
Alex datang sesaat setelah Reyna dipindahkan ke ruang perawatan. Pria paruh baya itu nampak cemas ketika memasuki kamar yang serba putih.
"Reyna.. " bergegas melangkah mendekat ke ranjang "Maaf tadi Om sedang berjumpa kawan
lama, keasikan ngobrol"
"Iya Om. Beruntung ada Pras"
"Bagaimana kondisinya?"
"Disuruh rawat inap karena harus dimonitor"
"Bimo sudah tahu?"
Reyna menggeleng "Nanti saja Om kalau pesawatnya sudah landing. Rey takut Kak Bimo jadi cemas. Rey sudah pesan supaya Kak Bimo telepon begitu sampai, biar langsung kesini"
"Ya ya ya, Om paham. Pras terimakasih ya" Alex menepuk bahu Pras yang duduk di sisi ranjang
Pria itu hanya menggangguk "Tak soal Pak Alex. Jam berapa pesawat Mas Bimo landing?"
"Sekitar jam 8, semoga tidak delay"
Pras menatap arlojinya "Ehm, masih cukup lama. Ada yang bisa aku bantu lagi Rey?"
"Eh.. nggak Pras, kamu bisa pulang kok. Makasih banyak ya"
"Iya, aku balik ya. Baik-baik, ingat pesan suster jangan banyak gerak" Pras menepuk punggung tangan Rey
"Pak Alex, saya permisi masih ada pekerjaan di kantor" Pras membungkuk sopan dan berlalu pergi
"Om sudah minta Mbok Nah kemari membawa beberapa keperluanmu"
"Iya Om. Maaf Rey buat semua orang repot gara-gara ceroboh"
"Reyna, kami semua ini keluargamu. Jangan sungkan seperti itu"
"Om istirahat dulu ya di sofa, capek kan dari siang perginya"
Alex mengiyakan lalu berjalan ke sofa, melihat acara televisi. Efek usia dan kelelahan membuat pria paruh baya itu tertidur tak lama kemudian.
---
2 jam kemudian, ponsel Reyna yang ia genggam sedari tadi dengan gelisah akhirnya berdering
"Kak Bimo sudah sampai?"
"Iya, nih sudah naik taksi online. Mau titip sesuatu?"
"Kak Bimo susulin Rey ke rumah sakit ya" jawab Reyna setenang mungkin
"Rumah sakit? Kenapa? Kamu... "
"Kontrol Kak.. biasa"
"Seminggu lalu kan baru kontrol"
"Ehm.. Reyna minta resep vitamin aja kok. Nggak enak badan" duh susah amat sih bohong
"Ya sudah, tunggu ya"
Hanya 30 menit lamanya Bimo kembali meneleponnya
"Kamu dimana, aku didepan bilik konsul nih"
"Kak, aku diruang Melati kamar 343"
"Dirawat??" nada Bimo berubah cemas
"Sini deh Kak, buruan"
"Iya iya, jangan matikan teleponnya"
Bruk bruk bruk
Derap langkah Bimo terdengar jelas, beberapa kali terdengar dengusan kesalnya saat menerobos kerumunan massa
"*Permisi...maaf permisi. Saya sedang buru-buru"
"Rey, kamu disana*?"
"Iya.. Kak Bimo tenang saja. Ada Om Alex"
"Oh. Ya sudah aku matikan dulu. Aku sudah di lift".
Sesuai prediksinya laki-laki itu terkejut bukan main saat mendapatinya terbaring dengan baju pasien di ranjang
"Astaga Rey, ada apa? kamu kenapa? anak kita?" bertubi pertanyaan di lontarkan sambil menangkupkan tangan kekar dipipinya
"Maaf Kak, aku nggak mau bikin cemas" Reyna menggenggam tangan suaminya
"Maaf tadi aku jatuh dirumah waktu turun tangga"
"Reyna, aku sudah bilang hati-hati kan!"
"Bimo" Alex mendekati keduanya "Ini musibah. Bersyukurlah tak ada yang serius pada kandungan istrimu"
"Benar tidak apa-apa?" Bimo memegang perut istrinya "Ada yang sakit?"
"Enggak, sudah enggak. Tadi sempat nyeri dan ngilu pas jatuh. Malam ini disuruh bed rest dan dipantau kondisi air ketuban yang sempat rembes, besok paling sudah pulang setelah visit dokter"
__ADS_1
Bimo mengecup kening istrinya "Syukurlah.." mengelus dadanya lega dan menghembuskan napas panjang
.
.
.
Menggeliat resah dalam tidur malamnya, kandung kemihnya serasa penuh dan mengharuskan dia untuk buang air kecil. Matanya membuka, perlahan ia pindah tangan Bimo dari atas pahanya. Suaminya menolak tidur disofa karena mengkhawatirkan kondisinya.
Tubuh kekar itu menggeliat lalu sontak terbangun
"Mau apa?" tanyanya dengan suara serak
"Eh, mau pipis"
Bimo menyingkap selimut, menurunkan rel ranjang lalu membantu Reyna turun perlahan-lahan. Memapahnya hingga ke kamar mandi, berdiri didepan closet menunggu hingga istrinya selesai.
Reyna menatap suaminya, Bimo menampakkan sisi kedewasaannya setiap kali ia sedang sakit.
"Kak Bimo tidur saja di sofa" ucap Reyna setelah naik kembali ke ranjang
"Heemm.. " pria itu menguap kecil lalu melangkah menuju sofa
Belum seberapa nikmat ia rasakan empuknya sofa , terdengar suara sang istri kembali memanggilnya
"Kenapa? Mau pipis lagi?"
"Pembalutku penuh" wanita itu nampak pucat
"Eh" Bimo buru-buru menghampiri ranjang "Keluar lagi?" tanyanya cemas
"Iya Kak, padahal tadi sudah berhenti"
"Aku panggil suster" Bimo sigap dan berlari keluar kamar
Suster tergopoh menuju ruangan mereka, sigap mengganti pembalut yang benar-benar basah kuyup. Memposisikan Reyna tidur miring dengan letak kepala lebih rendah dan kedua kaki agak ditinggikan.
"Sabar ya Ibu, semoga rembesnya tidak makin parah. Usahakan istirahat semaksimal mungkin"
"Aku takut Kak" Reyna meremas selimut diatas perutnya
"Sakitkah Rey?"
"Enggak"
Pria itu mengelus rambutnya "Ssshhh.. sudah buat tidur lagi ya" kembali duduk dikursi samping ranjang menggenggam tangannya erat
"Berpikir positif ya, semua hal itu kan pusatnya di kepala kita Rey"
"Kak Bimo tambah dewasa ya"
Sekelumit kata bijak dari Bimo seketika buyar saat visit dokter pagi harinya.
"Ibu Reyna sudah mengalami mulas?"
"Belum Dok"
"Rembesan air ketubannya semakin banyak ibu. Efek jatuh terduduk sepertinya membuat robekan cukup lebar di membran"
Dokter itu membolak balik berkas ditangannya
"Kalau saya lihat dari rekam medik, bayinya sudah cukup siap untuk lahir. Ehmm, kita lakukan induksi ya ibu"
Air muka Reyna berubah pias "Tidak ada jalan lainnya Dok?"
"Kami tidak mau mengambil resiko Ibu"
"Induksi itu apa Dok" Bimo berkomentar karena melihat raut muka istrinya yang ketakukan
"Rangsangan Bapak, agar terjadi kontraksi untuk membuka jalan lahir"
"Sakit ya?"
Dokter itu tersenyum "Coba tanya Ibu, kelahiran pertama caesar karena kegagalan induksi ya Bu" ucao dokter sambil mengamati berkas rekam medik ditangannya
"Saya tidak menemani waktu putra pertama Dok"
"Sakit Rey?" pria itu menatap istrinya cemas
"Nggak... nggak kok" Reyna mencoba tersenyum tipis. Nggak sakit Kak tapi sakit banget!
"Sayang lho Bu usahanya menekan BB bayi selama ini, Ibu ingin melahirkan normal kan ya?"
**BB \= berat badan
Reyna termangu, waktu hamil pertama dia tak menghiraukan masalah berat janin. Asal dia lapar dia akan makan. Berbeda dengan kehamilan kedua yang dijaganya baik-baik. Jika ingin melahirkan normal maka BB bayinya kali ini harus lebih kecil dari BB Dewa.
"Iya Dok, ya sudah kalau tak ada jalan lain. Saya bersedia"
"Baik, nanti biar suster urus selanjutnya. Semangat ya Ibu, semoga kita bisa berjumpa dengan adiknya hari ini juga"
---
"Rey, coba bilang seperti apa rasanya waktu itu" Bimo mulai cemas
"Ya seperti itu. Nggak apa-apa Kak, aku ingin rasakan lahiran normal biar jadi ibu sejati kata orang-orang"
"Heran dengan orang-orang pikirkan! Operasi juga taruhan nyawa Rey"
__ADS_1
"Ssttt sttt sudah.. Doakan saja ya lancar"
Ruang pasien itu berubah gaduh setelah dua jam kemudia Reyna baru merasakan kontraksi level 3, jalan lahirnya mengalami pembukaan 4.
Gelenyar-gelenyar sakit yang ia rasakan di sepanjang tulang belakang membuatnya mengaduh dan meringis.
"Rey...bilang aku. Harus bagaimana" Bimo tak henti menggosok-gosokkan tangannya di punggung Reyna
"Iya begitu ssshhhh saja.. Gosok saja Kak, aduhhh.... "
"Mbok Mbok gantian dulu aku mau ke suster minta obat peredam sakit"
"Nggak ada shhhhhh... Kak, nggak ada"
"Udaj sini Mbok, aku mau ke suster dulu" Bimo berjingkat dan menarik Mbok Nah menggantikan posisinya
"Sabar Mbak Rey... Ayo nookk ayo leee.. cepet keluar sudah ditunggu ayah sama mama" Mbok Nah mengurut urut punggungnya
"Hhmmmppppphhh... " selimut itu Reyna gigit kuat-kuat sebagai pelampiasan sakit yang mendera
Sayup-sayup terdengar Bimo menelepon sambil berteriak-teriak panik diluar sana
"Kak Bimo telepon siapa?" tanyanya saat laki-laki itu masuk dengan gontai
"Mbak May aku minta kesini"
"Ssshhh.. ya ampun.. aduh" mata Reyna memejam
"Ssttt ssttt ssttt, andaikan boleh berbagi sakit.. Maaf aku tak tahu harus bagaimana" Bimo mengasak asak rambut istrinya yang mulai basah dengan keringat
"Sakitnya aku kasih... eehmmmpptt aku kasih semua ke Kak Bimo" senyum tipis tertarik paksa di sudut bibirnya
"Tak apa aku rela..Maaf dulu kau berjuang sendiri"
"Mbok... " Reyna memanggil Mbok Nah lirih
"Ya Mbak?"
"Pinjamkan gunting kuku Mbok"
"Mau buat apa Rey?" Bimo menatapnya heran
Reyna hanya tersenyum
"Buat keselamatan Mas Bimo" celetuk Mbok Nah lalu pamit keluar
---
Makin keras Reyna mengaduh makin panik Bimo dibuatnya. Laki-laki itu mondar mandir di ruangan, mengacak rambutnya.
"Reyna..... " pekikan cemas diiringi masuknya seorang wanita dari balik pintu
"Mbak May... " Reyna menjawab disela deru napas
"Bukaan berapa?"
"Enam Mbak. Doakan"
"Iya iya" perempuan itu manggut manggut
"Memang lama seperti ini ya Mbak" Bimo mendekat lalu memeluk istrinya
"Ya karena tergantung obat Bim, sabar. Ayo semangati Reyna"
"Mbak bawakan makanan kesukaan kamu. Mbak sempet-sempetin beli. Dimakan ya?"
Reyna mengangguk pelan, merubah posisinya yang sedari tadi miring menjadi duduk. Membuka mulut menerima suapan bakmi goreng yang Mbak May beli di dekat rumahnya.
"Loh kok nangis cup cup cup" May meletakkan bungkusan dan menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Reyna
"Kenapa Rey, sakit ya. Sakit banget" Bimo menarik bantal penyangga punggung lalu mengelus-ngelus
"Enggak kok, Reyna terharu" senyum itu muncul disela ringisan-ringisan kesakitan
"Ayo semangat.. " May kembali menyuapkan makanan itu
2 jam kemudian
Suster mulai berlarian menyiapkan ruang bersalin
"Sebentar lagi Dokter datang, Bapak temani Ibu dulu ya" suster menyerahkan baju khas rumah sakit berwarna hijau ke tangan Bimo
"Say harus gimana sus?" Bimo terbengong bengong
"Temani, pegang tangan Ibunya. Diberi semangat ya Pak"
---
"Ayo Ibu dorong yang kuat ya. " seru Dokter bersiap duduk di antara dua kaki Reyna yang terbuka lebar
"Rey kamu bisa. Ayo kamu kuat" Bimo membisikkan kata-kata semangat ditelinga istrinya
Peluh bercucuran dikeningnya, sudah tak mampu berkata-kata menahan semua kesakitan yang kata orang bagaikan meremukkan 7 tulang sekaligus.
Matanya melihat nanar sesekali ke arah atap ruang bersalin, memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat
"Sekali lagi ya Ibu, tarik napas panjang. Nah ayo sekarang dorong kuat-kuat"
Ooooooooeeeeeeekkkkkkkkkkk.......
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!