
"Reyna.. ada apa?" Bimo terdengar begitu panik diujung sana
Masih tersengal berusaha menghentikan tangis "Kakkkk... "
"Reyna, tenang. Ada apa, kamu, Dewa ..Oh Reyna berhentilah menangis. Katakan apa yang terjadi?! "
Reyna mengusap wajahnya, mengambil napas dalam dan terbata berkata
"Maaf,, aku tak apa.. aku hanya.. tadi aku.. " Ahh cukup Rey jangan teruskan, ini bukan waktu yang tepat bicara soal Bram!
"Kenapa?? "
"Ah...syukurlah aku hanya lega ternyata Kak Bimo baik-baik saja, susah sekali menghubungimu"
"Apa?!! Kau meneleponku dan menangis di pagi buta hanya untuk itu? Bikin panik saja! " omel pria disana
"Ya ampun Kak! Apakah besok-besok aku harus menelepon di jam segini agar kau mau menjawab!" sumbu amarah Reyna tiba-tiba tersulut
"Sudahlah aku mau tidur lagi!" Bimo bersungut marah
"Kakk.. " shhyyuuuttt Reyna menurunkan volume suaranya serendah mungkin "Aku rindu"
"Eh??"
diam
"Aku cemas Kak Bimo kenapa-kenapa"
"Ehm, aku baik-baik saja. Sudahlah, ayo tidur. Besok-besok kita bicara lagi"
Hati Reyna bagai terkoyak duri, bisakah pria itu menjawab jika ia juga rindu!!
"Ya sudah..Maaf membangunkanmu. Bye"
.
.
.
Kepala Reyna terasa berdenyut, dia tak bisa kembali tidur nyenyak selepas dini hari. Mimpi itu masih terbayang dibenaknya, wajah Bram yang segar berseri dan itu adalah senyum termanis semasa hidup Bram, senyum yang sama saat ia berhasil melingkarkan cincin di jari manis kirinya.
Ah, hatinya berasa tertusuk saat mengingat Bimo sekaligus. Di jam menjelang makan siang seperti ini biasanya dia rajin mengabsennya, mengingatkan untuk tak lupa makan siang. Tapi sekarang? Kenapa dengan pria itu?
"Mbak Rey.. " wajah Lia muncul dari bilik seberang "Mau ikut makan siang keluar?"
"Ehm.. tidak, aku lagi malas makan" jawab Reyna tak berselera
"Mbak Rey diruangan sendirian loh, anak-anak pergi semua soalnya"
"Ya.. tak apalah. Aku mau tidur siang saja"
.
.
__ADS_1
.
Alih-alih tidur siang Reyna malah memilih menyambangi rumah Bianca. Digoncangkan badan wanita yang sedang tidur lelap.
"Aigoooo.. aku ngantuk Rey semalam begadang" sungut Bianca
"Aku mau bicara, habis itu kau boleh lanjutkan tidur siangmu"
"Iya kalau anakku tak bangun!" Bianca mengajak Reyna bicara di luar kamar
"Bi.. maaf kalau menurutmu ini waktu yang tidak tepat. Aku gundah akhir-akhir ini"
"Soal?" Bianca menaikkan alisnya
"Menurutmu bagaimana kinerja Lia?"
"Lia? staff compliance di konveksi?"
Reyna mengangguk
"Kamu ganggu tidur siang aku cuma mau ghibah soal Lia??"
"Ish... bukanlah! gimana menurutmu kalau dia menggantikan posisiku?"
Bianca menutup mulutnya terkejut "Is it mean that you are going to leave your job?" yah..meskipun Bianca telah menebak hal ini akan terjadi suatu hari
"Yes madam!"
"Ehmm Lia, she's not bad & very helpfull during your maternity leave. But I need to know your reason to quit this job, tell me the truth! "
Tak lama isak tangis terdengar memilukan ditelinga Bianca
"Sudahlah Reyna, aku yakin Mas Bram sudah tenang disana. Dia juga ingin melihatmu bahagia"
"Bukan..bukan itu yang membuatku menangis"
"Lalu?? "
"Aku rindu Kak Bimo.....tapi dia ahh entah kenapa dengan dia aku tak tahu. Aku takut kehilangan dia Bi.. "
Demi Tuhan... baru kali ini seorang Reyna menangis karena rindu dengan pria. Tampar aku eh jangan cubit saja, yakinkan aku tak sedang bermimpi sekarang, pekik Bianca dalam hati.
.
.
.
Kembali ke kantor dengan perut kosong dan kepala pening, ahh ini memang bukan harinya. Reyna mematut wajahnya yang kuyu, memaksakan menarik senyum disudut bibirnya. Tetap saja ia resah tak berkesudahan.
Ia taruh keningnya dimeja, ingin rasanya meminjam pintu kemana saja milik Doraemon untuk datang menemui pria yang dirindukannya.
Drtttttt Drrtttt Drrttt
Malas Reyna mengambil ponselnya yang bergetar, memicingkan mata. Jantungnya serasa lompat dari tempatnya saat melihat nama Bimo dilayar.
__ADS_1
"Halo Kakk... " sapanya dengan semangat 45
"Hai Rey, sudah makan?"
Ahhh hati Reyna berdesir
"Ehmp.. belum" matanya melirik penunjuk waktu dilayar laptopnya "Lagian sudah lewat jam makan" Huh coba kau telepon setengah jam lalu aku pasti langsung kalap memakan semua isi warung nasi padang diseberang sana
"Kenapa?" terdengar suara Bimo berbisik berbicara dengan seseorang disana
"Nggak nafsu makan" jawab Reyna
"Sorry Rey, bukan kamu" bisik Bimo pelan
Ishhhh ini orang berniat meneleponnya atau tidak sih, Reyna terdiam memasang telinganya baik-baik. Dan bla bla bla Bimo masih mengatakan beberapa hal seperti meminta seseorang membereskan pekerjaannya.
"Kak... "
"Kak, sibuk ya?"
"Kak.. kalau sibuk .. "
"Ehm ya maaf.. " Bimo bersuara "Kamu tak suka aku telepon?"
"Eh... bukannn!! " pekik Reyna "Suka.. suka banget" spontan saja luapan kerinduan itu tertumpah
"Sudah lama Kak Bimo nggak telepon, nggak kangen?" harap harap cemas menanti jawab diseberang
"Ehmmm ya..."
Ya. iya apa, ayooo bilang!! batin Reyna meronta
"Aku cuma khawatir soal tadi pagi"
Cuma! Shitt!
"Are you okay Rey?"
"Ehm.. ya... " seketika ada yang menguap dari relung hatinya "When your next visit for us?" cukup aku tak mau berharap lagi!
"Next week! I won't miss your birthday"
Aaihhhh hati Reyna kembali mekar, Bimo masih saja mengingat ulang tahunnya
"Aku kan sudah beri kadonya kemarin. Besok aku tagih minta apa saja ya?"
"But you promise me to give another one, remember?"
"Aish.. sorry Rey. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan opsinya. Boleh aku skip saja"
"Yeah.. up to you"
diam... hanya deru napas mereka memburu
"I love you... both!" dan tut sambungan itu diputus
__ADS_1
Ada apa ini, Bimo seakan memainkan emosinya naik turun, sebentar ketus sebentar manis. Apapun itu yang jelas saat ini Reyna sedang dimabuk cinta dan didera rindu.