
"Surpriseeee..... " teriakan berasal dari sesosok wanita berambut pirang yang muncul didepan
"Biancaa.... " pekik Reyna tak kalah keras "Kok kesini nggak bilang-bilang"
Dua wanita itu berpelukan erat
"Habis meeting sama buyer baru yang lokasinya deket sini. Sekalian mampir, dah gede perut kamu Rey" Bianca mengusap perut bundar itu "Hi, baby boy or baby girl? "
"Belum ketauan, bulan depan mungkin. Masuk" Reyna menggandeng tangan Bianca
"Mau minum apa?" tawarnya
"Es teler"
"Sana ah ke kelab, aku tinggal bawain es batu" Reyna berjalan ke dapur
"Hahahaha, bisa aja kamu Rey"
"Nih" Reyna menyodorkan es sirup ke tangan Bianca "Tante apa kabar? Anak suami sehat semua kan"
"Heem" Bianca menegak minumnya "Lama ya kita nggak ketemu, telepon juga jarang. Sudah mesra lagi kan sama Kak Bimo?"
"Huum" Reyna menggangguk "Kak Bimo kasih alamat ini" tanyanya heran, suaminya tidak mengabarkan kalau Bianca hendak kerumah
"Aku nanya Pras. Bisa bungkam juga tuh anak, nggak bocor"
"Eh.. Pras" wajah Reyna memucat
"Hei" Bianca menjentikkan jari didepan muka karibnya "Kenapa?"
"Nggak, nggak apa apa"
"Nggak mau bilang, aku pergi nih!" ancamnya
Reyna menengok kekanan dan kekiri "Ngomong di belakang aja yuk" tangannya menarik Bianca pindah ke gazebo di belakang rumah
"Aku sudah lama nggak ketemu Pras" eh bohong maksudnya aku menghindar
"Alasannya? Kak Bimo marah kamu ketemu dia?"
Reyna menggeleng "Aku bikin salah Bi"
"Salah apa?" Bianca mendekat
"Salah sama suami aku" bisiknya lirih
__ADS_1
"Kamu... " Bianca menggeleng "Jangan bilang kamu sama Pras"
"Kamu mikir apa?" Reyna melipat dahi
"Ini anak Bimo kan?" Bianca menunjuk kearah perut Reyna
"Whoiiiiii.. " Reyna sontak mendorong kening Bianca keras-keras "Gila kamu Bi!"
"Eh sorry, habis apaan?"
Reyna memulai bercerita dari dia memergoki Bimo dan Lidya lalu pergi keruko malam itu, hingga Pras memintanya pulang baik-baik ke suaminya
"Trus?" Bianca makin penasaran
"Waktu itu aku ada salah bicara gara-gara aku sedang emosi"
"Bicara apa?"
"Kalau aku ingin balas Kak Bimo, biar tahu rasanya kalau .. " ucapan Reyna menggantung di udara
"Kalau apa?" Bianca menggoyang lengannya
"Kalau aku bersama pria lain"
"Bodoh!" Bianca memekik
"Hah? Jadi benar dia.. "
Mengangguk cepat
"Dan nggak cuma itu" Reyna menggigit bibir bawahnya
"Jangan bilang kamu sama Pras.. "
"Dia cium aku paksa"
"*****!" teriak Bianca
"Ya ampun Bi... jaga bicaramu. Anak aku dengar!" Reyna mengelus elus perutnya
"Eh aduh, maaf aunty nggak sengaja sayang" Bianca menutup bibirnya "Terus?" tanyanya lirih
"Ya terus aku pergi. Masa iya aku telentang" Reyna mengerucutkan mulutnya
---
__ADS_1
"Aku takut mau bilang Kak Bimo Bi" Reyna melanjutkan setelah beberapa saat keduanya terdiam
"Aku nggak sangka Pras bisa seperti itu. Dia itu bagaikan air tenang...bener kata peribahasa. Air tenang menenggelamkan"
Reyna menghela napas pelan
"Aku harus gimana coba"
"Pras nggak coba hubungi kamu?"
Menggeleng
"Menemuimu?"
Mengedikkan bahu "Entah, dua kali dia ke rumah ini urusan kerja dengan Om Alex. Tapi aku menghindar"
"Kenapa?"
"Ya aku bingung harus apa" Reyna meraup wajahnya
"Pura-pura sajalah nggak ada apa-apa. Mending kamu nggak usah bilang sama Kak Bimo"
"Sudah, tapi aku nggak bisa. Beban, aku merasa jadi pengkhianat"
"Sok polos kamu ah. Dulunya suami kamu lebih parah malah"
"Bi... aku nggak berhak nge-judge seseorang karena masa lalunya, aku belum ada dihidupnya waktu itu. Sedangkan kejadian ini aku yang salah, sudah jadi istri orang tapi malah menemui orang yang jelas-jelas menyimpan rasa denganku"
"Ehm... Lalu cerita Kak Bimo sama perempuan itu?"
"Kan sudah aku jelasin itu cuma salah paham"
"Kamu percaya nggak terjadi apa-apa?"
"Percaya!"
"Semudah itu?"
Reyna mengangguk angguk "Pernikahan itu pilihan tapi komitmen adalah keharusan. Benar kalau aku baru menjalaninya seumur jagung tapi jika menengok ke belakang banyak sekali rintangan yang aku lalui dengan Kak Bimo. Dan itu yang membuat aku yakin menghabiskan sisa hidupku dengannya"
Bianca memeluk pundak Reyna "Aihh.. so sweet kamu Rey, kebanyakan ngemut gula jawa ya?"
"Kepercayaan itu dasar dari suatu hubungan. Kejujuran, kecemburuan dan kesetiaan itu bumbunya" lanjutnya
"Well. Up to you. Aku angkat tangan, aku bingung. Ikuti saja kata hatimu" Bianca mengangkat dua telapak tangan keatas
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!