
Reyna dibuat gemas oleh Bimo semalam menjelang acara reuni, suaminya itu memintanya memperlihatkan baju yang akan ia kenakan esok.
"Yang ini?" Reyna kembali memperlihatkan bajunya dilayar ponsel yang ia sandarkan di nakas
"Ada yang lainnya nggak?" muka Bimo nampak mendekat dilayar ponsel
"Oh God! Udah tiga kali aku ganti baju. Capek ah!" Reyna merengut "Aku matiin nih" jarinya terulur hendak mematikan sambungan vicall
"Eh ya ya ya deh.. boleh boleh" segalak-galaknya Bimo dia tetap ciut jika melihat istrinya sedang marah
"Kak Bimo besok jemput jam berapa?" tanya Reyna sambil melepas baju pilihan Bimo
"Ehmm... " Bimo tak menjawab, otaknya berhenti menatap pemandangan dilayar yang sudah absen dua hari ini
"Kak..!" Reyna menundukkan badannya memastikan panggilan video masih tersambung
"Eh.. " mata Bimo membelalak lebar melihat dua gundukan sintal makin terlihat jelas dilayar "Dapat flight siang Rey, ya sore aku sampe situ. Pak Man suruh pulang naik bis ya habis antar kamu"
Reyna yang sedang melipat baju kembali terduduk dan mengarahkan ponsel ke wajahnya "Loh Kak Bimo kan landingnya disini jadi jemput aku pake mobil Kak Bimo, ngapain minta Pak Man pulang naik bis"
"Ahhh, aku pikir-pikir mending landing ke kota Mbak May ajalah"
"Kalau gitu aku bawa mobil sendiri deh"
"Eh jangan... nggak boleh. Pokoknya harus diantar Pak Man, lagian aku sudah telepon kok"
"Ish, terserah Kak Bimo deh" menyandarkan ponsel kembali dan beranjak menjauh meraup baju dilantai
"Rey.. " panggil Bimo
"Apa.. " Reyna menoleh ke layar
"Sini.. deketan.. "
Merampungkan memakai celana pendek dan kaosnya lalu naik keranjang
"Kenapa?" melihat kembali ke layar
"Kangen... " Bimo seakan mencium Reyna di layar
"Aku juga... " Reyna mengecupkan bibirnya ke layar
"Sudah dua malam absen Rey, Si Ontong juga kangen Mey Mey"
"Aaaaa!!!!!! " Reyna menjerit kaget dan langsung mematikan sambungan vicall saat diperlihatkan pusaka milik Bimo
😝😝😝
Reuni mengambil tempat disalah satu gedung serbaguna, Bianca telah menunggu Reyna dilobi.
"Hai.. " Reyna memeluk Bianca yang nampak senang melihat kedatangannya
"Akhirnya.. kirain nggak dibolehin datang dimenit-menit terakhir" Bianca menjawil lengannya "Kak Bimo kamu servis gaya apa nih"
"Ish! Kepo kamu ah"
Keduanya tertawa riang memasuki gedung setelah mengisi daftar tamu, mencantumkan nama dan nomor ponsel. Berbincang sesaat dengan salah satu panitia penyambutan yang lumayan dekat dengan keduanya semasa kuliah.
Radit salah satu anggota Geng Somplak melambaikan tangan ke arah mereka.Bianca dan Reyna mendekati meja persegi itu, yang telah ada tiga orang pria disana, menyalaminya satu persatu.
Reyna mengambil kursi paling ujung disebelah Bianca, kursi didepannya kosong
"Baru mulai kan?" Bianca bertanya
"Iya" jawab Radit "Hai Rey, apa kabar. Ngilang kamu sejak lulus"
"Eh iya" jawab Reyna pendek
"Masih kerja di perusahaan Mama Bianca?"
"Enggak.. sudah diboyong pergi sama suaminya" Bianca menimpali
"Oh suami kamu pindah tempat kerja?"
Reyna menatap Bianca, ia tak tahu sejauh apa Radit mengetahui kehidupannya setelah lulus kuliah
"Hush, kepo amat sih kamu Dit" Bianca menatap tajam Radit yang duduk didepannya
Suara MC di pengeras suara menghentikan obrolan mereka. 30menit acara bergulir, meja Geng Somplak yang tadinya riuh ramai menjadi sepi saat seorang pria menyapa meja mereka.
"Hai.. "
Kompak mereka berlima menoleh keasal suara "Pras!"
Pria itu menyalami satu persatu dan mengambil duduk di kursi kosong depan Reyna
"Jadinya datang kamu Pras" Radit melirik pria disampingnya
"Ehmm.. iya. Lagi nggak ada acara, nggak ada salahnya aku datang, sehat semua kan? " menatap satu persatu personel dimeja
Reyna menunduk saat tatapan Pras lama terhenti untuknya
"Hai Rey, lama tak jumpa" sapanya "Sibuk apa sekarang?"
"Sibuk ngabisin uang suaminya" cetus Bianca
"Oh ya ya, aku lupa kamu sudah menikah" tawa yang nampak dipaksakan keluar dari mulut Pras
__ADS_1
"Rey, temeni aku ambil minum yuk" Bianca menarik lengan Reyna
"Eh iya iya" Reyna terpaksa bangun karena merasa lengannya dicubit kecil
---
"Bi.. meja kita disana" tarik Reyna saat Bianca salah arah
"Kita duduk ditempat lain yuk, berisik banget disitu"
"Oh" Reyna menurut saja tangannya ditarik-tarik mengelilingi gedung
"Shit.. penuh semua!" Bianca beringsut dan mengajak Reyna duduk kembali bersama kawanan Geng Somplak. Reyna ia dorong menduduki kursi miliknya tadi.
"Eh Rey, ternyata Pras kerja satu kota loh sama kamu" kali ini Bobi anggota Geng Somplak membuka suara
"Oh ya?" Reyna menatap Pras "Kerja dimana?"
"Di logistic, baru satu tahunan" jawab Pras
"Tahu gitu tadi kalian berangkat bareng, irit bensin" Bobi kembali menimpali
"Heh, suami Reyna galak tauk!" Bianca mendelik ke arah Bobi
"Iyaaa percaya.. beda nasib sama suami kamu yang punya istri galak" Bobi memonyongkan bibirnya
.
.
.
Reyna dan Bianca belum selesai menikmati hidangan, tinggal mereka berdua. Para lelaki sudah bubar membaur dengan para alumni lainnya.
"Bi.. aku tinggal ke toilet ya" Reyna menepuk bahu karibnya
"Kemana Rey" tanya Radit saat mereka berpapasan
"Toilet, kamu temeni Bianca. Kasihan sendirian"
Radit berjalan tergesa mendekati Bianca
"Berani kamu Dit bohongi aku!"
"Sumpah Bianca, aku nggak tahu kalau Pras akan datang! Jelas-jelas dia bilang tak akan datang"
"Bohong!" Bianca menuding wajah Radit
"Sumpah! Nih kamu lihat sendiri chat aku sama Pras" Radit menyodorkan ponselnya, beberapa kali Radit memastikan apakah Pras akan datang dan dijawab tidak olehnya.
"Sudahlah Bi. Paling Pras cuma penasaran ingin sekedar bertemu. Toh dia sudah tahu Reyna sekarang ini istri orang"
"Heh! Kamu nggak lihat apa tatapannya. Masih sama kaya dulu Dit!"
"Hih, Reyna polosnya kebangetan masih nggak paham saja"
"Aku yakin Reyna sebenarnya bisa menerka tapi karena Pras nggak pernah berusaha jujur soal perasaannya jadi Reyna memilih tak peduli"
"Gawatnya lagi tadi Bobi malah spoiler kalau Reyna satu kota sama Pras. Damn!" Radit menarik rambutnya
Keduanya terdiam saat Reyna kembali mendekat ke meja.
"Ngobrol apaan, seru amat" tanyanya
"Nggak, nggak apa-apa"keduanya kompak menggeleng
---
Acara hampir sampai pada puncaknya, Reyna dan Bianca meninggalkan meja berbaur dengan alumni wanita yang belum sempat mereka sapa.
Ponsel ditangan Reyna berdering
" Bi.. aku jawab Kak Bimo dulu, disini bising. Kamu balik meja sendiri ya" Reyna menepuk bahu Bianca dan berjalan ke lobi
---
"Ya Kak?"
"Aku sudah mau sampai, kamu tunggu dimana?"
"Tunggu didekat pintu keluar parkir saja Kak, aku pamit dulu sama anak-anak"
"Eh tunggu, aku kan juga mau kenal teman-teman kamu. Boleh ikut masuk kan?"
"Ehm boleh boleh. Ya sudah aku tunggu dilobi"
---
"Mau Pulang?" suara serak khas Pras terdengar ditelinga Reyna
"Oh, nunggu suami aku, mau ikut masuk antar aku pamit sama anak-anak. Kamu mau pulang?"
"Ehm, masih nanti"
"Ya sudah masuk saja dulu"
Pras hanya mengangguk dan berlalu
__ADS_1
.
.
.
Bimo nampak gagah dengan kaos stripe lengan panjang berwarna abu hitam yang ia gulung hingga selengan dipadukan jeans warna hitam.
"Ih gantengnya suami aku. Kelihatan masih kepala tiga" Reyna memeluk Bimo hangat
"Eh, aku kan memang masih kepala tiga" Bimo mendelik
"Kak, kalau rumusnya 36 itu round up jadi empat kosong" Reyna terkikik "Yuk masuk trus cabut"
Reyna mengenalkan personel di mejanya, Bimo mendengus ketika teman dekat istrinya mayoritas adalah pria. Lengan Bimo mengamit lebih erat pinggang Reyna, mengukuhkan kepemilikannya.
"Teman-teman aku pamit dulu ya" Reyna memeluk Bianca erat "Sorry aku cabut dulu. Kamu sendirian nggak apa-apa ya"
"It's okay. Bentar lagi juga selesai kok" Bianca menepuk punggung Reyna
Bimo kembali merengkuh Reyna dalam pelukannya "Sorry Bi, aku culik istri aku dulu. Sudah absen 2 malam soalnya. Pahamkan?" kecupan Bimo mendarat di pipi Reyna
Reyna menyikut perut suaminya, Bianca senyum-senyum kecut , sedangkan Adit menggigit sedotannya hingga pecah dan sepasang mata pria disuatu sudut menatap sendu.
.
.
.
Bimo menyerah ketika Reyna bersikukuh untuk menginap dirumah May, alasan badannya lengket dan gerah ingin segera mandi dan tidur.
Bimo menggeser tubuhnya saat Reyna naik ke ranjang kayu beralasakan busa dikamar sempit tempat dulu Reyna tinggali
"Sempit ya Kak" Reyna menoleh sambil mengacak rambutnya yang basah dengan handuk
"Nggak apa-apa, biar tambah mesra" Bimo mengelus punggung istrinya "Ponsel kamu berisik banget banyak pesan masuk"
Reyna mengambil ponselnya dan terbelalak melihat puluhan pesan masuk
"Dari siapa?" tanya Bimo selidik
"Group alumni, tadi aku accept waktu jalan kesini. Anggotanya pada kirim foto acara tadi"
"Mana lihat"
Reyna memberikan ponselnya pada Bimo dan menyapukan lotion ke tubuhnya
"Nih ada pesan masuk lagi"
"Dari group?" tanya Reyna tak peduli
"Bukan, nomor baru"
Reyna merebahkan tubuhnya, mengambil ponsel dari tangan Bimo dan membuka pesan berisi gambar tersebut.
Tanpa caption apapun, terlihat semua personel Group Somplak minus Bobi
"Ini siapa?" tunjuk Bimo pada pria yang nampak tak acuh dengan kamera justru pandangannya tertuju kearah Reyna
"Oh, itu Pras"
Bimo mengambil alih ponsel dan melihat seksama "Seperti pernah lihat, dimana ya" gumamnya
"Bisa jadi, katanya dia kerja di kota kita"
"Ini nomornya?"
"Nggak tahu" Reyna mengedikkan bahu "Udah ah ayuk tidur ngantuk" Reyna meletakkan ponselnya dibawah ranjang
"Tega kamu Rey mau tidur. Si Ontong sudah libur dua hari ini" Bimo buru-buru merayap keatas tubuh Reyna
"Ya ampun Kak, besok aja dirumah. Malu ah dirumah orang"
"Please... " Bimo mulai menangkupkan dua telapaknya ditempat favoritnya
"Janji jangan berisik!" Reyna menempelkan jarinya kemulut Bimo
Senyuman lebar dan mata berbinar menandai dimulainya kegiatan asik masyuk dua insan itu.
Dug Dug Dug
Suara ranjang kayu berbentur tembok nyaring terdengar
"Kak.. achhh,, ishhh" Reyna menahan perut Bimo dan menahan tawanya
"Berisik ya" Bimo memejamkan mata senewen "Turun" perintahnya
"Ogah ah, dibawah punggungku sakit semua" Reyna menggeleng
"Bukan.. ayo turun dulu" Bimo menepuk bokong istrinya pelan
Kasur busa itu berpindah kelantai, dihempaskan di sisa ruang dikamar itu, terasa dipaksakan tapi sudahlah apa daya jika nafsu sudah diubun-ubun. Semak belukar pasti juga diterjang.
🥰🥰🥰
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1