
Guyuran air hujan tak membuat Reyna memacu motornya lebih cepat, seperti enggan membelokkan arah menuju kediaman Alex. Mau tak mau, suka tidak suka ia harus pulang, meskipun kondisinya tak jauh lebih baik pada saat ia memergoki suaminya bersama perempuan ular itu. Bahkan bisa dibilang jauh lebih rumit setelah 20menit lalu meninggalkan ruko berlantai tiga, saksi bisu pengakuan perasaan Pras yang ia pendam selama ini.
Reyna meninggalkan Pras sendiri setelah berhasil melepaskan dari kukungan pria misterius itu, merutuk kebodohannya telah menemuinya malam ini. Bodoh karena masih saja memancing sinyal yang selama ini sudah ia baca jelas dari tatapan senyuman pria itu.
Harusnya Reyna berhenti untuk tak mengusiknya lagi, bagaikan makan buah simalakama. Rasa penasarannya terbayar sudah tapi harus menghadapi masalah lain yang jauh lebih pelik
Tubuhnya menggigil hebat, lantai itu basah saat kakinya melangkah masuk. Ruang tengah itu masih terang benderang, Alex terduduk melipat tangan di sofa, sedangkan Bimo berlari menyambut kedatangannnya.
"Dari mana saja?" tanya suaminya cemas, meraup dua pipinya dan menggosok-gosokkan membuat hawa dingin itu sedikit terkikis
Reyna menatap darah kering di sudut bibir suaminya yang ia yakini hasil karya dari Om Alex
"Maaf" hanya kata itu yang keluar dari mulut Reyna, seakan melupakan kesalahan suaminya dan menyesali kesalahannya sendiri
"Rey, jangan menjadi bodoh!" suara Alex terdengar lantang "Jelas-jelas suamimu yang salah"
"Om" Bimo menoleh kearah Alex "Bimo minta jangan memperkeruh keadaan"
"Jangan sembah aku jika suatu hari kau menangis darah karena kehilangan istrimu!" Alex berdiri dan berjalan menuju anak tangga
"Istirahatlah Rey, kau tak boleh sakit. Harus sehat menghadapi suamimu yang sedang tak waras ini" teriaknya lagi saat berada di di anak tangga terakhir dan berlalu memasuki kamarnya
Setengah berlari Reyna menaiki satu persatu anak tangga, memasuki kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat, terisak disela-sela guyuran air. Entah siapa yang harus ia salahkan dan harus ia maafkan lebih dulu. Suaminya ataukah dirinya sendiri?
"Kamu dari mana saja" tanya Bimo yang nampak lelah menunggunya didepan kamar mandi
"Aku cuma ingin sendiri" mengambil gaun malam dan meloloskan ke tubuhnya tanpa melepas handuk
"Iya, tapi kemana?" Bimo merengkuh tangannya, mengelus pelan punggung tangannya
Diam, ya diam saja Rey. Kamu hanya akan menyulut pertengkaran lebih hebat jika kau bilang pergi ke ruko
"Sayang...." Bimo membelai rambut basahnya
"Mandilah" Reyna mendorong pelan, membuka tautan kancing kemeja suaminya. Banyak kancing hilang dan akan terlepas dari tempatnya. Lagi lagi, ini pasti ulah Om Alex
"Dipukul?" tanya Reyna pelan
"Hu um" Bimo membuang napasnya kasar "Tak apa asal kau tak mempermasalahkan lagi"
""Siapa bilang?!" ketus Reyna sambil mencibir
"Aku tadi..."
__ADS_1
"Mandi!" dorongnya ke punggung suaminya
---
Istrinya nampak bergelung dibawah selimut, menenggelamkan seluruh badannya. Hanya kepala saja yang nampak, berbaring dengan posisi menyamping memunggunginya. Seperti sengaja tidak memberikan kesempatan untuk bicara malam ini.
"Sayang.." panggilnya setelah selesai memakai boxer dan kaosnya
"Rey" panggilnya sambil menggoyangkan bahunya
"Ayo kita bicara" bujuknya
"Aku tak bisa tidur jika belum bicara denganmu"
"Kau dengar kan? Aku bicara ya"
"Aku tadi sudah mau pulang, tiba-tiba ada pesan gambar masuk"
"Fotonya sedang mabuk berat di bar dan si pengirim gambar meminta aku menjemputnya kesana" Bimo mengelus punggung Reyna, ia yakin sekali istrinya belum tidur
"Disana sendirian" lanjutnya sambil mencoba melongok kesamping, percuma tak ada pergerakan
Arghh apa ceritaku kurang menarik, kurang panas, kenapa istrinya belum juga terpancing
Terjadi pergerakan dibawah selimut. YES! Ayo berpalinglah! Bimo meminta dari hati paling dalam
"Sampai disana aku justru bingung mau menghubungi siapa. Tak ada kontak siapapun di ponselnya kecuali aku, beberapa histori panggilan keluar juga tak ada yang menerima panggilan"
"Sayang,,,kau masih dengar kan?" Bimo mengubah posisinya dari telentang lalu menyamping, menyingkap selimutnya.
Biar saja istrinya marah daripada terdiam semalaman seperti ini
"Rey.. " tangannnya terulur menyentuh lengan polos istrinya yang mengenakan gaun malam tanpa lengan, sengatan panas tubuh Reyna seperti menyetrum ke tubuhnya
Bimo terduduk seketika lalu turun dari ranjang menuju sisi ranjang lainnya
"Kamu demam" punggung tanggannya ia tempelkan ke dahi istrinya
"Sudah makan? Ayo minum obat"
Terdengar erangan kecil dari bibir istrinya, keringat dingin mulai muncul dari dahinya
Bimo turun ke lantai bawah, memanggil Mbok Nah eh bukan berteriak pastinya
__ADS_1
"Mboookkk... "
Wanita paruh baya itu tergopoh, membuka matanya yang lengket, memicingkan mata melirik jam dinding yang tepat mengarah angka 11
"Ada apa Mas Bimo malam-malam gini"
"Tadi Rey sudah makan belum?"
"Sudah katanya tadi sore di arisan"
"Minta obat penurun demam Mbok"
Menuju kulkas dan memberikan sebotol sirup penurun panas
"Yang demam istri saya mbok bukan Dewa"
"Oh, kompres saja Mas"
"Memang nggak ada yang instan Mbok? "
Mbok Nah berpikir "Dipeluk saja Mas kaya Mbak Rey kalau Den Dewa sedang demam"
Bimo terbengong-bengong, maksudnya skin to skin? melucuti pakaian istrinya lalu menempelkannya ke tubuhnya
"Sana Mas buruan" Mbok Nah memberikan sepanci air suam kuku dan handuk kecil
---
Bimo menatap tubuh istrinya yang tergolek lemah, menggigil dan meracau lirih tak jelas
Iya loloskan gaun tanpa lengan melewati kepalanya, menelan ludah dengan susah payah melihat tubuh polos yang entah ratusan kali sukses ia setubuhi
Ya Tuhan Bimo.. istrimu sedang sakit tega Si Ontong masih kamu ajak bergeliat hasil otak mesummu
Melepaskan kaosnya sendiri menarik tubuh istrinya kepelukannya, dan melebarkan selimut menutup kedua tubuh polos
Menciumi istrinya dan tak henti membisikkan kata maaf, merelakan satu lengannya akan terasa pegal semalaman menopang kepala
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1