Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
49. Terbuka


__ADS_3

Reyna tidak ikut mengantar Bianca ke bandara karena Dewangga sudah tertidur lelap. Ia habiskan waktu melihat televisi di ruang tengah, terdengar deru mobil memasuki pelataran rumah tak lama masuk Bram seorang diri.


"Tante mana?"


"Ketemu temannya di bandara,mereka ke kafe dulu"


Bram permisi masuk ke kamarnya, Reyna memutuskan mematikan televisi dan masuk menyusul Dewa ke kamar. Baru saja ia mau memejamkan matanya Bram mengetuk pintu kamarnya pelan. Mata sayu dan rambut acak-acakan menandakan pria ini sedang tidak kondisi baik-baik.


"Bisa bantu kerikin nggak Rey?" tanyanya parau


"Masuk angin?"


Bram mengangguk pelan, dia melepas kaosnya melangkah gontai ke kamarnya dan duduk bersila di tengah ranjang.


Reyna tertahan didepan pintu kamar Bram, kakinya enggan melangkah masuk.


"Mas, jangan disini.." katanya lirih


Bram mendongak menatap Reyna yang nampak malu-malu.


Keduanya berjalan ke ruang tengah


"Nggak ngira lama di luar negeri Mas masih kerikan juga" canda Reyna


"Makanya aku pulang Rey, sedih kalau lagi sakit disana nggak ada yang ngurusin"


"Ehmm.." Reyna terdiam, dia sudah hapal arah pembicaraan Bram jika mereka hanya berduaan seperti ini


"Dewangga sudah setahun ya Rey, sebentar lagi dia pintar omong Rey, trus lari-lari Rey main bola" Bram kembali memancing pembicaraan


Reyna masih diam, dia meletakkan koin untuk kerikan dan memijat perlahan bahu pria itu


"Enak ya Rey kalau punya istri, lapar ada yang masakin, masuk angin ada yang kerikin, capek ada yang mijitin"


diam..sunyi..

__ADS_1


Bram membalikkan badannya saat tangan Reyna tak lagi memijat bahunya. Menarik kedua tangan Reyna dan menatap kedua mata sendu itu


"Bianca pasti bicara banyak ke kamu Rey.."


"Soal?" tanya Rey pura-pura bodoh


"Sungguh kamu buat aku frustasi" Bram mulai gusar "Kamu masih berharap mantan suamimu tahu soal Dewa?"


Reyna mengangkat bahunya


bukan dia Bram pekiknya dalam hati


"Lantas apa yang membuatmu menutup diri?" kejar Bram


"Aku hanya ingin menikmati waktuku dengan Dewa, memberinya kasih sayang utuh" elak Reyna


"Sampai kapan? Sampai anakmu tanya siapa ayahnya?"


Reyna menatap Bram dengan tajam


"Mas...stop! Jangan jadikan Dewa sebagai alasanmu" Reyna mulai marah


Bram terduduk menopang dagunya dan menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


"Aku pikir Tuhan sudah menghukumku Rey,hampir 5 tahun aku hidup dengan kehampaan dan dihantui rasa bersalah. Tapi semua berubah sejak bertemu denganmu aku sadar bahwa bukan hanya aku yang menjalani hidup dengan beban. Terlebih saat aku bersama Dewa, anakku seusianya saat dia meninggal"


Bram berdiri dan tiba-tiba menarik Reyna kedalam pelukannya


"Maaf jangan salah paham, Dewa bukan alat untuk mendapatkanmu. Aku hanya berharap kau mau membuka dirimu membuka hatimu"


Reyna mendorong dada polos Bram menjauh lalu berjalan menjauh, Bram mengambil langkah lebar menjajari Reyna. Menggenggam lembut tangan itu dan berbisik pelan "Kamu juga berhak bahagia Rey.."


.


.

__ADS_1


.


Pagi harinya mereka berdua terdiam saat bertemu dimeja makan, Linda yang sekiranya paham menyuruh Reyna ke butik lebih dulu dan mengutus Bram untuk meninjau konveksi.


Reyna mengiyakan saja tapi dia menolak untuk satu mobil dengan Linda, dia hanya ingin menghindar sebisa mungkin.


"Mbak Rey, di panggil Bu Linda"


Reyna berhenti memeriksa berkas pengajuan order dan memasuki ruangan wanita cantik itu


"Kamu ada masalah sama Bram?" tanya Linda tanpa basa basi


"Enggak tante.."


Linda mendengus


"Lama-lama aku jadi ikut frustasi melihat kalian berdua"


Linda duduk di ujung meja melipat kedua tangan dan menunduk menatap Reyna


"Akhir-akhir aku lihat Bram sering melamun,, Rey jawab jujur apa yang tidak kau suka dari Bram?"


"Reyna hanya belum siap tante, Reyna masih ingin sendiri. Reyna takut salah langkah" Reyna menggigit bibir bawahnya


"Atau kau mempermasalahkan masa lalu Bram?"


"Maksud tante status Mas Bram?? Apa bedanya dengan status saya sekarang?"


Linda menggeleng


"Setelah dia bercerai dia seperti kehilangan semangat hidup. Bram mulai keluar masuk kelab malam, ehm Bram bukan pemain wanita, hanya minum-minum saja. 3 tahun lalu dia putuskan ke luar negeri, karirnya yang meroket naik menjadikan semangat hidupnya pulih. Tante hanya tak mau melihat dia terpuruk lagi. Tante bisa minta tolong kan Rey?. Kalian berdua cocok satu sama lain"Linda memegang lengan Reyna


"Tante, Reyna tak bisa janjikan apapun. Tidak ada orang yang bisa memaksakan perasaan kita bukan? Mas Bram bisa berubah karena keyakinannya sendiri. Jika dia memilih untuk terpuruk kembali itu bukan karena Reyna tapi karena diri sendiri"


Linda menatap Reyna berlalu dari ruangannya dengan pasrah, ucapan Reyna ada benarnya. Bukankah dirinya juga memutuskan melajang setelah perceraiannya.

__ADS_1


__ADS_2