
Terbangun dengan seluruh badan remuk redam, berjalan berjinjit ke kamar mandi. Nyeri Reyna rasakan, lendir lengket bercampur darah keluar di area intimnya.
Hari masih terlalu pagi, matanya sembab hasil dari menangis semalam. Turun tergesa ke basement dan melajukan mobilnya membeli bubur dua porsi, perut keduanya perlu diisi setelah perdebatan yang dilanjutkan insiden semalam.
Bimo masih belum beranjak dari ranjang ketika Reyna kembali ke apartment. Perlahan ia siapkan baju kerja di sandaran ranjang, membereskan baju kotor, menyiapkan satu porsi bubur yang ia beli di nakas dan meninggalkan catatan untuk memanaskannya lebih dahulu sebelum dimakan. Mengatur alarm setengah jam kemudian, memastikan suaminya tak meninggalkan kewajibannya di kantor.
---
Deru angin pantai dari balik kaca mobil mengusik telinganya. Pandangan Reyna nanar memandang jauh kedepan. Ia butuh waktu sejenak untuk dirinya sendiri, merenung dan memikirkan setiap detik kejadian semalam. Rasa bersalah dan berdosa kepada sang suami menyergap ke relung hatinya.
Berkali-kali ia melirik arlojinya, waktu serasa lambat bergulir. Reyna telah meninggalkan pesan pada pengasuh Dewa untuk mengantarkan sekolah dan nanti ia sendiri akan menjemputnya.
.
.
.
"Reyna!" panggilan Alex dari balik punggungnya saat ia hendak menjejakkan kaki ke anak tangga
"Ya Om" menoleh tanpa berani menatap muka
"Om mau bicara sebentar" Alex berjalan menuju ruang kerja
Reyna menoleh ke arah Dewa "Dewa ke kekamar dulu, nanti Mama susul"
Putranya itu hanya mengangguk dan berjalan naik
"Kalian ada masalah?" tanya Alex dengan suara berat setelah keduanya duduk berhadapan di sofa ruang tengah
Reyna menunduk mengusap punggung tangannya
"Rey.. "
"Om, saya masih bisa atasi"
"Kemana kalian semalam? Dewa tanggung jawab kalian"
__ADS_1
"Iya, saya tahu, saya salah Om. Maaf"
"Tadi pagi Bimo kemari mencarimu"
"Ah.. " Reyna sontak mendongak, sedari pagi ponsel sengaja ia matikan
Alex menatapnya sendu, sudah pasti lelaki itu melihat matanya yang masih terlihat bengkak
"Lain kali biarkan suamimu menanggung sendiri akibatnya jika kembali lagi ke kelab malam"
"Tapi itu semua karena Reyna Om.. "
"Apapun itu, bukan solusi jika ia memilih minum-minum. Justru makin memperburuk masalah"
"Iya Om, nanti biar Reyna bicara dengan Kak Bimo"
.
.
.
Masih tanpa bicara, semenjak kepulangan Bimo petang hari. Meja makan yang biasanya ramai dengan canda tawa
Bimo memasuki kamarnya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan diruang kerja. Melempar pil mini ke pangkuan istrinya yang tengah menyisir rambut indahnya disisi ranjang.
"Tolong jelaskan" pintanya
Reyna menaruh sisirnya di nakas, menggulung rambutnya keatas dan mengikatnya rapi.
"Aku minta maaf Kak"
"Aku minta penjelasan, bukan menyuruhmu minta maaf"
"Aku belum siap hamil lagi"
"Kenapa? karena aku tak seperti pria yang kau harapkan? " Bimo mengambil duduk disamping Reyna
__ADS_1
Reyna menggeleng
"Jika bukan karena Dewa, kau tak akan menikah denganku. Iya kan?"
"Kak..Jangan bicara seperti itu"
"Aku hanya pria yang menjebakmu dengan kehidupan rumit. Jika bukan karena aku, mungkin saat ini kau pasti menjadi wanita karir yang sukses. Masih melenggang lajang dengan banyak pujian dari kolega dan mungkin lawan jenismu"
"Kak! "
"Aku takut kehilanganmu Rey, tapi bukan itu alasanku untuk mempunyai anak semata untuk mengikatmu"
"Iya Kak, aku salah. Aku minta maaf, waktu itu aku hanya asal bicara"
"Aku melarangmu ini dan itu bukan hanya karena takut kehilanganmu. Tapi aku ini suamimu, pria yang ingin menjaga kehormatanmu. Apa aku salah?"
Hati Reyna berdesir, semuliakah dirinya dimata suaminya itu. Rasa bersalah makin ia rasakan, ia terlalu picik menilai suaminya.
"Kemana kau pagi tadi?" Bimo berkacak pinggang
"Aku... hanya ingin sendiri"
"Jangan matikan ponselmu. Aku akan memberikan waktu untukmu selama apapun yang kau mau. Asal kau bisa menjadi Reyna yang dulu!"
Bimo beranjak naik ke ranjang, menaikkan selimut hingga ke dada dan tidur memunggungi istrinya. Reyna menghela napas, melakukan hal yang sama seperti suaminya lakukan.
"Kak.. "
"Ya.. "
"Jangan pergi ke kelab malam lagi. Kalau kau tak ingin aku sendiri yang menjemputmu kesana lain kali"
"Ya, maaf"
Hanya itu? Tak inginkah kau tahu yang terjadi semalam?
Sudahlah, anggap saja semalam adalah hukuman untuk dirinya. Ia dan Bimo hanya butuh waktu untuk kembali hangat.
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!