
Reyna berlari sekencang mungkin, menoleh sesekali memastikan Bimo tak bisa lagi mengejar langkahnya. Melesat menuju area parkir, membuka pintu dan menghempaskan kasar paper bag berisi kemeja yang ia beli untuk kado suaminya.
Memukul setir dengan segenap kekesalan, Lidya! sejak kapan wanita itu muncul kembali di kehidupan suaminya??. Dadanya tersengal bukan karena lelah berlari melainkan sakit membayangkan rivalnya yang jelas-jelas "lebih" dalam hal apapun. Wajah, jelas dia kalah cantik. Body, jelas kalah tinggi. Rambut, wanita itu memiliki rambut hitam panjang idaman tiap wanita.
Damn! Cincin apa yang mereka bahas barusan, hah hatinya sakit seakan ada yang meremasnya. Membayangkan wanita itu berjalan ke arahnya dengan kepercayaan diri yang tinggi sungguh membuatnya ciut.
drttt drttt
Ponselnya bergetar menampakkan nama Bimo disana, hanya ia lirik saja sampai ponsel itu tak lagi berkedip. Panas terik mulai ia rasakan menyengat didalam mobil, terpaksa ia lajukan mobil keluar dari area basement. Menepikan mobilnya di kedai es krim, tempat kenangan ia bersama Bimo.
Menatap tumpukan es krim jumbo didepannya lalu melahabnya tanpa ampun hingga matanya terpejam menahan hawa dingin yang serasa menjalar ke otaknya. Otaknya yang panas butuh didinginkan, ia lelah dengan segala perdebatan, pertengkaran dan perselisihan akhir-akhir ini.
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja di sudut kafe ini, matanya menatap nanar keramaian jalan. Shit! merutuki dirinya yang harus lari bagai pecundang beberapa jam lalu, kenapa tak ia tahan saja air mata dan menghadapi wanita itu dengan elegan. Melirik arloji dipergelangan tangannya, ia harus pulang! Menghadapi Bimo dengan apapun rasa yang ia sendiri susah untuk mengungkapkan.
.
.
.
✉ Don't be late
Pesan itu ia kirimkan kepada suaminya tepat disaat jam kerja berakhir kemudian melenggang turun menuju lantai bawah meninggalkan ponselnya yang berdering dikamar.
Bimo berjalan masuk tergopoh, meletakkan tas kerja di ruang kerja lebih dahulu sebelum menyusul istrinya yang nampak sibuk di dapur. Mata mereka bertumbuk, Mbok Nah yang lalu lalang di area dapur membuat Bimo mengurungkan niatnya untuk membuka mulut.
"Mandi, sudah kusiapkan baju gantinya" perintah Reyna mendorong punggung suaminya keluar dari dapur
Tubuh Bimo meremang, dinginnya ucapan Reyna menembus hingga ke jantungnya
"Ehmm ya, ini ..." ditaruhnya bungkusan plastik yang tak asing untuk Reyna ''Masih bisa dimakan" lanjutnya takut-takut
Tanpa jawaban hanya tatapan istrinya yang tajam menikam melihatnya
---
''Selamat ulang tahun ayah" Dewa melesak kepelukan pria yang baru saja menuruni tangga memberikan paper bag berisi kemeja yang sudah terbungkus rapi
Nampak Alex tersenyum dibawah sana merentangkan tangan
''Selamat ulang tahun, maaf Om lupa. Maklum sudah tua" ucapnya sambil menepuk bahu Bimo
"Tak apa Om" ia melirik blackforest yang hancur tak berbentuk lalu tersenyum kecut
Reyna memeluknya dengan satu lengan "Selamat ulang tahun suamiku, maaf kuenya berantakan!" sindirnya dingin
__ADS_1
"Aughhh..." Bimo sontak melihat perutnya yang ditusuk pisau plastik oleh istrinya, meraih pisau itu dan memotong satu slice, menaruhnya di piring kecil menyodorkan pada Reyna
Tubuhnya oleng saat Reyna mengelak ciuman yang ia arahkan ke pipi istrinya
"Kuenya buat Dewa saja ya" Reyna mendengus sebal
.
.
.
Bimo berjalan mondar mandir gelisah dikamar saat Reyna melangkah masuk setelah berhasil menidurkan Dewa. Wanita itu duduk ditepi ranjang menatapnya tak berkedip
"Sejak kapan?" jelas singkat padat
"Apanya?"
"Jawab saja Kak"
"Lid..." Bimo mengunci mulutnya saat melihat Reyna melotot, mengambil duduk disebelah istrinya "Kamu salah paham"
"Bisa kau berpikir dahulu sebelum berbuat yang membuat istrimu salah paham?" Reyna menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak
"Kamu juga! Berbohong padahal pergi berdua dengan laki-laki lain" nada suara Bimo meninggi
"Harusnya aku tak menemuinya Rey"
"Sejak kapan kalian kembali berhubungan?"
"Baru hari ini dia menghubungiku"
"Bohong!"
"Terserah kalau kau tak percaya" Bimo mengasak rambutnya kasar dan merebahkan badannya keranjang
"Entah, jikapun itu benar semudah itu kau menemuinya"
"Rey.. dia menemuiku hanya untuk minta maaf"
"Minta maaf?" Reyna memutar kepalanya melihat Bimo yang berbaring dengan tangan terlipat dibelakang kepalanya "Untuk?"
"Masa lalu"
"Masih penting masa lalumu dengannya?"
__ADS_1
"Reyna..Sudahlah aku minta maaf. Harusnya aku tak menemuinya"
"Soal cincin itu?"
"Ahhh... " Bimo kembali duduk mengambil sesuatu di laci nakas "Ini" menyodorkan cincin ke arah Reyna "Terserah mau kau apakan, aku tak peduli"
Reyna memandangi cincin itu lekat "Ia masih menyimpannya, artinya Kak Bimo masih berarti untuknya"
"Come On Rey, kau mau bahas ini sampai pagi?? Lihat.. lihat dirimu sendiri. Kau masih memakai cincin pemberian Bram sampai sekarang"
"Eh... " reflek Reyna melihat jari manis tangan kirinya "Aku berjanji tak akan melepaskannya, kecuali aku nanti jadi gendut dan tak muat lagi" ia memutar cincin itu
Bimo memeluk perutnya, merebahkannya ke ranjang
"Ayo.. aku buat kamu hamil, nanti kamu jadi gemuk" rayunya saat sudah mengunci istrinya dibawah
Reyna tertawa kecil lalu memandangi wajah suaminya, menangkup pipinya "Kak, kamu cemburu melihatku bersama Pras?"
Bimo mendengus "Iya!"
"Aku dan Pras kan cuma berteman, beda denganmu dan.. ahh" Reyna mencubit perut suaminya
"Omong kosong! Mana ada pertemanan antara pria wanita, bisa aku lihat jelas dia menyukaimu"
"Tidak... " tidak salah mungkin, entah, aku sendiri tak yakin karena Pras tak pernah mengungkapkan hanya bisa merasakan
"Rasanya aku ingin pukul dia waktu ikut-ikut mengejarmu tadi. Kenapa dia kejar-kejar istri orang, sudah jelas ada suaminya disitu" Bimo merengut marah
Mata Reyna berbinar, ahhh bahagia sekali dia. Sifat pecemburu Bimo yang dulu sempat ia benci sekarang menjadi hal yang ia rindukan.
"Aku rindu kamu cemburui Kak" Reyna menyelipkan tangannya dibalik kaos Bimo, mengelus punggungnya lembut
"Aku juga melihatmu cem... " Bimo memilih tak melanjutkan
"Kenapa??? Mau bilang aku juga cemburu" muka Reyna berubah masam "Aku marah bukan cemburu!"
"What ever, aku mau buka kado sekarang!"
"Kan sudah dibuka tadi dibawah" Reyna menjawab bodoh dan polos
Ranjang itu bergoncang tak lama kemudian. Ciuman yang memanaskan tubuh hingga membuat melepas tiap helaian kain, keduanya bergulat untuk saling memuaskan. S-E-X selalu terasa menyenangkan setiap pasangan berdamai setelah pertengkaran.
"Kakk...... " Reyna memekik sebal setelah satu jam kemudian "Bukannya tadi Kak Bimo mau bikin aku gendut" tangannya meraih kotak tissue dan menariknya lembar demi lembar membersihkan pusar yang tergenang cairan lengket
Bimo hanya melenggang pergi "Aku tak dengar kamu bilang setuju" jawabnya santai
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!