Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
92. Tersedak


__ADS_3

Mobil Bimo memasuki halaman depan setelah satu jam lamanya Reyna dan Om Alex berbincang.


Dewa berteriak histeris dan menghambur memeluk pria yang nampak letih itu, dengan sisa-sisa tenaga ia gendong Dewa masuk kedalam rumah.


"Ewa tangennn yayah Imo, ayuk ain" tangan kecil itu menepuk-nepuk wajah yang nampak memaksa diri menahan kantuk.


"Dewa, biar ayah mandi dulu ya" bujuk Reyna agar Dewa turun dari gendongan Bimo


"Nggak apa-apa Rey.. biar aku main dulu sebentar"


"Om sudah ajak makan?" tanyanya


"Belum.. nunggu kamulah.. " jawab Om Alex "Mbok Nah juga belum selesai masak"


"Oh kalau gitu Reyna bantu simbok aja ya.. dapurnya mana Kak?"


"Yuk kuantar sekalian aku mau minum, Dewa mau minum? Ayah punya susu coklat dinginnn" candanya sambil menggelitik perut anak kecil digendongannya


"Mbok Nah... sudah kenalan belum sama Mbak Reyna" Bimo mencolek lengan perempuan yang memakai daster rumahan ala ibu-ibu


"Eh Mas Bimo sudah pulang.. Ohh namanya Mbak Reyna, saya Parinah Mbak.. mbok Nah"


Reyna mengangguk ramah


"Ya awoh Mas Bimo... nggak sia-sia membujang lama-lama kalau calonnya manisss kaya gini" celoteh mbok Nah


Bimo melotot gemas ke arah mbok Nah, sementara Reyna malah terkikik geli sambil menutup mulutnya.


.

__ADS_1


.


.


Reyna sesekali menyuapkan makanan ke mulut Dewa yang sibuk mengotak atik rubik warna sambil memakan isi piringnya sendiri.


"Besok kalian menginap dimana?" pertanyaan Alex membuyarkan keheningan


Reyna melirik ke arah Bimo karena dia sendiri belum tahu hendak diajak kemana, Bimo hanya berpesan agar keduanya membawa baju hangat.


"Ke pondok di bukit Om, biar Dewa merasakan suasana bermalam di hutan"


"Satu malam saja kan?"


"Dua malam Om"


"Tidak boleh!" Alex menghentikan makan dan meletakkan sendoknya "Bawa Dewa pulang secepatnya, aku mau tidur dengan cucuku sebelum Reyna pulang"


"Lagian Om tidak percaya sama kamu! Nanti kamu macam-macam lagi sama Reyna"


uhukkkkk


Bimo tiba-tiba saja tersedak, Reyna yang sama terkejutnya masih bisa menguasai dirinya, segera beranjak menuang air dan disodorkan ke arah Bimo, lalu menunduk melanjutkan makan.


"Om bikin Reyna malu ah! Lagian kan waktu itu kami..."


"Alasan kamu Bimo.. kaya Om nggak pernah muda saja, mabuk atau tidak Om yakin isi kepalamu itu... "


"Iyaa iyaaa Om, Bimo paham... "

__ADS_1


"Ingat Bimo, posisimu sekarang. Om menaruh harapan besar, jangan buat Om malu karena telah merekomendasikanmu ke jajaran direksi. Reyna butuh waktu, kamu harus bersabar" Om Alex bicara panjang lebar dengan nada serius


"Iya Om, iyaaa.... " bibir Bimo masih mengerucut kedepan "Kecuali Reyna sendiri minta beda kasus ya Om" lanjut Bimo santai tanpa beban


"Adoooowww" seperlima detik kemudian Bimo memekik kesakitan


"Ampun Rey, kakimu dari besi apa ya"


"Kak Bimo diem aja deh!" Reyna mencelos sengit


Alex menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka


"Oh ya Rey, jangan lupa kunjungi kakakmu juga. Kemarin Dewa sepertinya senang main dengan anaknya"


"Kakak?? " dahi Reyna melipat, tenggorokannya terasa kering, ia meraih minuman di depannya


"Iya.. kakak sepupumu ,teman kuliah Bimo...ehmm siapa namanya..oh yaaa...Satria"


uhuuukk


Giliran Reyna tersedak hingga terbatuk-batuk, ia memukul-mukul dadanya pelan, berusaha meraup udara serakus mungkin


Ahhh yaa, dia baru tersadar. Om Alex hanya tahu dia adalah wanita lajang sewaktu bekerja menjadi bawahannya, data dirinya masih berstatus single waktu itu karena dia dan Satria tidak berniat untuk mengurus data kependudukan.


Reyna menatap Bimo dengan bingung, Bimo menatapnya tajam dan menjawab sekenanya


"Iya Om, besok aku ajak Reyna kerumah Satria, biar Dewa main sama Rara cantik, ya nak ya? "


"Lala???? ya iya mauuuu.... " Dewa bersorak riang membayangkan gadis cilik cantik yang ia temui waktu itu

__ADS_1


Perasaan Reyna campur aduk, yang ia ingin lakukan sekarang adalah cepat-cepat menghabiskan isi piringnya dan segera berlalu pergi.


__ADS_2