
Reyna dan Bimo berbaring dengan posisi menyamping di pinggir ranjang mengantarkan Dewa yang saat ini telah tertidur pulas dibalik selimut tebal. Dengkuran halusnya membuat keduanya tertawa tertahan.
"Kasihan kecapekan dia Rey" ucap Bimo
"Tapi dia senang sekali hari ini, makasih ya Kak" Reyna menatap Bimo penuh arti, pria itu benar-benar menunjukkan sisi lainnnya sebagai seorang ayah demi membahagiakan Dewa.
"Kamu mau tidur sekarang Rey, aku keluar ya!?"
Bimo beranjak dan mengambil salah satu selimut
Reyna beringsut masuk ke dalam selimut Dewa dan mulai memejamkan matanya. Badannya pegal dan kantuk menyerang tapi hawa dingin yang menusuk tulang membuatnya tidak nyaman.
Dewa juga menggeliat pelan merasakan dingin karena harus berbagi selimut.
Reyna duduk, melipat selimut menjadi dua dan menutup tubuh Dewa rapat-rapat. Telinganya menangkap suara berisik diruang utama, pelan ia turunkan handle pintu dan melongok keluar, dilihatnya Bimo sedang berjongkok didepan perapian dikeremangan.
Reyna menutup pintu kamar pelan dan mendekat ke arah Bimo.
"Kak Bimo ngapain" bisiknya
Bimo mendongak kearah suara
"Dingin Rey.. aku nyalain perapian biar agak hangat, kamu mau apa?"
"Nggak bisa tidur Kak, dinginnn.. aku nggak tega berbagi selimut sama Dewa"
"Ya sudah duduk sini dulu temani aku"
"Aku bikinin coklat hangat ya Kak" tawarnya
Bimo mengangguk dan mengangkat jempolnya
- - -
Bimo menepuk-nepuk tanganya yang berdebu, menyusul kearah Reyna yang sudah lebih dulu naik ke sofa dan bergelung dengan selimut.
__ADS_1
Bimo mengambil 2 cangkir berisi coklat panas dan mengambil remote menyalakan televisi dengan layar besar yang terpajang diatas perapian.
"Masih dingin? " tanya Bimo setelah keduanya menghabiskan coklat masing-masing
Reyna mengangguk frustasi, dia meletakkan cangkir kosong ke meja kecil didepannya lalu buru-buru naik kesofa dan menutup tubuhnya kembali dengan selimut.
"Maaf ya, aku nggak tahu kamu nggak tahan dingin" Bimo meraup kedua tangan Reyna dan menggosok-gosokkan pelan dengan telapak tangannya.
"Nggak apa-apa Kak, sesekali ini"
Bimo menarik selimut dan ikut bergelung dibawahnya, tangannya mengambil remote dan mengganti channel TV.
"Ini saja" Reyna merebut remote dari tangan Bimo saat layar televisi menampilkan film Twilight.
Bimo mendengus menyandarkan kepala ke bantal sofa berukuran besar.
"Apa sih bagusnya film itu? "
"Yang main ganteng Kak"
"Gantengan juga aku Rey"
Bimo terduduk tegak membusungkan dada
"Kalau dilihat pake sedotan dari ujung monas" Reyna menyeletuk santai lalu terkikik geli
Bimo memilih memainkan ponselnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Reyna. Wanita itu membelakkan mata tiap kali layar lebar itu menampilkan jelas wajah sang aktor.
Rambut Reyna melingkar indah sepinggang, wanita itu tetap terlihat sensual dimata Bimo sekalipun dibalut baju hangat rapat seperti saat ini.
Reyna nampak panik saat layar televisi menampilkan adegan panas diatas ranjang dari potongan film. Ia lirik wajah Bimo yang terlihat datar-datar saja menatap ponsel sambil melirik heran saat ia sibuk mencari keberadaan remote TV.
"Kenapa Rey?"
"Ehh.. nggak...nggak apa-apa kok" Reyna tergagap dan masih berusaha meraba kesegala arah.
__ADS_1
"Oh... " Bimo seperti tersadar saat melihat sekelebat adegan syur di layar sana.
Buru-buru Bimo menaruh ponsel dan merentangkan tangan lebar-lebar kebelakang
pundak Reyna dan menarik tubuh wanita itu kepelukannya.
"Kalau filmnya gini nih aku suka Rey" pancing Bimo
Reyna berusaha menggeser tubuhnya tapi setelah berpikir ulang ia pasrah saja kalau tak ingin selimut lepas dari tubuhnya dan kedinginan.
Entah terbawa suasana atau memang tubuhnya yang tak bisa menolak, Reyna hanya terdiam saat tangan Bimo berpindah dari pundak menuju pinggangnya, merapatkan tubuhnya, membiarkan pria itu membaui harum rambutnya, bulu kuduknya meremang saat lelaki itu menempelkan hidungnya ke cuping telinganya.
Bimo makin berani karena merasa tak mendapatkan penolakan, ia belai lembut pipi Reyna, memainkan jemarinya di atas bibir tebal yang dilapisi lipstik warna natural, terlihat makin sensual dikeremangan. Mendekatkan wajahnya dan mulai mencium lembut bibir yang selama ini ia rindukan.
Hatinya bersorak dan makin menggelora saat ciuman itu berbalas, tak lama keduanya tenggelam dalam pagutan bibir yang panas.
Bimo mencium ceruk leher Reyna dan menyesap pelan, menikmati bau tubuh khas dari Reyna yang memabukkan.
Reyna benar-benar tenggelam dalam permainan malam ini, tak dapat ia pungkiri bahwa ia merindukan Bimo. Merindukan pelukan, sentuhan dan ciuman pria itu, jantungnya makin berdetak hebat saat tangan pria itu menarik pahanya dan menuntun duduk kepangkuan. Menundukkan wajahnya dan membiarkan Bimo melanjutkan ******* habis bibirnya.
Tangan Bimo mengelus halus punggung Reyna, perlahan tapi pasti tangan itu menyusup, mengelus dan meremas dua gundukan. Ia merasakan sesak melanda dibawah sana saat mendengar desahan keluar dari bibir Reyna.
Ciuman bibir itu terlepas saat Bimo menggeliat, Reyna merasa hawa dingin menerpa punggungnya saat pria itu berusaha menarik sweaternya keatas. Reyna mengerjabkan mata memandang Bimo yang menatapnya dengan penuh nafsu.
Tiba-tiba saja bayangan Bram terlintas dibenaknya, hatinya membeku sesaat. Buru-buru dia beranjak dari pangkuan Bimo dan berdiri mematung dengan jari digigitnya frustasi. Perasaan bersalah tiba-tiba datang dan mengobrak-abrik seluruh gairah yang beberapa saat lalu datang. Mata Reyna terpejam untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang.
"Ada apa Rey?" tanya Bimo dengan nada takut-takut membuyarkan heningnya malam.
"Maaf Kak" Reyna berbisik dan kembali duduk di sebelah Bimo "Maaf.. aku.. aku belum siap.. aku.. aku belum sanggup.. dan.. " Reyna meraup wajahnya menarik napas panjang
"Tak apa" Bimo mengelus punggung Reyna dengan lembut
"Dan aku terlanjur berjanji.. " Reyna mendongakkan kepala menatap tajam ke arah Bimo
"Janji?".. " Apa?" Bimo menaikkan pundaknya tak mengerti
__ADS_1
"Aku terlanjur janji dengan Om Alex untuk tidak melakukan kebodohan dua kali sebelum kita menikah" Reyna menggigit bibir bawahnya teringat pesan pria paruh baya itu tadi pagi
"ahhhh shittttt!! " Bimo memekik seketika