Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
91. Wejangan


__ADS_3

Reyna memanfaatkan waktu istirahat siang untuk berziarah ke makam Bram sehari setelah peringatan 40hari. Cukup lama Reyna disana, mencurahkan segala rasa terpendam, menceritakan hal yang ingin ia bagikan. Reyna telah mengikhlaskan kepergian Bram tapi belum berniat untuk menggantikan tempat lelaki itu dihatinya, tidak dalam waktu dekat.


.


.


.


Ponselnya berbunyi saat hendak meninggalkan makam


"Halo, kenapa Kak?"


"Rey, liburan yuk. Bulan ini ada 3 hari libur berurutan loh"


"Oh ya,,!?"


"Lihat dong kalender"


"Aku lagi nggak dikantor Kak"


"Dimana?"


"Dimakam"


"Oh" terdengar napas berat diujung sana


"Emang Kak Bimo mau ajak Dewa kemana?"


"Kok Dewa, ya bertiga dong"


"Iya Iya... bertiga.. Kemana?? "


"Berlibur di rumah Om Alex" Bimo terkekeh diujung sana


"Yaelah Kak... pindah tidur namanya"


"Ya semalam saja di rumah Om Alex, 2 malam lagi kita ajak Dewa kemanalah"


"Ya sudah Kak Bimo atur saja"


.

__ADS_1


.


.


Reyna memeluk pinggang Dewa yang berdiri melihat pemandangan diluar jendela mobil, bocah kecil itu sudah tidak sabar tiba ditujuan.


sore tadi saat Reyna pulang, supir pribadi Om Alex sudah menunggunya untuk membawa mereka ke kediamannya.


Om Alex sudah menunggu diteras rumah, tangannya terentang lebar menyambut Dewa yang berlari.


"Opaaaaa... " Dewa mencium punggung tangan pria paruh baya itu dan merajuk minta gendong


"Eh Dewa, jangan nak. Opa nggak kuat gendongnya"


"Biar Reyna.. sesekali ini, ayo masuk"


Reyna melangkah memasuki rumah yang lumayan besar dan berlantai 2.


"Kak Bimo mana Om?"


"Belum pulang, yah begitulah Rey. Sejak menggantikanku dia sering pulang malam, maklumlah tuntutan kerja"


Reyna membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk


"Nanti saja Om"


"Temani Om ngeteh diteras saja yuk"


Reyna mengiyakan


"Mboookkkk... " Om Alex berseru


Datang wanita berusia sekitar kepala 5 datang tergopoh


"Buatin teh ya Mbok"


"Oh ya Pak.. " wanita itu menatap Dewa yang sedang asik berlarian diruang tengah, lalu mencuri pandang kearah Reyna


"Ini mama Dewa bukan? "


"Eh iya Mbok, saya Reyna"

__ADS_1


"Wahhh cantikk ya, pantes Mas Bimo betah melajang"


"Ehmm.. Mbokkk... " tegur Pak Alex


"Eh .. iya Pak Alex, maaf saya permisi kebelakang"


Reyna mengekor langkah Alex menuju teras, halaman rumah yang sangat luas hingga terdengar suara jangkrik.


"Om Alex tinggal bertiga saja? "


"Iya Rey, beruntung Bimo segera pulang kembali setelah kantor cabang bisa beroperasi tanpanya" laki-laki itu meminum teh sekecap lalu memandang Reyna


"Reyna.. Om ikut berduka cita"


"Ah.. Om sudah tahu soal itu?"


"Heemmm..Bimo terpaksa bercerita karena Om mendesaknya untuk segera menikah"


"Eh.. " Reyna menunduk, ini hal yang sangat ingin ia hindari


"Om sudah tua Reyna, kesibukan Om ya cuma sesekali memeriksa bisnis ritel, berkebun dan yah kumpul-kumpul dengan teman lama. Itu juga kan tidak tiap hari" pria itu terbatuk kecil


"Om ingin merasakan momong cucu"


Reyna tersentak, mendongak memandang pria didepannya


"Kamu nggak keberatan kan tinggal dekat Om kalau nanti sudah menikah, biar Om bisa ketemu Dewa tiap hari"


Reyna menggigit bibir bawahnya, untaian otaknya terasa berbelok belok bagaikan labirin belum menemukan celah yang tepat untuk suatu jawaban.


"Om yakin saat ini kamu butuh waktu dan itu tidak mudah, sama seperti Om dulu waktu ditinggal mendiang istri" Alex memutar kepalanya dan menunjuk pada foto besar yang terpasang di ruang, fotonya bersama mendiang istrinya.


"Om butuh waktu 3 tahun lamanya hingga benar-benar mengikhlaskannya pergi" pria itu menghela napas panjang


"Reyna juga butuh waktu, beritahu saya Om bagaimana menerima kepergian seseorang yang tak mengenal kata kembali" Reyna menahan tetesan bening yang menghangat dipelupuknya


Alex memandang Reyna dengan tatapan sayu


"Om tahu ini pasti berat buatmu Reyna, Om harap kamu bisa mempersingkat waktu berdukamu, pertimbangkan masa depan Dewa dan perasaan Bimo. Mungkin Tuhan menakdirkan kepergian seseorang untuk kedatangan orang lain yang lebih tepat"


Bulir itu menetes tanpa Reyna sadari, ucapan Om Alex benar adanya, pantaskah saat ini ia masih bergantung pada hal yang tak akan mungkin kembali dan menyia-nyiakan takdir terbaik yang memang Tuhan pilihkan untuknya.

__ADS_1


"Makasih Om.. Reyna berjanji akan pelan-pelan belajar menerimanya" Reyna memandang Alex dengan senyum tersungging dibibirnya.


__ADS_2