
Laju motornya tak secepat laju air matanya, kaca helmnya mengembun terkena hembusan napas menderu berusaha menahan tangisnya. Terlihat konyol saat pengendara lain melihatnya menangis sedu sedan saat terhenti di lampu merah.
Mengelap kasar mata dengan punggung tangannya, termangu saat motornya hendak mencapai persimpangan jalan
Kekanan pulang kerumah? Tidak, bisa jadi tangisnya akan menggemparkan seisi rumah
Kekiri ke apartment? Tidak, Bimo pasti akan pergi kesana menemuinya. Ah bodoh! Kenapa dia masih saja yakin jika pria itu akan menemuinya malam ini. Tetap saja dia tak ingin pergi ke apartement saat ini
Lurus, kemana?? ke ruko, Pras! Tiba-tiba saja sesosok pria misterius itu muncul dikepalanya
Memegang handle gas dengan yakin dan menariknya kasar, membelah persimpangan jalan yang ramai. Tak ia pedulikan klakson dan omelan pengendara lain saat ia menerobos keramaian.
Angin malam yang dingin menyergap tubuhnya yang hanya berkaos tipis, rintik hujan menerpa wajahnya yang tak lelah meneteskan air mata. Sebulan, ya sudah sebulan terakhir ia melihat perempuan ular itu di lift, tak bisa membayangkan apa saja yang terjadi selama sebulan. Apakah keduanya intens berhubungan dibelakangnya selama satu bulan ini?? Ribuan pertanyaan, praduga, bayangan romansa meracuni otaknya hingga mual ia rasakan karena jijik.
Berhasil memarkirkan motornya dibawah kanopi di sebelah ruko milik Alex tepat saat hujan mulai mengguyur, dari sini Reyna bisa melihat Pras yang tengah duduk di tempat favoritnya menghadap layar laptop. Ragu sesaat akan keputusannya mendatangi pria itu, tangisnya kembali pecah saat rasakan gelombang pilu dihatinya.
Angin bertiup kencang, giginya begemelutuk menahan dingin. Ia remas lengannya sendiri dengan kedua tangan mengusir beku, ujung jeans nya mulai basah diterpa tetesan air hujan. Ia rogoh kantong dan mengeluarkan kepingan hitam, berpuluh misscall dari nomor Bimo dan beberapa pesan menanyakan keberadaannya dan memintanya pulang.
"Halo"
"Aku didepan"
""Depan?" nampak Pras keluar menuju balkon dan melongokkan kepalanya ke bawah
"Tengok ke samping"
"Kau..ahhh"
Rolling door itu terbuka dan Pras melambai ke arahnya , Reyna berlari ditengah guyuran air hujan. Baju dan celananya basah karena tangannya tak cukup untuk menghalau air hujan.
"Masuk" Pras menarik tangan Reyna lalu menutup rolling door itu rapat-rapat
Sesaat menatap wanita didepannya keheranan, tubuhnya menggigil, beberapa bagian rambutnya basah,hidung dan mata memerah dengan sisa tangis yang tak bisa disembunyikan
"Naik" Pras menggenggam pergelangan tangan dan menyeret Reyna naik ke lantai tiga
Mendudukkan wanita itu di sofa lalu berjalan menuju kamar, mengambil selimut dan menebarkannya ke tubuh Reyna
"Mau minum?" tawarnya
Reyna hanya mengangguk, menaikkan kakinya lalu menata selimut hingga rapat menutup semua tubuhnya
"Susu jahe" sodor Pras
"Makasih" Reyna menyambut mug panas yang kontras dengan dingin telapak tangannya
Pras mengambil duduk diujung sofa terdiam memandang wanita yang memutar mutar mug ditangannya, sesekali menempelkan ke bibirnya, meniup dan menenggak pelan
Tik Tik Tik
Detak jam dinding menjadi saksi kebisuan dua insan itu, hingga getaran ponsel Reyna di meja memalingkan dua wajah itu bersamaan. Foto Bimo terpampang disana, Reyna melengos dan mendengus kesal membiarkan ponsel itu berhenti berkedip
"Kau kemari tidak untuk sekedar diam kan?" Pras membuka pembicaraan
__ADS_1
"Kalian ada masalah?" lanjutnya
Mengambil napas pelan dan menenangkan dirinya, melihat wanita yang dipujanya menangis karena lelaki lain membuat sumbu emosinya mulai tersulut
"Rey!" pekiknya gemas karena sang wanita tak kunjung membuka mulut
"Iya iya, aku ada masalah. Aku hanya sebentar disini, aku janji" meletakkan mug yang sudah separuh berkurang isinya
"Wanita itu?" Pras mencondongkan badannya
Reyna mengangguk, meletakkan sikunya di paha, menunduk dan menangkupkan wajahnya dalam dalam. Pras merengkuh wanita itu saat pundak wanita itu terguncang dan terdengar isak tangis kemudian
"Aku nggak mampu membayangkan Pras apa yang mereka lakukan dibelakangku" katanya terbata
Terdiam dan tak tahu apa yang harus ia perbuat, Pras hanya mengelus punggung wanita disebelahnya
"Katakan, jujur. Dia lebih cantik dari aku kan? Dia lebih tinggi, lebih sexy lebih segala-galanya. Iya kan Pras?!" Reyna mengangkat wajahnya dan menatap Pras
"Sssstttt..." Pras menepuk-nepuk punggungnya
"Jawab! Iya kan?" Reyna merapikan rambutnya yang jatuh terdepan, mengumpulkan menjadi satu memegangnya dengan satu tangan dan menggulungnya menyamping
"Iya" jawab Pras pelan
"huwaaaaaaa...." kembali tangis wanita itu pecah bahkan lebih histeris
"Kau pikir pria hanya memandang sebatas kecantikan dan bentuk tubuh?" tanyanya lembut
"Memang apa lagi! Pikiran pria hanya seputar itu!"
"Kenapa kau marah. Disini hanya aku yang boleh marah-marah" ah entah kekonyolan macam apa yang Reyna buat malam ini
"Lalu aku harus bagaimana" Pras membuka dua telapak tangannya dan mengedikkan bahu
"Dengarkan saja aku bicara. Itu sudah cukup"
"Ya okay" melipat dua tangannya dan merebahkan tubuh ke arm sofa
"Aku memergoki mereka bertemu" Reyna memulai cerita, mengambil kotak tissue dari meja dan memindahkannya ke pangkuannya. Sibuk mengelap ingus dan matanya dari sisa-sisa tangis
"Dia mabuk"
"Suamimu?"
"Perempuan ular itu"
"Lalu?"
"Entah, aku pergi karena suamiku lebih memilihnya yang sedang mabuk berat"
"Barangkali suamimu hanya mau menolong"
Sontak Reyna mengarahkan telunjuk ke wajah Pras "Hah! Kalian kaum adam memang selalu seperti itu. Alasan menolong, alasan kasihan. Cih apa kalian tak memikirkan perasaan wanita jika diberi hati" cecarnya
__ADS_1
Pras menggeleng, rasanya percuma saja bicara dengan Reyna saat ini. Pria itu berdiri dan memandang ke luar jendela, hujan masih saja turun dengan lebat diluar sana
"Tunggulah sampai hujan reda. Lalu pulanglah dan selesaikan, jangan memperburuk keadaan dengan menemuiku kemari"
Reyna meremas-remas tissue kotor itu dan berjalan membuang ke tong sampah di dekat jendela "Biar saja!"
"Biar apa?" menoleh dan memasukkan dua tangan ke saku menahan dinginnya angin yang berhembus melalui jendela
"Biar suamiku tahu rasanya jika istrinya bertemu pria lain" Reyna menendang tong sampah itu dengan kesal hingga terguling
"Apa kau bilang?!" Pras menoleh dan memandangnya tak suka
"Eh bukan, bukan apa-apa" wajah Reyna berubah pias saat tersadar telah salah bicara
"Kau manfaatkan aku untuk buat suamimu cemburu. Itu maksudmu?"
"Pras, maaf aku tak bermaksud begitu" Reyna buru-buru memegang lengan pria itu
"Kenapa tak kau hubungi suamimu untuk segera kemari jika itu maumu" emosi mulai tersulut
"Pras, dengar. Kamu salah paham"
Pria itu memegang lengan Reyna mendorongnya dan menguncinya ke tembok, memiringkan wajahnya mengikis jarak diantara mereka
"Kau mau apa. Lepas!" Reyna mencoba berontak
"Kenapa? Ini kan yang kau mau? Membalas suamimu?"
Sekejab bibir Pras sudah menempel, memaksanya membuka mulut untuk memainkan lidahnya lebih dalam
Reyna membelalak mendorong Pras sekuat tenaga "Gila kamu Pras" teriaknya. Memandang pria didepannya seakan tak percaya
"Kamu buat aku gila Rey!" Pras mengacak rambutnya "Kau tahu persis perasaanku padamu, kenapa kau masih juga kemari, menyiksaku"
"Kita sudah bicarakan ini Pras, itu semua hanya masa lalu. Baik aku dan kau sudah memilih jalan masing-masing. Pikirkan perasaan kekasihmu jika tahu semua ini!"
"Bullshits! " gertak Pras "Semua itu omong kosong, kekasih? calon istri? Aku bohong agar kau nyaman bertemu denganku"
Terpaku dibuat pengkuan Pras, kakinya enggan beranjak saat pria itu menoleh dan melanjutkan ucapannya
"Perasaanku masih sama belum berubah, bodoh memang karena aku terjebak perasaan dengan istri orang" Pras tertawa mengejek dirinya sendiri
Kembali melangkah mendekat "Aku bisa lakukan ini tanpa kau minta"
Memegang tangan Reyna paksa "Memegangmu"
Meraih sejumput rambutnya "Membelaimu"
Menempelkan telunjuk dibibir perempuan itu "Menciummu"
"Bahkan lebih dari itu!"
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!