
Pagi hari saat Reyna terbangun dia mendapati dirinya sudah hampir terjatuh di sisi bawah ranjang, kebiasaan Dewa adalah berputar-putar saat tidur dan memojokkan siapapun yang tidur dengannya.
Reyna menggeliat dan membalikkan badannya , aiishhh kepalanya tertumbuk pada dada bidang berbulu lembut milik Bram, pria itu pasti tidur meringkuk semalaman sama halnya dengan dirinya.
Dilihatnya lamat-lamat wajah laki-laki yang memberikan keteduhan selama hampir 3 tahun ini, cinta yang tulus tanpa banyak menuntut. Membuat Reyna berniat semalam untuk memutuskan mengakhiri masa kesendirian jika tidak ada pertemuan dengan Satria.
Ahhh,, hatinya kembali galau memikirkan peristiwa semalam, haruskah dia menemui pria itu untuk menyelesaikan urusan masa lalunya, dan haruskah Bram tahu mengenai ini.
Reyna menuju kamar mandi , badannya lengket karena semalam ia tidak sempat mandi karena lelah. Bram sudah duduk di sofa menyeruput kopi saat Reyna keluar dari kamar.
''Ehmm masih disini..'' tanyanya
''Nungguin Dewa selagi kamu mandi, takut jatuh, remuk badanku karena ulah Dewa sepanjang tidurnya"
''Suruh siapa juga uji nyali tidur bertiga'' Reyna terkekeh
Bram mencium kening Reyna ''sebentar lagi Dewa besar dan tidak akan lagi merajuk untuk tidur bersama kita, nanti badannku remuk karena ulahmu'' bisiknya nakal lalu berjalan menuju kamar mandi
Tok Tok
Nampak salah seorang sepupu Bianca yang Reyna kenal di depan kamarnya
''Maaf Mbak Rey, aku mau pinjam charger''
''Oh ya,sebentar''
Tiba-tiba Bram muncul dari kamar mandi, siapapun pasti mengira telah terjadi sesuatu diantara mereka melihat Bram masih saja bertelanjang dada keluar dari kamar mandi yang jelas-jelas bukan kamarnya.
''Ehh,,,maaf Om , aku cuma mau pinjam charger kok. Tadi aku sudah ke kamar Om, tapi..'' pemuda tanggung itu tak melanjutkan kata-katanya dan hanya cengar cengir
Reyna memberikan charger ke tangan Bram dan mendelik tajam ke arahnya, pria itu hanya tersenyum simpul sambil berjalan santai ke arah pintu.
__ADS_1
''Hemm..Om ketiduran disini'' hish asal kau tahu Om ingin meniduri seseorang disini
.
.
.
Sudah dua pekan sejak peristiwa itu, Bram mulai disibukkan dengan outlet yang mulai beroperasi dan baru malam ini ia sempat menyambangi kediamannya.
''Pappap iyoo..'' teriak Dewa kegirangan saat tubuh tegap itu memasuki rumah, digendongnya diciuminya bertubi-tubi
Reyna menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga didapur, bagaikan punya dua orang bayi, ia harus menyuapi keduanya bersamaan. Puas bermain dengan Dewa, Bram membiarkan anak kecil itu melihat tayangan kartun favoritnya sendiri.
Dipandangnya sosok Reyna yang tengah membilas piring kotor bekas makan mereka, hatinya merindu pelukan dan ciuman wanitanya itu. Dipeluknya tubuh Reyna dibelakang dan menaruh kepalanya di pundak Reyna, diciumnya lembut pipi itu
Reyna menggeliat mendorong pelan tubuh Bram agar berhenti menempelinya
''Geli ah Mas''
''Kangen Rey...'' Bram tidak memberikan kesempatan Reyna untuk berbicara ,bibir mereka berpagutan lama melepaskan rindu.
Bram melepaskan bibir tebal sensual itu untuk menarik napasnya dan kembali menerjangnya dengan penuh nafsu. Reyna berbalik saat tangan Bram mulai nakal menaikkan kaos dan mengelus lembut gundukan sintal yang berbalut kain berenda.
''Kenapa Rey?'' tanya Bram meredam syahwatnya, ia rasakan ada sesuatu yang janggal akhir-akhir ini tiap mereka berdekatan padahal ia cukup yakin Reyna juga menginginkannya.
''Nggak apa-apa Mas''Reyna menunduk tak berani menatap Bram
''Kamu nggak nyaman ku perlakukan seperti ini?"
Bram mengelus punggung Reyna lembut
__ADS_1
''Maaf kalau aku selalu lepas kontrol akhir-akhir ini'' Bram menghela napas berat ''Menikahlah denganku Reyna, apalagi yang kau tunggu?'' lagi dia mengulang permintaan yang sama
Reyna hanya tersenyum kecut, tunggu Mas tunggu sebentar sampai aku selesaikan urusanku ini batinnya. , dua pekan ini ia sudah memutuskan langkah apa yang akan ia ambil.
.
.
.
Reyna menggandeng tangan Bram menuju sofa ruang tengah dan mulai memijit bahu pria itu.
Kebohongan pertama
'''Mas,,tadi aku diminta bantuan anak kantor yang lagi urus cuti karena magang untuk TA. Dia berharap bisa lolos magang di kantor Pak Satria, dia minta tolong ke aku untuk kontak ke Pak Satria. Boleh??''
''Ehmm..boleh saja. Kenapa harus kantor Satria, bukankah itu terlalu jauh?''
"Eh.. entah. Aku juga tak begitu paham. Aku minta name card nya?''
Bram duduk mengambil kartu nama di dompetnya dan memberikan pada Reyna tanpa curiga, dia mengubah posisinya tidur menelungkup dengan kepala ditenggelamkan ke paha Reyna. Reyna menjerit kegirangan dalam hati dan mulai memijit punggung Bram.
Kebohongan kedua
''Mas,,besok aku ijin nggak masuk kerja, aku mau kerumah sakit''
''Kamu sakit?'' Bram menengadah
''Bukan cuma check up gigi saja. Akhir-akhir ini sering ngilu''
''Perlu kuantar?''
__ADS_1
''Enggak perlu'' Reyna menggeleng cepat
Jantung Reyna berdegup kencang, cemas ia rasakan. Dia mengelap telapak tangannya mulai basah karena keringat ke tepian celananya. Kebohongan masih terus bergulir untuk menutupi kebohongan, sampai ia selesaikan urusan masa lalunya ini.