"Thank you Rey.. " Bimo mengecup lembut ceruk lehernya mengakhiri kegiatan pagi mereka.
.
.
.
"Second day the last day, your turn Kak. Where we are going today?" tanya Reyna sambil mengacak rambutnya ditengah bisingnya hair dryer ditangannya
"Ehmm.. kita ke wahana outbond trus ke pondok kopi"
"Sempatkan beli oleh-oleh ya Kak"
.
.
.
Disini dipuncak tertinggi tebing yang melandai dibawah sana, Reyna berdiri takut-takut memegang erat lengan Bimo.
"Takut?" Bimo menggoda sambil memegang tali pengaman flying fox
"Ehmm.. enggak. Tapi kita coba yang lain dulu. Ini terakhir saja" ragu Reyna melihat hamparan pohon pinus yang tak berujung dibawah sana
"Oke deh, tapi janji ya. You have to try this!"
Mereka beralih menuju arena ATV, pekik riang terdengar saat keduanya beradu balap di arena. Hingga tiga kali putaran baru keduanya berhenti.
"Puas?" tanya Bimo membantu melepas helm pengaman
"Next time kita wajib kesini sama Dewa"
ahh... hatinya tiba-tiba merindu anak kesayangannya itu
"Vicall Dewa yuk Kak, aku kangen" Reyna menggandeng Bimo menuju bawah pohon rindang yang terdapat alas duduk dari bambu
"Ayuk, tadi pagi dijemput paksa sama Om Alex"
"Oh ya? dasar Dewa ganjen maunya nempel terus sama Rara"
---
Wajah riang bocah lelaki itu nampak dilayar ponsel
"Mammaa... Ayah.. " pekiknya
"Halo anakku sayang, lagi apa kamu? Mama kangen.. "
"Ayah juga... " Bimo menampakkan wajahnya
"Lagi mau tidur siang sama Opa" Dewa mengarahkan ponselnya ke wajah Alex
"Halo Om.. " sapa Bimo
"Hai.. kalian. Pulang malam ini kan?" tanya Alex
"Iya Om.." Reyna mengangguk "Om Alex mau oleh-oleh apa?"
"Oleh-oleh cucu perempuan mau Om?" Bimo menyeletuk
Reyna mendorong pipi Bimo menjauh dari layar
"Dewa mau adik cantik.. " tiba-tiba suara Dewa terdengar riang
__ADS_1
"Iya iya.. " Reyna merasa terpojok hah kenapa bapak anak ini kompak sekali
"Dewa jangan nakal ya, nanti malam Mama pulang. Cium mama dulu Nak.. " Reyna kissbay di layar ponsel
CUP
Bimo mendaratkan ciuman ke pipinya "Ayah wakilkan ya Nak... "
.
.
.
Dua pasang roda bundar sepeda yang mereka sewa diarena outbond berputar mengelilingi kawasan perbukitan dengan jalanan cukup terjal berbatu
"Kak... tunggu.. " seru Reyna dengan napas tersengal
"Ah payah kamu Rey" Bimo menghentikan laju sepeda dan menunggu Reyna yang tertinggal jauh
"Capek.. berhenti dulu" Reyna turun dari sepeda dan memilih mendorongnya
"Ayo dikit lagi, habis ini jalan turunan kok.. " Bimo menyemangati
Merebahkan tubuhnya di rerumputan hijau memandang langit yang membentang membiru
"Bentar ya Kak, rebahan dulu"
Bimo menyusul tiduran di sampingnya
"Rey.. telepon Bianca minta extend one day more"
"Nggak usah, jumat kan kita ketemu lagi. Kak Bimo yang susulin aku kan?"
"Iya.. Ahhh... kasian Si Ontong suruh LDR-an"
"Ohh..cuma mikirin Si Ontong nih" mata Reyna membuka lebar
Bimo merubah posisinya menyamping, mengelus-ngelus perut Reyna "Biar buruan ada adik cantik"
Reyna menatap Bimo lekat "Kak Bimo beneran pengen aku hamil lagi?"
"Iyalah.. biar mamanya sibuk dan full seharian dirumah"
Bimo menjawil hidung Reyna gemas "Sudah yuk jalan lagi, keburu sore"
.
.
.
Bimo menggenggam erat jemari Reyna yang nampak ragu saat pemandu memasangkan pengaman disekujur tubuhnya
Sesuai janjinya mereka kini berada di sisi tebing bersiap untuk meluncurkan badan ke seberang sepanjang 120meter jauhnya
"Yakin aman ya Mas?"" Reyna bertanya takut-takut
Pemandu itu tersenyum "Aman saya jamin. Kalau jatuh kan berdua Bu sama Bapaknya"
"Ih amit-amit ah Mas!"
"Yakin kuat kan ya Pak?" pemandu itu bertanya pada Bimo
"Kuat Mas, pagi siang sore malam hajar terus" Bimo tergelak
"Oh.. pengantin baru ini ceritanya.. " pemandu itu memasangkan kunci pengaman terakhir dibagian paha "Silahkan Bu naik ke pangkuan bapaknya, bayangin aja kaya semalam"
Reyna memutar bola matanya jengah, ampun dengan makhluk pria, nggak ada akhlak! 😑
"Satu.... dua... " pemandu memberi aba-aba
"Eh bentar-bentar Mas" Reyna memegang erat-erat jemari tangan kiri Bimo.
"Peluk yang erat Pak, jangan kasih kendorrr... " seru pemandu lagi
Bimo merekatkan tubuh mereka "Buka matamu Rey, nikmati" tangan kanannya menggenggam erat kamera digital siap merekam moment meluncur
Tiba-tiba "Tigaaa..... " pemandu itu melepas tali pegangan dan membuat kedua tubuh itu meluncur bebas
__ADS_1
"Aaaaaaaa......... " teriak Reyna kencang, angin menerpa wajahnya kuat. Eh... kok nggak ada suara Kak Bimo. Ia beranikan membuka mata menoleh
"Lihat depan... indah... " bisiknya
Mata Reyna berbinar menatap jajaran pohon pinus terasa membelah saat tubuh mereka meluncur, keduanya bagaikan terbang di hamparan langit biru.
Tackk... tubuh mereka terhentak saat sampai di seberang
Dua orang petugas sibuk melepas semua simpul ikatan pengaman.
"Maaf Bu.." saat petugas ta sengaja menyentuh bokong Reyna
"Eheeemm.. " Bimo mengerucutkan bibirnya tanpa bisa berbuat apapun, dirinya masih terikat kuat dan menunggu giliran.
Reyna menepuk nepuk jemarinya riang "Ayo Kak.. lagi! "
"Hah???? Lagi??" Bimo menatap tak percaya
"Iya... asyik ternyata. Aku mau sendirian saja tapi. Kak Bimo tunggu disini saja kalau nggak mau"
"Eh.. ikut ikut" Bimo buru-buru mengejar Reyna
"Lewat jembatan jaring mas biar dekat" teriak salah satu petugasnya
"Aduh... nyaliku ciut nih" Reyna mendekap dadanya ragu melihat untaian kayu yang berjajar rapi di sepanjang jembatan penghubung dua tebing
"Kamu duluan, aku dibelakangmu" Bimo mendorong pelan bahu Reyna
Selangkah dua langkah tiga langkah, Reyna berhenti saat sampai di tengah jembatan
"Jangan lihat bawah Rey.. " ucap Bimo dibelakang
"Ehmm iya iya.. " Reyna masih menatap hamparan batu terjal di bawah sana
"Kakkk.... jangan digoyang-goyang" Reyna menoleh dan menatap Bimo tajam
"Loh.. biasanya suka digoyang-goyang" Bimo terkikik
"Nggak lucu ah, ngeri tauk! Awas goyang lagi nggak ada jatah nanti malam" tukasnya sengit
Jurus pamungkas dilontarkan, Bimo menurut saja bagai sapi yang dicucuk hidungnya. Mendekat ke tubuh Reyna dan memeluknya hangat dari belakang lalu mencium pipinya.
Menunggu sesaat sampai istrinya siap melanjutkan langkahnya kembali.
"Kak Bimo bisa sesantai itu" Reyna masih mencengkeram erat sisi pegangan jembatan yang terbuat dari tambang
"Asyik lagi Rey bisa berada diketinggian.. berasa jadi pemenang" Bimo bersandar di sisi jembatan, mengeluarkan ponselnya menarik sisi tubuh wanita itu dari samping
"Lihat sini Rey.. " pintanya, wanita itu menoleh patuh
Bibirnya meraup bibir Reyna yang putih memucat lalu meng-candid dengan kamera ponselnya
"Masss... Mbakkk.. euyyy. Jalan... macet niii" teriak seseorang dibelakang sana sebal
"Ihhh, tuh orang pasti jomblo" Bimo berbisik geli disusul Reyna yang menutup bibirnya menahan tawa
Akhirnya keduanya sampai di penghujung jembatan, Reyna nampak rileks disisa perjalanan berkat Bimo berceloteh hal-hal yang membuatnya tertawa
Cukup lama mereka mengantri menunggu giliran
"Eh.. si Ibu lagi" mas petugas menyapa Reyna "Ketagihan Bu"
"Biasa Mas.. kalau enak ya minta tambah" lagi akhlak Bimo menguap entah kemana
"Eh eh.. saya duluan Mas" Bimo menyerobot tempat antrian milik Reyna saat melihat petugas bersiap memasang kembali pengaman ditubuh Reyna
Sshhyuuuuuttttttt..... tubuh Bimo terlempar kencang, menunggu beberapa saat disusul dengan Reyna kemudian
Tackkkk... tubuh Reyna bergoyang menggantung di seberang
"Saya aja Mas..saya suaminya " Bimo buru-buru menggeser tangga portable, melepas semua simpul di tubuh Reyna dan memapah wanitanya turun.
"Ih.. Kak Bimo kelihatan banget" bisik Reyna setelah menjauh dari titik penyebrangan
"Eh.. " Bimo menoleh
"Nggak rela istrinya disentuh orang" Reyna terkikik
"Ah.. iya, habisnya masnya pegang-pegang bemper belakang kamu"
__ADS_1
"Ih, nggak sengaja. Nggak mau juga aku dipegang-pegang sembarangan. Najis!"
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!