
Satria mengajak Reyna ke taman di pusat kota, taman buatan berbentuk lingkaran dilengkapi air mancur buatan ditengahnya. Sekeliling taman tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum dari mall,restoran cepat saji, fitness centre dan banyak lagi lainnya. Setelah memarkirkan motor dan membeli dua porsi es krim ukuran jumbo keduanya duduk bersila di rumput taman menyaksikan hiruk pikuk kota.
Satria tersenyum saat melihat Reyna yang makan es krim dengan lahabnya, mulutnya ta henti-hentinya berceloteh bahwa dia senang sekali diajak keluar setelah 3 hari lamanya bagaikan burung dari sangkar. Sepanjang perjalanan tadi Satria juga menunjukkan beberapa tempat yang sekiranya diperlukan Reyna dan bisa dia jangkau dengan motornya nanti seperti minimarket, ATM dan apotek.
Sejenak Satria melupakan hubungannya dengan Niken yang sedang memanas, Satria tersadar Reyna bukan hanya wanita yang terpilih untuk menjadi istri pura-pura namun teman sehari-hari. Tiga tahun terakhir dia berkutat dengan usaha modifikasi motor dan mobil, pergi pagi dan pulang malam sudah biasa dia jalani. Tiga hari ini rumahnya yang biasa sepi seakan bernyawa, ada Reyna yang menjadi teman bicara dirumahnya, ada Reyna yang membuat bau harum tercium didapurnya, ada Reyna yang menyambutnya disaat pulang kerja.
Satria mengambil ponsel yang berdering di sakunya, memasukkannya kembali ketika terlihat profil foto Niken disana.
"Kok ga diangkat?"
"Nanti saja"
"Masih marahan?"
Satria terdiam membisu...
"Telepon balik Mas, aku merasa tak enak seakan-akan aku ini pengganggu dihubungan kalian" sambung Rey lirih.
Satria menoleh kearah Reyna, gadis itu berhenti menikmati es krimnya dan menunduk terdiam. Ada benarnya ucapan Reyna barusan. Disisi lain dia juga tidak bisa menyalahkan Niken toh dia nekat memutuskan menikah tanpa bicara dengan Niken lebih dahulu.
Tangan Satria mengangkat dagu Rey tersenyum simpul saat ujung bibir Rey kotor oleh bekas es krimnya. Dia mengusap kotoran itu dan segera berdiri.
"Makan yang bener bocaahhh, aku cari tempat telepon dulu disini bising"
.
.
.
Satria kembali menemui Reyna, gadis itu tak menyadari saat Satria mendekat. Pandangannya terpaku dengan salah satu bangunan di sudut taman kota yang menarik perhatiannya, lain dari yang lain jika dibandingkan bangunan lainnya yang terang benderang seolah memperlihatkan isinya untuk menarik konsumen. Bangunan tersebut gelap temaram hanya lampu kelap kelip yang menguntai kata STAR NIGHT CLUB.
__ADS_1
"Lihat apaan!" tepukan Satria dipundak Rey membuyarkan lamunannya.
Telunjuk Reyna mengarah lurus pada bangunan itu, napas Satria hampir saja terhenti
"Mau aku ajak kesana?'
Reyna menggeleng cepat
"Kata Bianca tempat itu nggak bagus banyak orang mabuk banyak penjahat"
"Siapa Bianca?"
"Temen kampusku, dulu aku pernah jemput dia di tempat kaya gitu Mas, sudah jalannya sempoyongan, bajunya kurang bahan. Bianca kapok trus dia putus dari pacarnya yang bawa dia ke tempat begitu" celoteh Reyna.
"Aku suka ke tempat itu" Satria mengambil duduk disebelah Reyna
Reyna membelalak dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya ''Eh...Sorry''
Asap putih mengepul dari sela bibirnya "Aku dan Niken bertemu disana"
Reyna merapatkan duduknya,dia menangkap lelaki didepannya ini hanya butuh didengarkan saat ini
Satria mulai bercerita bagaimana kacaunya hidupnya saat dia mulai menginjak kota ini untuk pertama kalinya, saat itu dia mengantongi ijin dari orangtuanya untuk meneruskan pendidikan di universitas. Pertama kali dalam hidupnya dia merasa bebas lepas, menikmati hiruk pikuk kota yang berbeda jauh dari 17tahun kehidupannya di kota kediaman asal orangtuanya. Nasibnya yang berkecukupan harta orangtua justru membuat dia salah bergaul, berawal dari merokok, minum-minuman berakohol hingga pergaulan bebas.
Satria tetap Satria,meski jiwa mudanya membuncah dia masih cukup waras untuk menuntut ilmunya sebaik-baiknya tak lain tak bukan dia ingin mendirikan usaha sendiri bukan usaha warisan. Dia rampungkan S1 dan S2 tepat waktu meskipun bukan termasuk dalam predikat memuaskan. Hidupnya berubah saat ia memulai usaha kecil-kecilan menerima modifikasi motor dan mobil, berawal dari mulut ke mulut hingga akhirnya berkembang cukup pesat dengan konsumen dan koleganya rata-rata dari kalangan tajir melintir.
Hingga suatu hari konsumen yang puas akan hasil kerja Satria mangadakan janji temu di night club dengan dalih menjamu minum sebagai ucapan terimakasih. Tak disangka konsumen tersebut menghadiahkan padanya seorang perawan, Niken nama gadis itu.
Satria membawa Niken ke hotel namun ia tinggalkan saja gadis itu disana tanpa menyentuhnya. Terlebih saat Niken menangis dan menjelaskan dia sama sekali tak berniat menjual dirinya, hanya kebutuhan dari anak-anak di panti asuhan yang membuat dia rela melakukan apa saja.
Prinsip Satria cukuplah menjadi laki-laki yang brengsek dan merusak diri sendiri tapi tidak untuk merebut kesucian dari seorang wanita yang sama saja merusak masa depannya. Selama ini dia hanya melakukan hubungan **** dengan wanita-wanita penghibur yang notabene bukan perawan.
__ADS_1
Satria meninggalkan kartu namanya dan berjanji membantu Niken mencari pekerjaan yang halal jika Niken berjanji untuk tidak lagi menginjakkan kakinya ditempat tersebut. Niken yang merasa berhutang budi memutuskan menemui Satria untuk berterimakasih dan mencoba peruntungannya untuk mencari pekerjaan lewat Satria.
Banyaknya kenalan dan kolega Satria berhasil mengantarkan Niken menjadi seorang pramugari hingga saat ini.
Seorang Niken telah merubah hidup seorang Satria, ia memutuskan menjadi donatur tetap bagi panti asuhan tersebut. Intensitas bertemu membuat dua sejoli tersebut saling jatuh cinta hingga Niken merelakan kesuciannya terenggut.
Satria berjanji tidak akan meninggalkan Niken dan memberanikan dirinya membawa Niken ke rumah orang tuanya untuk meminta restu, tapi diuar dugaan Pak Wiji dan istrinya tidak menyetujui dengan alasan bibit bebet bobot yang mereka anut. Sejak itu kedua orang tua Satria mendesak Satria untuk meninggalkan Niken dan segera menikah dengan beberapa wanita pilihan yang selalu di tolak oleh Satria.
Pertahanannya jebol saat keuangan usahanya diujung tanduk karena ditipu oleh salah seorang konsumen dan mengharuskan ia menerima perjodohannya dengan Reyna demi menyelamatkan karyawan dan anak-anak panti asuhan.
---
Reyna terhenyak terdiam bahkan tak terasa air bening menetes membasahi pipinya. Tak disangkanya Satria yang dia kenal selama ini mempunyai sebongkah hati mulia.
"Rey bangga sama Mas Satria" spontan dia lingkarkan tangan ke tubuh pria disampingnya
Hati Satria berdesir saat kening hangat Reyna menyentuh kulit pipinya. Sepanjang 3 tahun sudah hanya Niken yang mengisi kekosongan dan dinginnya raga dan kini ada wanita lain disisinya.
"Iiiihhhh jauh-jauh ahhh, ntar aku khilaf gimana" Satria mendorong tubuh Reyna kemudia berdiri dan menjulurkan tangannya "Yuk kesana" tunjuknya ke bangunan dengan kerlap kerlip lampu.
"Enggak ahhhhh katanya Mas dah tobat,jangan macem-macem dehhh"
Seketika telunjuk Satria mendorong pelan kening Reyna
"Heh masih bocah otakmu kotor" ia merogoh saku bajunya dan mengelurkan kepingan tipis menyelipkan ke telapak tangan Reyna.
Senyum Rey merekah saat ia tahu benda yang ditelapaknya
"Aaahhh makasih Massss" dia melompat lompat kegirangan dan tanpa sadar memeluk Satria erat-erat.
Satria buru-buru menjauhkan tubuh Reyna saat ada yang menggeliat dibawah sana bereaksi saat dua gundukan ditubuh Reyna menyentuh dadanya yang hanya terbaluk kaos tipis rumahan
__ADS_1