Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
73. Titik Terang


__ADS_3

Amplop coklat dengan selipan invoice diluarnya menandakan dikirim dari luar negeri, dengan tanda terima 2 minggu yang lalu.


Perlahan Reyna membuka amplop coklat yang masih bersegel itu, didalamnya ada amplop putih yang berlogo salah satu rumah sakit international Singapura. Mungkinkah ini hasil general check up Bramantyo mengingat akhir-akhir ini dia mengeluhkan kesehatannya.


Sesaat Reyna ragu saat hendak membukanya ada cap "secret document" disana, tapi ia lihat sisi amplop itu telah digunting. Pertanda sang pengirim telah mengantongi ijin Mas Bram untuk membuka hasilnya.


Dag Dig Dug Reyna membukanya, ia keluarkan lembaran kertas itu.


Siallll... rutuk Reyna dalam hati, kemampuan bahasa inggrisnya tak mumpuni saat memahami untaian kata dengan istilah kedokteran disana. Matanya hanya terbelalak saat melihat angka yang tercetak dengan tinta merah menandakan kondisi yang jauh dari ambang batas normal di dua item hasil check darah tersebut SGOT SGPT.


Perasaan Reyna seketika berubah cemas dan takut meskipun ia tak memahami apa itu. Ia raih ponselnya untuk berselancar mencari tahu, tubuhnya lunglai seketika tapi ia tak ingin menduga lebih jauh, ia lipat lembaran kertas itu dan dimasukkan ke tasnya.


Matanya menelusur tiap jengkal kamar Bram, terdapat koper disudut kamar itu. Reyna menghampiri koper itu, bukankah Bram selalu membawa kopernya kemanapun ia pergi keluar kota. Ia buka koper itu .. kosong. Reyna menggigit bibir bawahnya.


Reyna melajukan motornya keluar dari rumah Linda karena wanita itu tak kunjung datang. Reyna berbelok ke salah satu laboratorium kesehatan dan mengambil antrian untuk bertemu dokter jaga disana.


.


.

__ADS_1


.


Dokter yang masih cukup muda itu menghela napas panjang.


"Dimana orang yang bersangkutan sekarang Bu? Apakah dia sudah mengetahui hasil ini? "


"Kurang tahu Dok, sampai sekarang saya juga belum bertemu, jadi seperti apa hasilnya Dok? "


Dokter itu melihat tanggal pengambilan sample darah dan berkata pelan


"Saya rasa saat ini orang yang anda cari sedang dalam perawatan"


.


.


Kaki Reyna terseok saat memasuki rumah sakit kelima, jarak yang terbilang cukup jauh membuat tubuhnya didera kelelahan. Kepalanya mulai pening karena melewatkan jam makan siangnya.


Bergegas ia hampiri pusat informasi karena jam berkunjung hanya tinggal 15menit saja.

__ADS_1


"Siang Mbak.. saya mencari informasi kamar inap pasien bernama Bramantyo Pamungkas" lagi Reyna mengulang pertanyaan di keempat rumah sakit sebelumnnya


"Tunggu sebentar" jawab petugas informasi itu ramah


"Kamar 2 VIP Anggrek lantai 4"


Gotcha!


Hati Reyna berdesir , kakinya mengayun cepat menuju lift, menit demi menit ia lalui berasa satu jam lamanya.


ting....


Pintu lift terbuka, Reyna melesak kedepan melawan arah para pengunjung yang hendak pulang. badannya gontai matanya nanar mencari ruang VIP diantara puluhan manusia disana.


Reyna berlari kencang mendekati penunjuk arah ruang anggrek, kamar VIP terletak paling ujung lorong panjang yang bernuansa warna putih dan abu. Bau khas rumah sakit menyeruak kuat ke hidungnya membuat kepalanya kian pening.


Tanpa mengetuk lebih dulu Reyna menekan handle pintu dan mencondongkan kedepan, badannya limbung hendak terpental kebelakang saat tubuhnya bertubrukan dengan sosok pria yang hendak keluar dari kamar itu.


Ia merasa tangannya ditarik kuat-kuat kepelukan pria tegap itu, mulutnya dibekap dan tubuhnya diseret paksa menjauhi kamar itu keluar dari lorong putih nan memanjang

__ADS_1


__ADS_2