
Hari ini hari kepulanganku ke tanah air, bingkai foto itu kukembalikan ke nakas, fotoku bersama mantan istri dan anakku yang sudah disurga.
Permintaan Bianca tak mampu kutolak, sebenarnya bisa saja Linda merekrut orang lain menggantikannya, tapi ya sudahlah aku bisa mencium hawa kekhawatiran dari mereka. Tiga tahun sudah aku menduda sejak perceraianku dengan Chintya, masih terbayang hingga kini peristiwa yang melatar belakangi perceraian kami.
Andai malam itu aku tak nekat menjemput istri dan anakku dari rumah sahabatnya mungkin anakku masih hidup dan keluargaku masih utuh. Hingga kini aku masih saja mengutuk malam itu tapi entah kenapa penyebab utama peristiwa itu tak jua lepas dari hidupku. Alkohol, benda sialan yang kupuja tiap akal sehatku sedang hilang mengembara. Masih kupuja hingga kini, detik ini...
Kulirik wanita yang membuka pintu kediaman Linda untukku, muka kusut dan rambut acak-acakan. Ahh.. ini pasti teman dari Bianca yang dibicarakan tempo hari. Penampilannya sama dengan Chintya saat anakku berumur 3 bulan dan mengharuskan dia begadang setiap malam...
Reyna.. nama itu kian lekat dibenakku. Wanita yang makin hari memikatku karena pribadinya, dia cukup cantik untuk bisa memikat pria diluar sana meskipun saat ini ia adalah ibu dari satu anak. Tak banyak bicara dan tak suka basa basi, sisi humorisnya keluar jika dengan orang yang ia rasa nyaman.
Meskipun secara fisik dia bukan tipeku tapi entah aku tak bisa sedetikpun lepas dari sisinya. Terlebih hatiku telah terpikat dengan balita yang makin hari kian menggemaskan, Dewangga. Bayi lucu yang dilahirkan seakan menggantikan kekosongan hatiku sepeninggal anakku.
Reyna masih saja bungkam dan memilih berpura-pura bodoh seakan tak mengerti semua perhatian yang kutawarkan. Semakin aku mendekat justru dia semakin menjauh, tak banyak informasi yang kudapat dari Bianca selain latar belakang kegagalan pernikahannya. Tebakan dari Bianca adalah Reyna masih mengharapkan bertemu dengan mantan suaminya alih alih soal Dewangga.
Jangan sebut aku Bramantyo jika tak bisa meluluhkan hati Reyna, aku yakin dari tatap matanya dia juga menginginkan ini semua. Tarikan disudut bibirnya melebar tiap kali melihat kedekatanku dengan Dewa, mata sayunya bahkan berbinar ketika Dewa menyebutku papa iyo...
Tapi entah... hingga kini dia masih saja menjaga jarak. Berbagai macam cara aku pikirkan untuk melunakkan hati keras wanita ini. Sungguh dia wanita bermental baja dan pekerja keras, bukankah tak perlu ia susah-susah hanya perlu menerima pinanganku dan menjadi istriku.
Hatiku bersorak saat sisi romansa sunset sore hasil akal-akalan Bianca berhasil mengoyahkan benteng pertahanan, kini ia menjadi wanitaku seutuhnya. Rasanya tak ada lagi yang perlu kutunggu untuk segera saja menikahinya tapi nampaknya aku juga masih harus bersabar melihat belum adanya gayung bersambut dari Reyna. Awalnya aku berpikir mungkin karena kegagalan pernikahannya yang membuatnya harus berpikir panjang.
__ADS_1
Hingga hari itu datang, ayah kandung Dewa. Lelaki yang bukan suaminya tapi telah menidurinya. Sungguh aku tak mengerti apa yang telah terjadi diantara mereka mengingat Reyna adalah wanita berotak cerdas dan berhati-hati dalam bersikap. Nyaliku sempat ciut dengan kehadiran Bimo, akal sehatku tak berfungsi dibakar api cemburu.
Reyna adalah Reyna, dia makin memantabkan perasaannya ketika tersadar bahwa Bimo hanyalah secuil masa lalunya. Posisiku tetap sebagai pemenang setidaknya dihati Dewa meskipun aku sadar cinta Reyna hanyalah untuk lelaki itu.
Tak pernah aku melihat kerjapan mata yang bergairah dari Reyna, dan itu selalu bisa kutangkap ketika dia sedang membicarakan Bimo.
Pelan tapi pasti aku merasakan ada yang salah dengan tubuhku, secara umur aku masih terbilang produktif. Badanku remuk tiap kali beraktifitas berat, ulu hatiku terasa nyeri dan kaku. Terlebih disaat aku mulai menenggak lagi minuman maksiat itu. Tuntutan perkerjaan memaksaku untuk kembali berkecimpung dengan alkohol, setenggak dua tenggak terkadang tak dirasa cukup untuk menghabiskan waktu dengan para klien.
Hingga kedatanganku kembali ke Singapura, bukan semata menarik semua aset karena aku telah memilih menetap ditanah air. Jadwal general check up tahunan yang aku lalaikan tiga tahun terakhir. Kawanku karibku yang seorang dokter menyarankan untuk tes lanjutan, dia belum mau mengungkapkan hal yang pasti.
Tubuhku seakan melayang saat hasil dari tes itu ia sampaikan via telepon. Aku pandangi wajah Reyna lekat-lekat sebelum berpisah dimalam itu, inikah awal aku harus merelakannya dengan memintanya berbaikan dengan Bimo.
Ragaku semakin lemah, hanya selang beberapa hari sejak hasil tes itu keluar, aku limbung dan terpaksa dirawat di rumah sakit di tanah air. Tepat sehari sebelum niatku terbang ke Singapura untuk membatalkan semua penjualan aset dan melakukan pengobatan disana terlaksana.
Aku butuh kehadiran Reyna disisiku saat ini tapi aku tak akan tahan melihat air mata berharga wanita itu akan jatuh nantinya
Sungguh Reyna adalah pejuang handal, senyum manisnya masih bisa tertarik disudut bibirnya untuk menghiburku. Aku tak bisa bayangkan betapa remuk hatinya saat itu. Lelah raga ia paksakan untuk menemaniku disaat saat terakhir.
Kau tahu Reyna,, ketika kata pertama kau ucap saat kita bertemu di ruang putih itu
__ADS_1
"Mas Bram jahat!"
Sungguh aku ingin menjawab
"Kejahatanku didunia ini adalah mencintaimu!"
Karena aku kau menderita seperti ini, menyesap cinta yang hanya sesaat yang bahkan layu sebelum sempat mengembang.
Karena aku kau tersiksa menahan deru tangis didadamu yang bisa saja kau tumpahkan begitu saja.
Karena aku entah sampai kapan kau akan bisa membuka hatimu kembali untuk Bimo.
Aku lelah Reyna, ragaku tak sanggup lagi bersinergi dengan semangat hidupku. Hatiku teriris saat kau menitikkan air mata yang tertahan. Kubelai rambut saat kau tertidur di samping tubuhku yang terbujur kaku. Kucium pelan pucuk rambutmu. Sungguh aku lelah, aku ingin segera pergi... kumohon ikhlaskan saja aku dan mulailah hidupmu dengan lembaran baru.
Ruh.ku kembali bersarang di raga saat kata ikhlas terucap dari bibirmu, sungguh bahagia aku bisa melihat wajah cantikmu yang pucat pasi menatapku. Bibirku hanya bergerak gerak tanpa suara yang keluar, aku hanya ingin berpamit..
Andai ragaku mampu, aku ingin merengkuhmu saat melihatmu jatuh tersungkur dilantai dingin itu, mengejarku...
Aku mencarimu yang tak nampak di tengah para pelayat. Apakah kau tak ingin mengantarku di tempat terakhir?? Ruh.ku bersorak meski melihatmu datang berlari terhuyung dengan derai air mata, sungguh itu air mata pertama yang kulihat keluar tanpa beban dari dirimu. Sebesar itukah rasa kehilanganmu padaku..
__ADS_1
Terimakasih Reyna telah menjadi bidadari dihatiku meskipun cerita kita teramat singkat, terimakasih untuk tidak membasahi jenazahku dengan tetes air matamu. Selamat tinggal.....