Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
72. Menerka


__ADS_3

Tiga pekan berlalu tak nampak juga batang hidung Bram. Reyna makin gelisah, belum lagi meladeni rengekan Dewa yang meminta bertemu papa iyo.. panggilan kesayangan pada calon suaminya itu. Logat anak kecil yang kesusahan melafalkan Bram dan mengganti memanggilnya iyo alias Tyo. Setiap akhir pekan Bram pun juga mengelak datang atau Reyna kunjungi dengan alasan bertemu klien.


Awal pekan ini Reyna kembali menyambangi butik karena manager produksinya harus memimpin rapat menggantikan Linda yang harus bertolak ke Singapura.


Reyna mengurungkan niatnya untuk bergegas kembali ke kantor ketika ia lihat sekelebat bayangan Bianca diruangnnya.


"Bi.. "


Bianca nampak terperanjat


"Eh kamu Rey"


"Ada kabar soal Mas Bram?"


"Ohhh ehhh itu.. " Bianca tergagap "Kayaknya keluar kota deh Rey, soalnya tadi pagi suamiku bilang Mas Bram yang ambil alih meeting dengan semua customer selama aku hamil. Cuma tri semester pertama aja kok Rey"


Reyna mengerutkan dahi, sejak kapan Bramantyo tidak mengatakan bahwa ia hendak luar kota.


"Tante Linda sibuk ya Bi.. , minggu kemarin aku kesini ke Singapura , eh ini juga kesana lagi. Tender besar? " tanya Rey selidik, padahal ia berharap bisa mengorek informasi dari wanita itu yang masih tinggal seatap dengan Bram


"Oh Mama.. iya kayaknya.. Nanti sore juga sudah pulang kok"


.


.

__ADS_1


.


Reyna berkali-kali menghubungi Bram melalui ponselnya sepanjang perjalanan pulang dari butik. Entah sudah berapa kali panggilan hingga hatinya bersorak saat suara berat Bram terdengar


"Mas.. kata Bianca mas keluar kota? Kok nggak kasih kabar! " serunya


"Sorry Rey.. aku lagi sibuk nanti aku telepon balik" Bram menjawab dengan setengah berbisik


tut


panggilan itu diputus sepihak..


Dengan gemas Reyna memukul bangku penumpang saat di mobil, ia mulai merasa sedang dipermainkan.


.


.


.


Matanya melirik tumpukan kertas itu kembali dan menendang kardusnya.


Persetan dengan pernikahan, saat ini yang paling penting adalah bertemu Bram dan meminta penjelasan.


Reyna terhenyak saat melihat kardus yang terjungkal dengan beberapa barang milik Bram yang tercecer. Seakan mendapat ide bagus. Sepulang kerja nanti menyambangi kediaman Linda dengan alasan mengantar barang-barang Bram.

__ADS_1


.


.


.


Reyna terheran saat melihat mobil Bram terparkir di garasi rumah Linda, ahhh hatinya bersorak siapa tahu pria itu saat ini ada dirumah.


Terhuyung Reyna mengangkat kardus ke dalam rumah. Nampak wanita muda berjalan bergegas menghampirinya.


"Mbak Reyna.. sini saya bantu" sambut Mbak Ayu sang asisten rumah tangga


"Loh Mbak Ayu kok belum pulang.. "


"Iya Mbak.. Bu Linda belum pulang soalnya"


"Kalau Pak Bram?? "


"Ehh. saya kurang tahu mbak Rey" assisten rumah tangga itu menundukkan pandangannya


"Saya boleh masuk kamar Pak Bram, mau membereskan barang-barangnya" ijin Reyna


"Oh ya Mbak.. boleh"


Reyna memasuki kamar Bram, bau agak pengap menyeruak ke hidungnya. Kamar ini bagaikan lama tak berpenghuni. Reyna duduk ditepi ranjang, mengirimkan pesan ke pengasuh Dewa untuk pulang lebih lambat. Reyna bertekat harus bertemu dengan Linda hari ini...

__ADS_1


Tangan Reyna terulur membongkar barang-barang milik Bram, akan ia rapikan selagi menunggu Linda datang. Hanya ada agenda kerja, beberapa file kontrak lama, beberapa kartu nama klien dan amplop amplop sebagian besar tertera logo bank nasional.


Reyna memilah dan menggolongkan semua barang-barang itu. Membuka beberapa berkas hanya untuk membunuh waktunya disana. Tubuhnya meremang saat menemukan satu amplop diselipan barang-barang itu.


__ADS_2