
Rumah sangat lengang saat Reyna masuk ke dalam, hari sudah hampir petang saat ia baru saja mendatangi arisan ibu-ibu komplek
"Dewa... " panggilnya
Reyna berpapasan dengan pengasuh Dewa di anak tangga
"Dewa mana mbak?"
"Di kamar, barusan minta makan Bu. Maaf makan dikamar, sepertinya kelelahan habis les berenang tadi sore"
"Oh.. lihat Om Alex?"
"Tuan Alex pergi diantar Pak Man"
Reyna mengangguk-angguk lalu menyusul Dewa ke kamar
Putranya itu nampak lesu diatas ranjang dengan kertas gambar berserakan di ranjang
"Anakku...Let's play" Reyna menjatuhkan dirinya ke ranjang
"I'm tired Mama, I feel sleepy"
"Ish, it's too early for going bed son" Reyna memeluk putranya
"Tunggu ayah pulang dulu sayang.. " mencium gemas
"What time he's going home?" menguap lebar sambil meneruskan gambarnya
Reyna mengeluarkan ponsel dan menelepon suaminya
"Ya Rey?"
"Ayah pulang jam berapa?"
"Oh, sebentar lagi pulang"
"Okay kita tunggu, bye.. "
Menemani Dewa hingga menghabiskan beberapa lembar kertas gambar. Menyerah membujuk putranya saat akhirnya tertidur tanpa menunggu sang ayah pulang untuk sekedar memeluk dan mencium pengantar tidur
Sudah satu setengah jam berlalu dari panggilan teleponnya, biasanya Bimo sudah tiba dirumah 30menit lalu. Reyna membereskan kamar Dewa dan keluar menuju lantai bawah.
Ruang tengah masih sepi pertanda Alex belum pulang saat kakinya melangkah menuju dapur.
"Mbak Rey mau makan?" tawar Mbok Nah
"Ehm, enggak Mbok. Masih kenyang tadi makan di arisan" mengetuk-ngetuk tangannya didepan kulkas
"Bikin es buah mbak, enak panas-panas begini"
Reyna menggeleng "Mau hujan apa ya mbok, engap banget panasnya"
Reyna mengambil air minum dan cemilan, membawanya naik kekamar. Menikmati acara televisi sambil bersantai, melirik jam dinding dan mulai gelisah menanti suaminya yang tak kunjung pulang.
Tuuuutttt Tuuutttt Tutttttt
Tak ada jawaban untuk panggilan teleponnya, Reyna menggigit bibir bawahnya. Mencoba mengusir kegundahan yang menyergap.
__ADS_1
Argghhh, kepalanya seketika panas jika teringat perempuan ular itu. Es krim nampaknya cocok mendinginkan kepala.
✉ Kak, aku ke kafe biasa ya. Susulin ya 😘
Satu pesan ia kirim ke nomor Bimo lalu melangkah turun menuju garasi
Sial! Kontak mobil malah tertinggal dikamar, malas mengambil Reyna memutuskan naik motor saja. Tanpa jaket pun tak apa pikirnya, dekat ini dan cuaca sedang panas.
Hawa sejuk menerpa wajahnya, motornya melaju pelan memutari jalan alun-alun kota. Hampir sampai ke kedai es krim tempat favoritnya dengan Bimo.
Matanya melirik deretan minimarket, ATM dan kelab malam dan... dan apa itu????
Reyna memutuskan kembali memutar kembali, berhenti diminimarket untuk memarkirkan motornya. Berjalan melewati ATM dan berhenti tepat disebelah mobil suaminya. Matanya mengerjab meyakinkan itu benar mobil Bimo.
Melangkah ragu ke arah pintu masuk kelab malam, shit! seumur-umur dia tak pernah menyambangi tempat seperti itu. Tak tahu apa yang harus ia perbuat
Tuttttt Tuttttt Tuttttt
Ihhh gemas rasanya ingin ia banting ponsel ditangannya saat panggilannya tak juga direspon Bimo
Mondar mandir bagaikan setrika di pelataran parkir, bibir bawahnya ia gigit. Come On Rey, pakai otakmu!
Ah!!! Satria, hanya pria itu yang bisa diandalkan saat ini
"Ha... "
"Mas dimana??? Aku minta tolong!! "
"Kenapa Rey??"
"Apa??"
"Sekarang. Tolong!"
"Kamu serius Rey?"
"Iya, suami aku didalam. Tolong! "
"Oke, tunggu jangan kemana-mana"
Menunggu Satria dengan cemas dan tak henti-hentinya menghubungi Bimo, menatap mearah pintu agar tak terlena sedikitpun
"Aku hancur Bim.... " pekikan wanita disertai tangis terdengar di pintu
"Cukup Dya, ayolah cukup!" Bimo mengamit pinggang wanita yang berjalan terseok dan hendak jatuh
Bimo berjalan mendekat menuju tempat mobilnya terparkir dan...
"Kalian!!!" Reyna berteriak lantang lalu berjalan mendekati keduanya
"Rey??" Bimo nampak terkejut lantas melepaskan pegangannya hingga sang wanita ambruk ke trotoar
"Pembohong!" Reyna berlari mendekat dan memukul dada suaminya
"Tunggu aku jelaskan" Bimo memegang kedua pergelangan tangan Reyna
Pandangan Reyna beralih pada perempuan ular yang mencoba berdiri dengan terhuyung. Lupakan kata elegan, toh dia tak akan menyadari sikapnya dalam kondisi mabuk berat
__ADS_1
Reyna menghentakkan tangan melepaskan diri, melangkah cepat mendekati perempuan ular lalu mendorong kuat-kuat hingga jatuh menggelepar di trotoar
"Aakhhh... " Lidya menjerit kesakitan saat badannya terbentur kembali ke trotoar
"Dasar perempuan ular!!" jerit Reyna
"Rey, tolong jangan buat keributan. Aku bisa jelaskan" Bimo menahan tangan istrinya
Reyna mendekatkan hidung ke wajah suaminya, tak tercium alkohol disana hanya bau rokok pekat menempel di kemejanya. Memastikan bahwa suaminya benar-benar sadar akan perbuatannya kali ini
"Jahat! Harusnya aku tak percaya kamu!" pukulan membabi buta ia arahkan dada Bimo bertubi-tubi
"Pembohong! Pengkhianat!" seluruh tubuh Reyna bergetar, keringat dingin seketika membasahi kening.
Selanjutnya ia berdiri mematung meraup wajahnya dengan kedua tangan saat dirasa kedua matanya menghangat. Dadanya sesak menahan agar bulir hangat itu tidak mengalir
"Calm down Rey.. please"
Bimo melepaskan dirinya dan melangkah menuju Lidya yang masih terkapar dan meracau tak jelas.
"Kau mau apa lagi?!" jerit Reyna
Bimo tak menghiraukan jeritan istrinya, menarik tangan Lidya dan membantunya bangun dari trotoar
"Minum Bim..minum lagi. Mana minum" racaunya
Derap langkah Reyna kembali mendekat, menarik tangan suaminya menghempaskan dari tubuh perempuan ular. Tangannya siap terulur ke rambut Lidya
Tak disangkanya Bimo justru menghalau, melindungi tubuh Lidya agar tak kembali diserang
"Oh... kamu pilih bela dia!"
"Aku hanya bantu dia. Malu dilihat orang-orang"
Reyna mengedarkan pandangan, beberapa calon pengunjung kelab sedang menatap mereka bertiga
"Silahkan!"
Reyna berbalik badan berlari mejauh, air mata mengalir di pipinya
Bimo menggeser dan mendudukkan Lidya bersandar di bemper mobilnya dengan susah payah lalu berlari mengejar istrinya
"Rey, tunggu. Jangan pergi, kita pulang kerumah"
Tangan Bimo meraih bagian belakang motor yang siap Reyna jalankan
"Kita bicara, tolong" pintanya memelas
Reyna berdiri diatas motor yang sudah menyala, menoleh dan menghentakkan badan Bimo menjauh
"Jahat" pelan ia ucap disela air mata yang menggenang
Memutar gagang gas setelah tangan pria itu terlepas dari motornya
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1