
Reyna tak membuang waktu ,esok harinya ia segera mengunduh aplikasi whats app, setelah memastikan pintu kamarnya terkunci dia segera mengirimkan pesan ke Bianca.
Hanya butuh satu pesan untuk memacing sahabat karibnya itu menghubunginya
''Bianca, ini aku Reyna. I need your help!"'
Teriakan Bianca memekik ketika Reyna menjawab panggilan itu, serentetan pertanyaan keluar dari ujung suara disana, Reyna hanya menjawab singkat bahwa dia sedang dalam kondisi tidak baik.
''Kau masih ditempat mama?'' tanya Reyna
''Iya Rey, ada apa?''
''Ceritanya panjang Bi, aku hanya minta bantuanmu untuk meneleponku siang ini dan pura-puralah kau menawari pekerjaan dikotamu. Please!''
''Ahh,eh oke Rey''
''Satu lagi Bi, aku mungkin akan numpang di rumah mamamu sementara waktu''
''Okay sip'' jawab Bianca singkat
.
.
.
__ADS_1
Siang harinya di akhir pekan saat semua berkumpul di ruang tengah, Reyna mengirimkan pesan singkat ke Bianca untuk meneleponnya saat itu juga
''Halo Biii...'' sahut Reyna pura-pura terkejut ''Ehhh,,bentar ya aku loud speaker, ada si Adam juga nih''
si kecil Adam langsung berceloteh riang. Bianca benar-benar mengusai perannya, segala rayuan dibujuknya Reyna untuk mau bekerja di kotanya karena perusahaannya sedang membutuhkan karyawati.
Reyna berpura-pura untuk memikirkan tawaran Bianca itu sambil melirik Gandhi menerka apa reaksi pria keras kepala itu nantinya.
''Boleh Mas?"' tanya Reyna langsung
Mas Gandhi menggeleng dan langsung pergi keluar dari ruangan itu
Jangan menyerah Rey! pekiknya dalam hati
''Mbak May, tolong bujuk Mas Gandhi, Bianca sudah seperti saudaraku sendiri tak enak aku jika menolaknya. Lagipula aku akan tinggal dirumah mama Bianca''
Aris setuju toh mereka berdua mengenal baik Bianca karena hanya gadis itu sering menginap dirumah mereka saat keduanya masih kuliah. Reyna mencuri pandang dari balik jendela seraya komat kamit berdoa, usahanya tak sia-sia.
Aris masuk diikuti Gandhi dibelakang, jempol nya terangkat dan mengedipkan mata pada Reyna. Seketika Reyna memeluk Gandhi, tidak hanya mengijinkan Reyna bekerja di tempat Bianca tapi mengijinkan Reyna untuk pulang bersama May esok harinya. Gandhi hanya meminta nomor telepon Bianca untuk bisa memonitor Reyna sewaktu-waktu.
.
.
.
__ADS_1
Bianca tiba dikediaman May keesokan hari setelah semalam Reyna tiba lebih dulu. Tawaran Aris semalam untuk mengantar Reyna ke kediaman Bianca ditolak oleh Reyna. Dia beralasan Bianca akan meminta legalisasi ijazahnya dikampus sekaligus menjemputnya. Tentu saja ini juga akal-akalan Reyna, Bianca hanya mengiyakan saja permintaan karibnya itu.
Pelukan erat Bianca dibalas erat oleh Reyna, dengan menatap mata saja Bianca tahu Reyna sedang mengalami masalah tidak sepele. Mereka bergegas menuju mobil setelah berpamitan dengan keluarga May. Bianca menepikan mobilnya tak berapa jauh dari kediaman May,
Reyna hanya menceritakan singkat tentang pernikahannya yang hanya sandiwara dan bahwa ia telah bercerai dari Satria sesuai kesepakatan. Sementara hanya itu yang cukup ia ceritakan, sampai dia bisa menemui Bimo. Tak lupa ia juga memperingatkan Bianca untuk berhati-hati jika Gandhi menghubunginya sewaktu-waktu.
.
.
.
Tanpa membuang waktu Reyna meminta Bianca untuk singgah di kota Satria lebih dahulu dengan alasan mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal, namun bukan rumah Satria yang dia datangi melainkan rumah Bimo. Dia meminta Bianca untuk menunggunya dimobil saja.
Jantung Reyna berdegub ketika berhenti didepan kediaman Bimo, waktu sudah bergulir senja saat itu, pasti Bimo sudah berada dirumah saat ini.
Dia ketuk pintu dengan sepenuh harapan, tak lama pintu terbuka dan muncul seorang wanita cantik dengan baju rumahan mengernyitkan kening
''Cari siapa?'' tanya wanita itu
Tak jauh berbeda Reyna pun heran memandang wanita didepannya ''Bimo ada?"
Wanita itu terdiam sesaat kemudian berbalik dan berjalan menuju dalam rumah
''Sayaaanggg.....'' panggilnya seru yang sudah pasti diyakini Reyna adalah panggilan untuk seorang pria didalam sana
__ADS_1
Reyna diam terpaku, tiba-tiba dia berpikir yang tidak-tidak. Dia ingin berbalik pergi dan lari sekencangnya tapi tangannya reflek memegang perutnya yang mulai keras menonjol. Pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap bertahan berdiri disana, baginya Bimo harus tahu dan berhak untuk mengetahui calon anaknya ini, entah apapun reaksi yang akan Reyna terima nantinya.