
Decit kaki sofa dikamar hotel khusus pasangan pengantin baru terdengar seirama dengan gerakan dua tubuh manusia diatasnya, Bimo menggenggam rambut Reyna selagi menghentakkan miliknya ke pusat terdalam dengan posisi doggy style.
Kepala wanita itu memutar kebelakang
"Enough Kak.. "memohon dengan bibir bergetar
"Wait... "
"Please stop it.. ahhh..!"
Desahan wanita dibawahnya justru makin membuatnya bergairah, alih-alih ingin mempercepat gerakan Reyna justru menyentak tubuhnya kebelakang hingga penyatuan terlepas. Wanita itu berdiri berkacak pinggang menatapnya cemberut.
"Kita kesiangan nanti, Kak Bimo janji kita bakal jalan-jalan seharian"
Bimo terduduk disofa tersenyum simpul menarik dua tangan didepannya
"Iya Reyna sayang... sebentar lagi" muka memelas mengharap wanita itu luluh
"Sebentar? satu jam lagi??" Reyna menggoyangkan enggan tangan Bimo
"Give me ten minutes more" Bimo menahan ngilu diselangkangan yang meminta segera dipuaskan "Ayolah tanggung, kamu nggak kasihan Si Ontong?" Bimo memegang bagian bawah tubuhnya yang menegang hebat
"Ya ampun Kak.. sempet-sempetnya kamu kasih nama?" Reyna membelalak, ia lirik muka Bimo yang nampak memelas "10 menit ya, jangan lebih! atau nanti malam nggak dapat jatah"
"Promise me!" tuh kan mata Bimo yang tadi sayu langsung berbinar bahagia
Reyna mendekat, membuka kaki lebar-lebar duduk di paha Bimo. Menatap pria itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Harusnya tadi aku nggak usah bangunin Kak Bimo" telunjuknya menjawil hidung mancung itu.
"Hemm.. " Bimo mer*mas bokong sintal dan mencari celah melakukan penautan lagi, meringis saat tubuhnya berhasil memasuki kembali ke liang surgawi.
"Kak Bimo tutup mata.. " perintah Reyna
"Yah.. nggak seru" bibir Bimo mengerucut
"Mau nggak?! buruan" Reyna mengangkat tubuhnya mengancam
"Eh iya iya iya... "
Sesaat setelah mata terpejam tubuhnya bergerak pelan, makin cepat , makin berirama. Jemari Reyna bermain mengusap lehernya, benda basah menempel menyusuri lehernya. Percuma saja mencoba melirik, telapak tangan Reyna erat menutup matanya.
Wanitanya itu tak berhenti mencium, menjilat dan menggigit kecil lehernya dengan gerakan yang masih kaku selagi menaik turunkan tubuhnya seirama.
"You learnt a lot Rey.. " racauan keluar dari mulut Bimo membuat wanita itu makin bersemangat
"5 minutes left.. " bisik Reyna ditelinga Bimo
Pria dibawahnya menahan laju tubuh yang bergoyang diatasnya, berganti menghentakkan bagian tubuh bawahnya. Jemarinya merayap mengelus lembut di punggung sang wanita memberikan sensasi yang menggelikan.
"I'm coming Rey" pekik Bimo tertahan.
Leher pria itu terkulai lemas di sandaran sofa. Reyna bergerak cepat menyerang leher Bimo disisa desahan panjangnya.
.
.
.
"Kak Bimo yakin nggak mau ganti baju?" sekali lagi Reyna memastikan sebelum menutup koper milik Bimo sambil melirik tanda kepemilikan yang berhasil ia tinggalkan dilehernya.
"Enggak perlu" dengan santai menjawab dan mengenakan sneakersnya
"Ih... tadinya aku mau balas dendam. Kok Kak Bimo malah kelihatannya senang begitu" Reyna memandang pria heran
"Biar orang tahu istriku hebat main diranjang"
"Ishh.. " Reyna tersipu lalu memeluk Bimo "Padahal aku masih amatiran"
"Kalau kamu sudah jago aku malah curiga" Bimo mencium keningnya gemas
"Yuk.. keburu siang. Hari ini acaranya jalan-jalan sampai malam" Reyna merentangkan tangannya
"Siap Nyonya.. nanti malam Si Ontong minta jatah lagi ya"
"Baik suamiku yang ganteng" Reyna mencubit lengan Bimo nakal.
__ADS_1
.
.
.
Setelah menaruh koper di cottage yang mereka sewa 2 hari kedepan untuk ber-honeymoon. Keduanya segera menuju tujuan pertama didaerah kota lama. Berjalan bergandengan menyusuri jalan berpaving block yang tidak merata. Berswafoto dibeberapa spot historikal serta mengabadikan beberapa moment dalam bentuk video.
"Huffhht capek.... " Reyna merebahkan badannya ke sofa dipojok cafe sambil menikmati es krim yang sempat ia beli
"Mau makan apa istriku?" Bimo membolak balik daftar menu
"Steak boleh, ekstra ini ini itu juga ehmm aku mau yang itu juga deh" tunjuk Reyna ke berbagai pilihan menu pendamping
"Busyett... makan apa kesurupan" celetukan Bimo dibalas dengan sorot tajam " Eh iya iya biar kuat nanti malam kan ketemu Si Ontong lagi"
"Si Ontong lagi yang dibahas" Reyna menggelengkan kepalanya
Bimo mengepulkan asap putih dan meminum sedikit demi sedikit kopi yang ia pesan sambil melihat istrinya lahab memakan semua pesanannya.
"Habis ini kemana lagi Rey?"
"Ehmm.. kita ke galeri beli lukisan terus balik ke cottage lihat sunset"
"Habis itu... ehemmm" Bimo memancing
"Lihat life performe bentar aja di kafe cottage"
"Terus... uhuk..Tidurnya kapan?" tak menyerah memancing lebih dalam
Tidur? ahh dalam hati Reyna sudah menebak pasti nanti ujung-ujungnya juga dia ditiduri
.
.
.
"Ada sesuatu buat kamu Rey" Bimo menyelipkan kartu debit digenggaman Reyna saat keduanya berjalan kembali menuju cottage setelah sejenak melihat life performe di kafe
"Aihh... makasih Kak" Reyna tersenyum lalu memeluk tubuh Bimo erat
"Sudah seharusnya, kamu dan Dewa adalah tanggung jawabku sepenuhnya" Bimo merangkul erat
"Capek Kak..... " Reyna menjatuhkan dirinya diranjang dan menatap langit-langit kamar
"Mau aku pijit?" Bimo menyusul naik ke ranjang dan menyisipkan tangan kebawah kaos mengelus perut datar itu
"Yang capek kaki Kak.. " Reyna menyingkirkan tangan Bimo
"Lepas dulu celanamu" kembali tangan itu merayap menyentuh kancing celana jeans
Reyna berjingkat secepat kilat mengganti jeans dengan celana piama dari bahan satin.
"Ya.. kok cuma celananya, bajunya pakai juga dong Rey"
"Nanti, itu bonus kalau sudah selesai pijit" Reyna melempar botol body lotion yang diraih Bimo tepat, menelungkupkan badan diranjang
Pelan Bimo mengurut betis dan telapak tangan
"Kak.. "
"Ya.."
"Kangen Dewa.. "
"Iya ya Rey, aku juga. Dia kangen kita nggak ya Rey?"
"Belum.. kan masih betah menginap di tempat Rara. Kasihan Om Alex sendirian"
Reyna mengambil bantal, kantuk mulai menyerangnya.
"Rey.. jangan tidur lho" Bimo menggoyangkan kakinya
"Ehmm.. enggak, cuma merem sebentar"
"Rey.. "
__ADS_1
"Ehmm... "
Bimo melanjutkan memijit naik ke paha
"Reyna.. "
diam
Naik lagi menyusup ke arah punggung
"Istriku.. "
diam
Meraih tengkuk dan mengurut pelan
"Sayang... "
tak bergerak
"Arrghhh... Kak!!! Sakit...." Reyna berjengit bangun saat Bimo usil menjepret tali BRAnya
Bimo terbahak melihat Reyna mengelus elus pundaknya
"Ayo sudah, mana bonusnya.. "
"Ih..pijitnya cuma sebentar" masih kesal menuju kabin di sudut kamar, mengganti kaosnya dengan baju atasan piama berenda.
Menyusul kembali ke atas ranjang, Bimo sudah melepas kaos dan hanya meninggalkan celana boxer ditubuhnya. Menyalakan televisi dan memilih salah satu film pendek negeri barat. Berbaring dengan kepala beralaskan lengan Bimo
Tangan Bimo mulai usil menarik tali spagheti dari pundaknya, mengaduk-aduk isi BRA dan meremas-remas sesukanya. Berpindah menelusup ke pangkal kaki, sedikit berjuang karena Reyna menutup kakinya rapat-rapat.
"Rey.. "
"Dicari Si Ontong" Bimo kebat kebit menahan sesuatu menggeliat dibawah sana
"Iya bentar.. " wajah Reyna masih melihat jalan cerita di layar kaca
"Kak.. " panggilnya saat iklan menjeda film yang tengah ia tonton
"Ya, mau sekarang"
"Ih.. " Reyna mencubit perut Bimo "Aku kepikiran omongan Mas Gandhi"
"Soal?"
"Apa memang lebih baik aku tidak lagi bekerja"
Bimo menghentikan semua aktivitasnya, menarik lengannya dari kepala Reyna lalu duduk bersandar di head board
"Reyna, aku ini suami kamu. Harusnya aku yang lebih kamu dengarkan daripada kakakmu bukan. Bukankah aku dulu yang menginginkanmu berhenti bekerja tapi waktu itu kamu menolak" Bimo menghela napas panjang
Reyna mendongak dan melihat raut wajah kecewa disana, terburu dia terduduk "Bukan itu Kak maksud aku.. "
Bimo mengambil bantal lalu mengambil posisi tidur membelakangi Reyna
"Kak.. " Reyna menggoyang bahu pria itu "Kak Bimo salah paham"
"Kak.. " Reyna mengelus punggung Bimo, memeluk dari belakang dan merapatkan tubuhnya tapi tubuh didepannya masih saja diam
Reyna menarik sekuat tenaga membuat tubuh Bimo terlentang lalu mendudukinya
"Dengarin Reyna dulu Kak" Reyna meraih bantal yang menutupi kepala Bimo dan melemparnya jauh-jauh "Aku kan cuma ingin dengar second opinion"
"Ehm.. " Bimo melipat tangannya dibelakang kepala
"Kak Bimo jangan marah" Reyna menggoyang goyangkan tubuhnya manja
"Asshhh Rey.. bangun.. "
"Eh iya iya aku bangun. Berat ya Kak.. " Reyna menarik tubuhnya dari atas Bimo
Tangan Reyna dicekal erat "Tanggung jawab, Si Ontong bangun"
Tanpa ba bi bu keduanya sudah bergulat memanaskan ranjang kemudian menjadikannya basah dengan peluh tubuh mereka.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1